Jemari besarku melingkari pinggang rampingnya yang licin oleh peluh, menariknya kasar menjauh dari kerumunan pria yang masih terengah. Di dunia virtual ini, aku adalah penguasa mutlak. Cukup dengan satu hentakan niat, lautan manusia yang tadi mengimpitnya langsung terbelah, memberikan jalan lapang menuju deretan kursi penumpang yang kosong di ujung gerbong. "Minggir. Berikan tempat untuk pelayanku." Suaraku menggelegar, namun para pria itu hanya menunduk patuh, mundur dengan gerakan mekanis yang sempurna. Aku menjatuhkan bokongku di atas kursi beludru biru yang dingin, lalu dengan satu tarikan kuat, kupaksa Rahmi duduk di atas pangkuanku, menghadap ke arahku. "Kenapa kau bergetar begitu hebat, Rahmi? Kau kedinginan?" Rahmi melingkarkan lengan mungilnya di leherku, memelukku seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas. Isakannya terdengar parau, menyusup di antara deru mesin kereta yang melaju kencang. "Aku takut, Tuan... mereka... mereka semua men
최신 업데이트 : 2026-04-12 더 보기