LOGINSaat diantar pulang oleh Ihsan pun, Eca masih belum bisa memahami semua pembicaraan hari ini.Bukan apa-apa, tetapi rasanya seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.Baru kemarin ia mati-matian mencari cara mempertahankan rumahnya. Sampai membuang harga diri memaksa Ihsan menikahinya, meski pria itu menolaknya mentah-mentah.Sekarang?Ia sudah punya calon suami. Bonusnya sudah direstui juga. Bahkan … sudah dijadwalkan dilamar minggu depan.Minggu depan, bukan belan depan. Memang terkesan terlalu mendadak. Ia juga tak habis pikir.Eca mengembuskan napas panjang di atas motor.Angin sore menerpa wajahnya, tetapi tidak cukup untuk mendinginkan kepalanya ingin meledak saja rasanya.Katanya lagi, pernikahan akan dibuat besar-besaran dengan warga satu desa, bahkan dari luar desa sekalipun.Untuk satu ini, Eca tidak heran karena keluarga Ihsan cukup terpandang. Pasti banyak koneksi dari luar desa.Masalahnya, mengapa harus palai hiburan dari artis ibu kota segala coba? Eca langsung memejam
Eca masih menunduk diam. Detik demi detik terasa begitu berat untuk dilewati. Sunyi di ruang tamu itu seperti menekan dadanya pelan-pelan.Andai bisa, Eca bahkan ingin menghilang saja sekarang juga.Tatapan ibunya Ihsan yang sejak tadi tertuju padanya membuat nyalinya seketika ciut. Dulu, ia begitu bebas keluar masuk rumah ini tanpa beban. Makan di dapur tanpa permisi pun sering dilakukan, tetapi orang tua Ihsan tak pernah marah padanya.Sekarang? Berdiri di sini saja rasanya tidak pantas.“Mamah … Papah duduk dulu. Biar enak ngobrolnya.” Suara Ihsan memecah ketegangan. Ia menuntun kedua orang tuanya ke sofa.Eca diam saja, masih belum berani mengangkat kepala, menatap kedua paruh baya itu dengan terang-terangan.Sampai kemudian, ia tersentak kecil saat Ihsan menyentuh lengannya, memerintah untuk duduk dari gerakan wajahnya.Eca pun duduk, Ihsan ikut duduk di sebelahnya. Tanpa aba-aba, pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya, sontak membuat tubuh Eca menegang.Astaga. Apa yang pria
Setelah sepakat dengan perjanjian nikah yang mereka buat, Eca dan Ihsan langsung menuju rumah pria itu. Eca terpaksa dibonceng menggunakan motor trail Ihsan yang joknya sudah sempit, tinggi lagi. Benar-benar tidak manusiawi untuk ukuran dirinya yang cuma 158 cm. Kakinya sampai nyaris menggantung.Jantung Eca sampai tak benar-benar tenang sepanjang perjalanan dibonceng Ihsan. Deg-degannya minta ampun. Padahal, harusnya biasa saja. Toh, mereka sudah saling kenal sejak kecil. Masalahnya, Ihsan sekarang bukan Ihsan yang dulu. Dia bukan lagi anak laki-laki pendiam yang sering dibully dan diam saja. Sekarang, ah … entah sejak kapan, dia menjelma jadi pria tinggi, rapi, dan … ya ampun, ganteng.Bahkan, dengan sangat terpaksa, dalam hatinya Eca mengakui satu hal yang begitu menyebalkan, kalau dilihat-lihat Ihsan memang lebih tampan dari mantannya.“Ck!” Eca mendecak pelan, cepat-cepat menggeleng, berusaha menepis pikiran konyol itu. ‘Ngapain dibandingin, sih!’Angin pagi menjelang sian
Malam itu, Acha hampir tak benar-benar tertidur. Matanya memang sempat terpejam, tetapi isi kepalanya malah semakin semrawut, memaksanya untuk terus membuka mata. Keputusannya menikah dengan Ihsan memang terlihat seperti solusi paling masuk akal saat ini. Namun, apakah itu benar-benar keputusan terbaik? Eca menghela napas pelan. Ia yang kini tidur miring beralih terlentang, menatap langit-langit kamarnya beberapa saat. Bagaimana kalau ini justru membawa masalah baru untuknya? Belum lagi kejadian sore tadi membuatnya was-was sendiri, khawatir orang-orang suruhan Dasim masih mengincarnya. Tubuhnya refleks menegang setiap mendengar suara kecil dari luar. Entah itu bunyi genteng, cicak jatuh, atau ranting tersenggol angin. Eca menarik selimutnya tinggi-tinggi. Matanya memejam kuat-kuat. Sepertinya … ka memang harus segera menikah. Setidaknya, itu bisa jadi tameng agar Juragan Dasim tak lagi mengganggunya. “Dasar tua bangka nggak tahu diri …,” cecar Eca. Ia sungguh kesal s
Acha melongo beberapa detik, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia buru-buru mematikan mesin motor, seolah ingin memastikan pendengarannya memang tidak salah. Matanya menyipit penasaran. “Gimana? Tadi bilang apa?”“Menikah sama saya.” Ihsan menjawab tegas.Hening. Padahal, kalimat itu sudah terdengar begitu jelas, tetapi Eca masih mencoba mencernanya.Sebelum hari ini datang, ia yang lebih dulu merendahkan harga dirinya, tak tahu malu ngebet minta dinikahi, tetapi hasilnya apa?Ihsan menolaknya. Ya, dia ditolak mentah-mentah.Sekarang, tiba-tiba pria itu yang justru mengajaknya menikah.Jujur saja, Eca tak tahu harus bahagia atau bersikap seperti apa. Rasanya, perubahan ini terlalu mendadak. Mengapa Ihsan pada akhirnya mau menikahinya?Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban. Eca lalu turun dari motornya, mendekati Ihsan.Tanpa pikir panjang, tangannya diulurkan begitu saja, menyentuh kening Ihsan. “Kamu sakit?” tanyanya polos. Alis Ihsan langsung be
Tubuh Eca terdorong ke depan. Namun, sebelum sempat kehilangan keseimbangan, genggaman kasar di lengannya mendadak terlepas.Bugh! Salah satu pria itu tiba-tiba tersungkur ke samping.Eca terbelalak kaget, bahkan sebelum sempat ia mencerna apa yang terjadi, pukulan lain yang lebih keras dan cepat datang tanpa jeda.Bugh! Bugh!Pria yang satunya ikut terhuyung mundur, lalu jatuh menimpa tubuh temannya.Di hadapan Eca, seorang pria berhelm berdiri dengan napas sedikit memburu.Tanpa banyak bicara, ia kembali melangkah maju. Bogem mentah berikutnya mendarat telak, membuat salah satu dari mereka mengerang kesakitan.Gerakannya tegas dan terukur, seolah tahu persis ke mana harus menyerang.Eca hanya bisa terpaku di tempatnya.Jantungnya berdebar kencang, tak hanya takut, tetapi juga karena apa yang dilihatnya sekarang benar-benar di luar bayangannya. Tadinya, ia hanya berniat menenangkan diri di pos ronda ini, ternyata bahaya justru mengintai.Pria itu lalu meraih helm di kepalanya saat
Eca masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah jalan setapak yang tadi dilalui Ihsan sampai sosok itu benar-benar menghilang dari pandangan. Suasana berubah sunyi. Hanya angin sore yang berembus pelan, menggerakkan ujung rambut Eca yang terlepas dari ikatan. Namun, yang terasa di dadanya justru s
Pertanyaan Eca membuat langkah Ihsan benar-benar terhenti, bahkan pria itu sampai berbalik.Keningnya sedikit terangkat saat menatap wajah gadis di hadapannya, seolah sedang menimbang sesuatu, atau … justru menganggapnya aneh.Beberapa saat, hanya suara angin yang berhembus pela
Setelah berpikir cukup lama, Eca akhirnya benar-benar memutuskan untuk menemui Ihsan lagi.Hari sudah sore ketika motor Beat Street andalannya melaju menyusuri jalan desa. Angin menerpa wajahnya, tetapi tak sedikit pun mampu menenangkan isi kepalanya yang terasa penuh.Sepanjang perjalanan, pikiran







