Sekon berikutnya, Wisam menyadari kalau permintaannya mungkin terdengar berat. Demikian, dia segera meralat ucapannya, “Eh, iya, sepertinya agak sulit, ya. Pasti Rama sibuk.” Erin menghela napas. “Nanti Erin coba sampaikan ke Rama, Yah,” jawab Erin seadanya. Erin sebenarnya tidak ingin Rama kembali datang ke rumah ini. Namun, melihat sorot mata ayahnya kecewa, dia tidak tega untuk langsung menolak. “Ya sudah. Sekarang kamu istirahat,” ujar Wisam. “Jangan terlalu memforsir diri, Erin.” Erin mengangguk paham. “Selamat malam, Yah, Bu.” Setelah berpamitan, Erin segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Baru saja dia hendak menjatuhkan tubuh ke atas kasur, denting notifikasi membuat perhatiannya beralih ke ponsel. Tadinya Erin mengira notifikasi itu berasal dari unggahan lowongan pekerjaan. Siapa tahu ada yang mengirim pesan atau meninggalkan komentar lagi pada unggahan tersebut. Namun, setelah dicek, perkiraannya meleset. Ternyata itu adalah pesan dari salah satu temannya.
더 보기