Mag-log in"Ini beneran 10 kali lipat, kan?" Pesan singkat dari akun bernama Tejo itu berkedip di layar ponselku. Aku merogoh saku, menarik dompet kulit hitamku, dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan yang masih kaku. Warna merah menyala itu tampak begitu kontras di bawah lampu kamarku. Aku menjepretnya dengan kamera ponsel, lalu mengirimkannya langsung ke kolom obrolan aplikasi ojek online berwarna hijau itu. "Masuk sekarang. Jemput dia, dan uang ini bakal buat lu." Ikon sepeda motor kecil di peta digital itu sempat diam beberapa detik. Kemudian, dia perlahan berbelok, menembus batas gang sempit yang baru saja dihindari dua pengemudi sebelumnya. Detak jantungku berpacu lebih cepat. Aku menatap layar tanpa berkedip. Menit pertama berlalu dalam keheningan yang mencekam. Menit kedua, ikon itu masih bergeming di tengah labirin pemukiman kumuh bantaran Ciliwung.
Dengkur kasar yang saling bersahutan memecah keheningan malam di ruangan kayu yang pengap itu. Kelima preman itu tumbang bergelimpangan di atas lantai papan kusam, tertidur pulas dengan sisa-sisa keringat dan kepuasan yang menguap dari tubuh kekar mereka.Di tengah-tengah lingkaran daging itu, Iis terkapar pasrah dengan tubuh polos yang dipenuhi bercak putih yang perlahan mengering. Aku mengusap daguku, menikmati pemandangan kacau itu dari dekat dengan kemampuan kacamata ini."Bangun, Iis. Cukup main-mainnya untuk malam ini."Sentuhan tidak kasat mata dari sistem monitor menepuk lembut pipinya yang merona merah. Iis tersentak kecil, kelopak matanya yang sayu terbuka perlahan, menatap hampa ke langit-langit langit ruangan."Tuan Bima... hhh... tubuhku rasanya remuk...""Cepat pakai pakaianmu sebelum binatang-binatang itu terbangun dan menggunakan seluruh lubang tubuhmu lagi sampai pagi."Iis mengangguk lemah. Dia menyeret tubuhnya yang gemetar, merangkak di antara kaki-kaki kokoh para
Pintu gerbong KRL terbuka dengan desisan hidrolik yang berat di Stasiun Manggarai. Arus penumpang yang tak sabar meluap keluar, namun Iis tetap bergeming di pelukan Jarwo. Tubuhnya lunglai, seolah tulangnya telah berubah menjadi bubur akibat rentetan klimaks yang menghantam sarafnya sepanjang perjalanan dari Bogor. Keringat membasahi pelipisnya, helai-helai rambut menempel di pipinya yang merona merah padam. "Ayo, Neng. Jangan manja di sini. Kita sudah sampai di rumah baru kamu." Jarwo menyeringai, lengannya yang kekar melingkari pinggang Iis dengan paksa. Dia praktis menyeret wanita itu keluar dari kereta. Jaket bomber hitam Iis tersingkap, memamerkan perut bawahnya yang putih dan sisa-sisa bercak basah di rok tipisnya yang kini berantakan. "Lemas... Mas Jarwo... tolong..." "Tahan sebentar. Teman-teman saya sudah lapar melihat kamu seperti ini." Empat anak buah Jarwo membuat barikade di sekeliling mereka, memasang wajah bengis yang membuat penumpang lain buru-buru menying
Kereta Commuter Line tujuan Jakarta Kota itu tersentak hebat saat meninggalkan peron Stasiun Bogor. Tubuh-tubuh manusia di dalamnya terayun mengikuti hukum inersia, saling bertumbukan tanpa permisi. Iis terlempar ke depan, dadanya yang hanya terbalut jaket bomber tipis menghantam dada bidang Jarwo yang sekeras papan kayu. Bau keringat masam dan tembakau murah dari kaus Jarwo menyengat indra penciumannya, namun sistem di dalam tubuh Iis mengubah rasa mual itu menjadi lonjakan adrenalin yang memabukkan. "Eits, hati-hati, Neng. Licin ya lantainya? Sini, Mas Jarwo pegangin biar nggak jatuh lagi." Jarwo tidak sekadar memegang. Lengan besarnya yang dipenuhi tato ular itu melingkar di pinggang Iis, menariknya begitu rapat hingga tak ada celah udara di antara mereka. Di belakang Iis, salah satu anak buah Jarwo yang berambut jabrik menempelkan tubuhnya dengan sengaja. Iis merasa terjepit di antara dua gunung daging yang panas. "Mas... sesak... tolong jangan terlalu rapat..." "Sesak itu e
"Sekarang, keluar. Jangan biarkan mereka menunggu pemandangan indah ini lebih lama lagi."Iis mengembuskan napas panjang yang gemetar, membuat jaket bomber hitamnya sedikit mengembang sebelum mengempis kembali di atas dadanya yang polos. Jemarinya yang dingin menarik gagang pintu bilik toilet dengan gerakan ragu, lalu dia melangkah keluar yang mulai ramai.Indikator virtual berwarna merah menyala berkedip tepat di atas kepalanya, angkanya tertancap di level maksimal. Gairahnya sudah mendidih, dipicu oleh kesadaran bahwa dia tidak mengenakan apa pun di balik kain tipis itu."Tuan... rasanya sangat dingin... dan terbuka... Aku merasa semua orang bisa melihat menembus pakaianku.""Itu karena kau memang sedang terbuka, Iis. Anggap saja ini panggungmu. Teruslah berjalan."Lantai stasiun Bogor yang kusam berderit di bawah sepatunya. Sore itu, udara terasa pengap oleh ribuan manusia yang berdesakan pulang ke arah Jakarta.Iis berjalan perlahan melewati gerbang tapping elektronik, mencoba tet
"Eva, cukup. Matikan mode monitornya. Aku sudah muak melihat wajah keriput Yudha."Aku menarik kacamata berbingkai emas itu dari wajahku. Kegelapan instan berganti dengan cahaya lampu kamar yang temaram. Napas Monica yang memburu dan suara tamparan Yudha yang memuakkan tadi masih terngiang jelas, namun kini aku kembali ke atas kasur empukku.Keringat tipis membasahi keningku, sisa dari ketegangan menyaksikan pelayanku dihancurkan demi sebuah bukti.'Semua data sudah diamankan, Tuanku. Sedang dalam proses konversi ke format video sinematis tingkat tinggi.'Suara Eva berbisik renyah di dalam benakku, membawa ketenangan yang dingin. Aku meregangkan otot-otot leherku, merasakan denyut kemenangan yang mulai menjalar."Pastikan semua terekam. Terutama saat Alex menyerahkan Monica sebagai upeti. Itu kuncinya."'Tentu saja. Tuan bisa memeriksanya di ponsel sekarang. Sistem baru saja mengirimkan paket datanya.'Ponsel di atas nakas bergetar kuat. Aku menyambarnya, membuka folder tersembunyi ya







