Mata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspresi serius yang hampir lucu di wajah selugu itu, seolah tahu bahwa ia sedang diminta pergi.Evalia menahan helaan napas, hatinya luluh melihat wajah polos itu. “Sayang,” ucapnya lembut, berusaha tersenyum. “Kamu main dulu di ruang bermain, ya? Mami mau bicara sebentar sama Nenek.”Dia tahu anaknya mencintai ruang bermain yang Marni siapkan dengan sepenuh hati… rak buku kecil, balok kayu, puzzle warna-warni, dan kotak berisi mobil-mobilan mungil. Semua dipilih Marni dengan cermat agar Rafael merasa betah di rumah Jepara yang hangat itu.
Last Updated : 2026-04-20 Read more