Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di kagetkan dengan ayam, sekarang di tambah ada sapi di halaman belakang rumahnya. MUUUUUU Dan sapi itu malah dengan santainya memakani rumput di halaman belakang. Seakan mengejek Rei dan nasib jeleknya. "Ah, nasib, nasib." gumam Rei memandang kosong ke arah langit. Pertemuannya dengan tuan Powell bukannya menjelaskan alasan kenapa neneknya mewariskan rumah ini padanya. Malah membuat kepala Rei pusing dengan cerita masa lalu nenek Jeanne, dan kisah bagaimana beliau bisa jadi milyader, dengan menipu dan meniduri pria kaya. Mana peduli Rei dengan kisah nenek tua bangka itu, dia cuma ingin tau. Kenapa dari empat anak and sebelas cucu nenek Jeanne, Rei yang mendapatkan rumah ini. Di t
Read more