Share

Bab 6

last update publish date: 2026-04-13 23:25:33

“Sekarang kamu ingin memperbaiki semuanya dengan sebuah rumah?”

Namun, Annasya tidak mengucapkan kata-kata itu. Tapi matanya menatap Aldo dengan tajam.

Aldo melihatnya. Wajahnya sedikit berubah. Dia tahu. Dia tahu apa yang Annasya pikirkan. Tapi dia tidak punya keberanian untuk bertanya.

“Aku ... aku akan pergi dulu,” kata Aldo sambil menurunkan Chika ke lantai. “Chika, jaga Ibu ya.”

“Iya Ayah! Chika jaga Ibu!” teriak Chika dengan semangat.

Aldo berjalan ke pintu. Annasya tidak mengantarnya. Dia hanya berdiri di tempatnya, seperti patung yang tidak bisa bergerak.

Di ambang pintu, Aldo berhenti.

“Annasya  …”

Annasya tidak menyahut.

“Aku tahu kamu marah. Aku tahu aku salah. Tapi …” Aldo menarik napas. “Tapi aku tidak ingin kalian hidup susah. Rumah itu untuk Chika. Untuk kamu. Setidaknya, pikirkan dulu, ya?”

Pintu ditutup. Aldo pergi.

Annasya masih berdiri di ruang tamu. Tas belanjaan akhirnya dia letakkan di lantai. Tangannya gemetar.

Sepanjang sore, Annasya tidak bisa berkonsentrasi. Dia mencoba memasak sayur untuk Chika, tetapi garamnya kebanyakan. Dia mencoba mencuci pakaian, tapi sabunnya lupa dia bilas.

“Ibu, Chika laper,” suara Chika menariknya dari lamunan.

Annasya tersenyum tipis. “Iya, Sayang. Ibu siapkan makan ya.”

Dia menyuapi Chika dengan sendok yang tangannya masih gemetar. Chika tidak banyak bertanya. Anak seusianya memang belum mengerti kompleksitas perasaan orang dewasa. Yang Chika tahu: ayahnya datang. Ayahnya membawakannya mainan. Ayahnya bilang akan ada rumah baru dengan taman dan ayunan.

“Ibu, kapan Chika main ke rumah baru?” tanya Chika dengan mulut penuh nasi.

Annasya tidak menjawab.

“Ibuuuu …” Chika merengek.

“Nanti, Sayang. Nanti Ibu pikirkan dulu.”

“Tapi Chika mau ayunan!”

Annasya menghela napas.

Setelah Chika tidur, Annasya duduk di teras. Kunci rumah baru itu masih dia pegang.

“Rumah itu untuk Chika. Untuk kamu.”

Kata-kata Aldo terngiang.

Mengapa sekarang? pikir Annasya. Mengapa baru sekarang Aldo peduli? Mengapa tidak dari awal?

Lalu pikirannya teringat pada Raka. Lamaran Raka. Pesan Aldo yang melarang.

“Tolong jangan terima lamarannya. Dia tidak baik untukmu.”

Sekarang Aldo peduli padanya? Annasya hampir tertawa getir. Aldo yang menghancurkannya. Aldo yang sekarang sok menjadi pelindungnya.

Lalu kenapa dia memberi rumah itu setelah mereka bercerai? Mengapa tidak sejak dulu saat mereka masih hidup sebagai suami istri?

Tanpa Annasya ketahui, di luar kontrakannya, sebuah mobil sedan berhenti. Pengemudi mobil itu mengamati rumah Annasya dari kejauhan.

Pria itu masih duduk di dalam mobilnya, menatap rumah kontrakan Annasya dari balik kaca gelap. Matanya menyipit.

Dia melihat Aldo keluar dari rumah itu sore tadi.

Dia melihat Annasya berdiri di teras dengan tatapan bingung.

“Jadi Aldo sudah mulai bergerak. Tapi maaf, Aldo. Aku tidak akan membiarkanmu merebut Annasya kembali. Dia sudah bukan istrimu. Dan aku tidak akan pernah mengembalikannya padamu.”

***

Pagi itu, Annasya sedang membersihkan teras rumah. Sapu lidi di tangannya bergerak pelan, menyapu daun-daun kering yang berjatuhan. Chika duduk di kursi plastik merah kesayangannya sambil mewarnai gambar kelinci—gambar yang sama yang dia tunjukkan pada Aldo beberapa hari lalu.

Lalu sebuah mobil berhenti di depan pagar.

Bukan mobil sedan hitam yang biasa Raka kendarai. Mobil pick-up. Lebih kecil. Lebih sederhana. Tapi tetap terawat.

Raka turun.

Hari ini Raka berpakaian rapi—kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, sepatu pantofel yang sama saat dia pertama kali melamar. Tapi ada yang berbeda dari ekspresinya. Ada tekad. Ada keseriusan. Ada sesuatu yang membuat Annasya merasa ... ini bukan kunjungan biasa.

Raka membawa sebuah map cokelat. Tebal.

Dia berjalan mendekat. Membuka pagar besi tanpa menunggu dipersilakan—tapi tidak dengan cara yang kasar. Dia hanya ... yakin.

“Assalamu'alaikum, Annasya.”

Annasya menghentikan sapunya. “Wa'alaikumussalam, Raka. Kamu datang pagi-pagi?”

“Ada yang ingin aku bicarakan. Penting.”

Kata penting itu lagi. Dulu Raka mengirim pesan dengan kata yang sama sebelum pertama kali datang melamar. Sekarang dia datang lagi, dengan map di tangan, dengan tekad di mata.

Annasya menghela napas. “Mari masuk.”

Raka sudah melamar sekali. Dan Annasya belum memberi jawaban. Tapi Raka tidak datang untuk menagih jawaban. Dia datang untuk melamar lagi—dengan cara yang lebih serius.

Annasya tidak tahu harus merasa apa. Terhormat? Tertekan? Tersanjung? Atau justru semakin bingung?

Karena di satu sisi, ada Aldo yang tiba-tiba datang dengan kunci rumah baru. Ada Aldo yang melarangnya menerima Raka. Ada Aldo yang mengatakan bahwa Raka tidak baik untuknya.

Tapi di sisi lain, Raka ada di hadapannya. Di depan matanya. Dengan map di tangan. Dengan kesediaan untuk membuka seluruh kartunya.

Mereka duduk berdua di ruang tamu kecil. Chika masih asyik mewarnai di kursinya, sesekali melirik ke arah Raka dan tersenyum.

“Om Raka!” sapa Chika dengan cadelnya.

“Halo, Chika. Kamu lagi mewarnai?”

“Iya! Chika gambar kelinci!”

“Bagus sekali,” puji Raka sambil mengelus kepala Chika.

Annasya menyajikan segelas air putih untuk Raka. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan gelas di atas meja. “Jadi, ada apa, Raka?”

Raka tidak menjawab dengan kata-kata. Dia membuka map cokelat yang dibawanya.

Isinya beberapa lembar kertas. Ada Daftar Riwayat Hidup, Sertifikat sebuah rumah minimalis. Rekening tabungan yang jumlahnya cukup bagi Annasya, serta Surat pernyataan tertulis yang ditandatangani Raka di atas materai.

Annasya menatap semua dokumen itu dengan mata membelalak.

“Raka, ini ... apa ini?”

Raka menarik napas. Matanya menatap Annasya—lama, dalam, tanpa berkedip.

“Aku ingin kamu tahu siapa aku sebenarnya, Annasya. Tanpa embel-embel. Tanpa kebohongan.” Dia menunjuk daftar riwayat hidupnya.

“Aku lulusan SMA. Bukan sarjana seperti kamu. Aku tidak punya gelar. Aku tidak punya pekerjaan tetap. Aku kerja serabutan. Kadang jadi sopir, kadang jadi kuli bangunan, kadang jadi penjaga toko. Penghasilanku tidak menentu. Kadang besar, kadang kecil.”

Annasya tidak bicara. Dia hanya mendengarkan. Raka kembali melanjutkan, dia menunjuk sertifikat rumah.

“Tapi aku punya rumah ini. Rumah minimalis, tidak besar. Dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur kecil. Halamannya tidak luas, tapi cukup untuk Chika bermain. Rumah ini hasil tabunganku selama sepuluh tahun. Tidak ada utang. Tidak ada cicilan. Bersih.”

“Raka …”

“Aku belum selesai, Nasya.”

Raka menunjuk rekening tabungan. “Ini tabunganku. Tidak banyak. Tapi cukup untuk biaya hidup setahun jika tidak ada pemasukan. Dan aku tidak akan berhenti bekerja. Aku akan cari nafkah untuk kalian.”

Terakhir, dia menunjuk surat pernyataan bermaterai. “Ini surat pernyataan dari aku. Isinya, aku berjanji tidak akan mentalak kamu kecuali ada alasan syar'i yang jelas. Aku berjanji akan menafkahi Chika seperti anakku sendiri. Aku berjanji tidak akan menyakiti kamu. Semua sudah aku tanda tangani di atas materai. Kalau aku ingkar, kamu bisa membawaku ke pengadilan.”

Annasya terdiam. Matanya berkaca-kaca.

“Aku memang kerja serabutan, Annasya,” kata Raka dengan suara yang lembut. “Tapi aku sanggup menafkahi kalian. Mungkin tidak mewah. Tapi cukup. Cukup untuk makan. Cukup untuk sekolah Chika nanti. Cukup untuk hidup yang layak.”

Dia menoleh ke arah Chika. Gadis kecil itu masih sibuk mewarnai, tidak menyadari bahwa dua orang dewasa sedang membicarakan masa depannya.

“Chika butuh sosok ayah, Annasya. Dia butuh laki-laki yang bisa menjadi panutan. Bukan laki-laki yang pergi begitu saja.”

Raka tidak menyebut nama Aldo. Tapi Annasya tahu persis siapa yang dimaksud.

“Aku menyayangi Chika,” lanjut Raka. “Sejak dia masih bayi, aku sudah sering menggendongnya. Aku yang mengajarinya berjalan saat kamu sibuk masak di dapur. Aku yang membelikan mainan pertamanya. Aku ... menyayangi Chika seperti putriku sendiri.”

Air mata Annasya akhirnya jatuh.

Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Kenapa aku tidak pernah bertanya-tanya kenapa Raka begitu baik? pikirnya.

“Aku …”  Annasya berusaha bicara, tapi suaranya tersendat.

Bersambung …

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 63

    “Mas … kok lama banget sih?” suara wanita itu terdengar manis.Dia berdiri di samping Aldo, menyentuh lengan Aldo dengan lembut, seperti pasangan yang sudah sangat akrab. “Aku udah nungguin di mobil dari tadi.”Aldo menunduk. Ada rasa bersalah di matanya, tapi bukan pada Tari. Pada Chika.“Maaf, Tari. Aku kangen anakku.”Tari tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dia menoleh ke arah Chika, lalu berlutut menyamakan tinggi badan dengan gadis kecil itu.“Chika, ya?” Tari mengulurkan tangan, mencoba mengelus rambut keriting Chika. “Chika cantik banget. Mirip ibunya.”Chika mundur selangkah. Bukan karena takut, tapi karena dia tidak nyaman.“Halo, Tante,” sapa Chika sopan meskipun matanya tidak lepas dari wajah Tari.“Chika mau main sama Tante Tari, ‘kan? Tante punya boneka barbie di mobil. Yang rambutnya panjang, bisa disisir-sisir. Ch

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 62

    Sore itu matahari masih terik, menciptakan pola-pola cahaya yang bergerak perlahan mengikuti tiupan angin. Beberapa ibu sudah mulai berdatangan menjemput anak-anak mereka. Mobil-mobil terparkir tidak rapi di pinggir jalan, dan suara anak-anak yang berlarian keluar dengan riang memenuhi udara.Chika sedang asyik mewarnai gambar kelinci di halaman belakang daycare. Jari-jari mungilnya yang masih kaku memegang krayon merah, mencoba mewarnai telinga kelinci itu dengan rapi.Wajahnya yang tembam berkonsentrasi penuh, lidahnya sedikit terjulur ke samping, kebiasaan lucu yang membuat para guru di daycare selalu tersenyum setiap melihatnya.“Chika, ada tamu untuk kamu!” panggil Bu Rina dari pintu depan.Chika mengangkat wajah. Matanya yang bulat berkedip-kedip.Chika meletakkan krayon merahnya, merapikan buku gambar yang mulai kusut di sudut-sudutnya, lalu berlari kecil menuju pintu depan. Sandal jepitnya yang bergambar kelinci dibelikan Ayah minggu lalu di pasar, berbunyi nyaring setiap kali

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 61

    “Kamu mengancam saya?”“Saya tidak mengancam, Bu. Saya hanya mengingatkan.”“Kamu tidak tahu siapa saya! Suami saya bisa menghancurkan hidupmu—”“Bu.” Raka memotong, suaranya tetap tenang. “Saya tidak takut dihancurkan. Saya sudah tidak punya apa-apa. Istri saya, anak saya, itu harta saya. Saya akan lindungi mereka dengan cara apa pun.”Ibu Aldo kehilangan kata-kata.Di belakang Raka, Annasya akhirnya melangkah keluar. Tangannya meraih lengan Raka.“Bu,” panggil Annasya, suaranya pelan. “Apa yang Ibu cari di sini? Aldo? Aldo tidak ada di sini.”“Aku tidak mencari anakku. Aku mencarimu!”“Ada apa, Bu? Apa yang saya perbuat?”Ibu Aldo menatap Annasya dengan mata yang penuh kebencian.“Aldo depresi! Dia tidak mau makan, tidak mau keluar rumah, tidak mau bicara pada siapa pun! Dia hancur karena kamu, Annasya! Kamu yang menghancurkannya!”Annasya terdiam. Dadanya terasa sesak tetapi bukan karena dia masih cinta pada Aldo. karena dia tidak pernah ingin menghancurkan siapa pun.“Bu, saya tid

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 60

    Malam itu, setelah Via pergi, suasana di rumah kecil itu kembali tenang. Chika sudah tertidur di kamarnya dengan boneka kelinci di samping bantal. Mulut mungilnya terbuka sedikit, napasnya teratur dan damai, tidak tahu bahwa dunia orang dewasa di luar kamarnya sedang berusaha keras untuk tetap tenang. Annasya baru saja selesai membereskan gelas-gelas bekas teh dan piring pisang goreng. Raka duduk di kursi ruang tamu, matanya menatap Annasya yang bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan langkah ringan.“Mas belum tidur?" tanya Annasya sambil mengelap meja kayu tua di depan Raka."Belum. Masih mikirin besok.""Besok?""Besok aku mulai cari kerja lagi. Kaki udah enakan. Nggak enak terus-terusan di rumah. Kamu yang cari nafkah sendiri."Annasya berhenti mengelap. Dia menatap Raka. "Mas, nggak usah buru-buru. Kaki Mas masih belum sembuh total. Istirahat dulu.""Udah hampir dua bulan, Annasya. Cukup lama.""Tapi—""Say

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 59

    Raka tidak peduli dengan setelan jas mahal yang mungkin terkena air teh. Dia tidak peduli dengan tamunya yang masih berdiri di pintu. Dia hanya peduli pada Annasya.Wajah istrinya yang pucat, matanya yang kosong, tangannya yang menggenggam erat ujung jilbab.Raka meraih tangan Annasya, memeriksa apakah ada luka akibat pecahan kaca. “Sakit? Ada yang kena?” Suaranya bergetar.Annasya menggeleng. Masih diam. Matanya masih menunduk menatap lantai.“Sayang ... lihat aku.”Annasya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Raka. Ada ketakutan di sana.“Aku ... nggak sengaja, Mas,” bisik Annasya, suaranya pecah.“Nggak apa-apa. Cuma gelas. Nanti bisa beli lagi.” Raka mengusap pipi Annasya yang ternyata basah. Annasya menangis diam-diam. Tanpa suara.Raka memeluknya. Memeluk istrinya di tengah ruang tamu yang lantainya penuh pecahan kaca dan genangan teh hangat. Dia tidak peduli bahwa

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 58

    Perjalanan pulang dari daycare terasa lebih sunyi dari biasanya. Chika duduk di kursi belakang mobil Bastian dengan boneka kelinci di pangkuannya, sesekali melirik ke luar jendela, sesekali menatap ibunya yang duduk di kursi depan dengan tatapan penuh tanda tanya.Gadis kecil itu tidak mengerti mengapa hari ini ayahnya tidak menjemput mereka berdua. Biasanya Raka selalu datang sendiri, meskipun dengan langkah pincang, meskipun dengan kruk yang kadang membuatnya terlihat lelah.“Bu,” panggil Chika pelan.“Iya, Sayang.”“Kok bukan Papa yang jemput Ibu?”Annasya menoleh ke belakang. Dia tersenyum meski sedikit dipaksakan, tapi cukup untuk menenangkan Chika. “Papa sedang ada urusan. Kita tunggu di rumah.”Chika mengangguk meskipun matanya masih bertanya-tanya. “Urusan apa, Bu?”“Urusan Papa. Nanti Papa jelasin sendiri.”Chika tidak bertanya lagi. Dia kembali as

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 42

    Malam itu, Annasya dan Raka selesai makan malam bersama. Suasana di rumah minimalis mereka terasa hangat.Lampu ruang tamu yang redup, aroma masakan yang masih tersisa di dapur, dan suara sendok yang sesekali tercebur ke dalam gelas teh hangat.Chika sudah kembali tertidur di kamarn

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 5

    “Lamaran aku, Annasya.”Annasya menunduk. Dia memainkan sendok nasi di piring tanpa benar-benar menyuap ke mulut.“Aku ,... masih berpikir, Raka.”Raka mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku tidak terburu-buru.”“Tapi …” Annasya menggigit bibirnya. “Ada satu hal yang mengganjal.”“Apa?”“Aldo mengirimiku

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 2

    Tiga bulan setelah perceraian, Annasya tinggal di rumah kontrakan kecil di ujung kota. Satu kamar tidur. Dapur mungil yang menyatu dengan ruang tamu. Kamar mandi dengan pintu yang kadang macet. Tapi cukup. Cukup untuk dia dan Chika.Nafkah anak diberikan Aldo pas-pasan. Tepat nominal, tidak pernah l

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 1

    “Aku bosan, Annasya.”Suara Aldo menggema di ruang tamu rumah mereka. Rumah sederhana dengan cat krem yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Rumah yang dulu Annasya rawat dengan penuh cinta—mengelap lantai setiap pagi, menata bunga plastik di vas, memastikan tirai selalu bersih meski hanya dicuci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status