แชร์

One

ผู้เขียน: Haze Hales
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-21 18:00:34

“Hei anak haram, tuan Powell memanggilmu.” sinis Olivia sambil merengut.

“Hah?" Rei yang baru saja selesai mrasakan bulu romanya meremang seperti lampu disko menoleh dengan wajah melongo.

Paman dan bibinya sudah bubar tratur menuju mobil masing-masing. Hanya Olivia yabg misg tersisah karena bibi Bertha masih bersandiwara sambil menangis dan meraung. Seakan dia yang paling kehilangan sosok seorang ibu. Menjenguk nenek saja ogah-ogahan, paling datang meminta uang setelah itu menghilang layaknya setan.

Lucu kan.

Rei ragu-ragu mulai melangkah menjauh, sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan tadi itu cuma halu, atau dia kurang kopi.

Dan ya, tidak ada siapapun di sana. Mungkin cuma halu.

Ya, cuma halusinasi saja.

Rei menghela nafas, mempercepat langkahnya menuju mobil di mana bibi dan pamannya sudah menunggu. Tetapi sebuah tangan menghentikan langkahnya.

"Rei."

Ia menoleh, mendapati pengacara neneknya menahan puncaknya.

"Tuan Powell?" Rei berbisik kaget.

"Ikut denganku. Mobil pamanmu penuh." ucap tuan Powell tanpa menunggu jawabannya. Pria itu sudah melangkah lebih dulu menuju mobil pribadinya.

Kaget? Tentu saja.

Bukan hanya dia, bibi Bertha dan Olivia terlihat melongo dari jendela mobil, melihat tuan Powell menghampirinya. Antara kaget, marah dan curiga. Karena pengacara neneknya terkenal tegas dan dingin. Tuan Powell bukanlah pria yang dapat di beli dengan uang. Dia telah mengabdi pada nenek Jeanne semenjak dia lulus dari jurusan hukum. Nenek Jeanne membiayai pendidikannya hingga dia lulus dengan nilai sangat memuaskan.

Dan tuan Powell memilih mengabdikan dirinya sebagai pengacara nenek Jeanne begitu dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan hukum terkemuka.

Rei melirik ke arah bibi Bertha yang wajahnya telah memerah. Marah mungkin, tapi itu hukan urusannya. Ia membung muka, berjalan menuju mobil tuan Powell. Pintu depan di sebelah pengemudi sudah di buka. Rei masuk tanpa banyak protes. Tidak bisa juga karena tuan Powell sudah berdiri sambil membukakan pintanya.

Tuan Powell masuk setelah memastikan Rei duduk dengan manis.

Satu per satu kendaraan meninggalkan pemakaman, di mulai dari mobil tuan Powell, di ikuti oleh keluarga besar secara beriringan. Perjalanan kembali ke rumah nenek Jeanne sangat hening, kecuali suara AC dan kendaraan beralalu di luar.

Baik Rei maupun tuan Powell diam, mau membuka percakapan pun Rei merasa canggung. Apalagi dia tidak pernah bertemu ataupun bertegur sapa dengan pengacara nenek Jeanne. Kalaupun bertemu hanya sekilas semasa nenek sakit dan beliau mendiskusikan surat warisnya.

"Nyonya Osbourne meninggalkan warisan khusus untukmu." tuan Powell tiba-tiba saja berujar. Sembari memberikan amplop coklat tanpa melirik sedikitpun.

"hah? oh..." Rei kaget, namun cepat-cepat menata expresinya.

Amplop coklat di pangkuannya terasa ringan, namun ketika lembar kertas itu ia tarik keluar. Sebuah foto terjatuh, beserta sebuah amplop kecil berwarna putih. Sebelah alis Rei menukik naik, foto yang jatuh tadi adalah foto nenek Jeanne semasa mudanya, di sebuah rumah yang tidak ia kenali.

Rumah tersebut telihat layaknya rumah-rumah di kota kecil atau pedesaan Inggris. Nenek Jeanne tersenyum lebar di foto, terlihat polos dan menggemaskan.

"Itu rumah masa kecil Nyonya Osbourne." tuan Powell mulai menjelaskan, "Rumah itu sudah lama tidak di huni semenjak nyonya Osbourne mulai sakit. Biasanya beliau tinggal di sana setiap musim panas hingga musim gugur."

Rei menatap foto di tangannya dengan pandangan tidak tertarik. Untuk apa tuan Powell menjelaskan semua ini padanya, pada orang yang enggan ia akui sebagai cucu. Jangankan memandangnya, milirik ayau mengakui keberadaan Rei ketika acara keluarga saja nenek Jeanne tidak sudi.

"Rumah itu beliau wariskan padamu."

"hah?!" Rei refleks berteriak. "Ah, maaf."

Ia cepat-cepat menundukkan kepala. Tuan Powell bahkan tidak bereaksi sama sekali, pandangannya fokus pada jalanan yang mulai sedikit buram di tutupi hujan ringan.

"Nyonya Osbourne ingin kau yang menempati rumah itu. Beliau berkata, bahwa hanya kau yang akan dengan tulus merawat rumah itu." lanjut tuan Powell.

Yakin sekali nenek tua itu kalau Rei akan merawat rumahnya, kalau Rei menjualnya mana dia tau.

"Kalau kau berfikir akan menjualnya, aku bisa menuntutmu ke pengadilan. Nyonya Osbourne memberi syarat untuk tinggal di sana selama 3 tahun sebelum kau bisa menjualnya."

Ah, nenek lampir sialan.

Tentu saja semua ini bersyarat. Mana mungkin tua bangka itu meneberinya rumah dua lantai dengan pekarangan luas cuma-cuma. Tentu saja ada syaratnya.

"Kenapa aku?"

Tuan Powell melirik Rei sejenak, pandangannya kembali fokus pada jalan.

"Kalau itu, akupun tidak tau. Beliau hanya mengatakan, kalau di antara anak dan cucunya. Hanya kau yang dia percaya bisa bertahan di rumah itu."

Sebentar...bertahan? Kenapa kata-katanya agak ambigu. Apa maksudnya bertahan. Apa warisan ini akan jadi game mematikan, di mana ahli waris lainnya akan mencoba membunuh Rei untuk mendapatkan rumah tersebut.

"Tenang, tidak akan ada yang berani merebut rumah itu darimu." tuan Powell berujar lagi.

Orang ini bisa membaca pikirannya atau bagaimana? Kenapa semua ucapannya sekarang tepat sasaran dengan apa yang sedang Rei pikiran.

Tuan Powell hanya mendengus tipis, sebuah reaksi yang hampir tidak terlihat jika Rei tidak sedang memperhatikan profil samping wajah pria itu dengan saksama. Mobil terus melaju, membelah rintik hujan yang kini mulai turun lebih deras.

"Aku tidak membaca pikiranmu, Rei. Ekspresimu terlalu mudah ditebak. Kau terlihat seperti kelinci yang baru saja dijebak masuk ke dalam kandang harimau." gumam Tuan Powell datar. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam memutar kemudi perlahan. Meninggalkan area pemakaman luas menuju jalan raya utama.

Rei tertawa canggung, suara tawanya terdengar kering. Ia memilih membuat muka setalahnya karena malu juga ketahuan memgomel dalam hati.

Mobil sedan hitam milik tuan Powell terus melaju, membelah jalanan yang semakin lama semakin menjauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Rei menyandarkan kepalanya ke jendela, mengamati tetesan air hujan di jendela, membentuk zig-zag di permukaan kaca. Pikirannya masih kacau. Semua terdengar seperti lelucon buruk yang sengaja disiapkan nenek lampir itu dari liang lahat. Dahi Rei mengkerut, ketika mobil yang ia tumpangi melaju melewati tikungan menuju rumah utama.

"Kita tidak kembali ke kediaman Osbourne?" tanya Rei pelan.

"Tidak. Barang-barangmu sudah ku pindahkan ke rumah barumu. Kita langsung menuju ke sana sekarang," jawab tuan Powell datar.

Sudah di pindahkan? Orang ini membobol apartemennya atau bagaimana. Dan lagi, kneapa mendadak sekali.

"Aku tidak membobol apartemenmu. Aku meminta kunci cadangannya pada pemilik apartemen." jawab tuan Powell lagi. Dan Rei kembali tertawa canggung.

Sial, orang ini benar-benar bisa membaca pikirannya.

"Sekarang? Tapi ini sudah sore. Dan perjalanannya..."

"Tidurlah jika kau lelah, aku melakukannya karena ini perintah nyonya Osbourne."

Rei ingin protes. Tetapi memilih menelan kata-katanya lagi, karena protes pun percuma.

Perjalanan itu terasa sangat panjang. Pemandangan di luar jendela perlahan berubah, dari bangunan beton. Perlahan digantikan oleh deretan pepohonan rimbun dan padang rumput luas. Cahaya matahari juga mulai meredup, karena awan kelabu tebal perlahan mulai menutupi langit. Butuh waktu sekitar satu jam setengah sampai Rei mulai melihat rumah dan lahan luas. Suasananya seperti pedesaan tetapi ada beberapa bangunan tinggi layaknya kota.

Saat mereka mulai memasuki wilayah perumahan, Rei merasa ada sesuatu yang aneh. Rumah-rumah yang mereka lewati tampak sepi, pedesaan Inggris biasanya cukup ramai meski jarak rumah tatangga agak jauh. Tidak ada anak-anak yang bermain di halaman, tidak ada orang yang berjalan-jalan atau sekedar melakukan aktivas, bahkan sapi di sini terlihat depresi.

"Tempatnya cukup sunyi." gumam Rei lebih kepada dirinya sendiri.

Tuan Powell melirik kaca spion, melihat ke arah papan kayu tua di pinggir jalan yang sudah keropos dimakan usia. Papan itu bertuliskan nama sebuah kota yang hampir tidak terbaca: Moorebridge.

"Penduduk di sini sangat menjunjung tinggi privasi, Rei. Mereka tidak suka berkeliaran jika tidak perlu. Terutama saat cuaca seperti ini," sahut pria itu pendek.

Rei memperhatikan seorang pria tua yang berdiri di depan sebuah toko kelontong kecil. Pria itu memakai topi anyaman dan memanggul cangkul, berdiri diam mematung sambil menatap mobil mereka yang lewat. Matanya mengikuti gerakan mobil tanpa berkedip, wajahnya datar tanpa ekspresi. Rei merasa bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu yang salah dengan cara orang itu menatap mereka, seolah-olah mereka adalah tamu tidak diundang.

Setelah hampir setengah jam dalam keheningan, tuan Powell membelokkan mobil ke sebuah jalan setapak yang ditutupi kerikil. Di ujung jalan itu, sebuah gerbang besi tua yang berkarat berdiri tegak. Seakan menolak goyah meski sudah di makan waktu.

"Kita sampai," ucap tuan Powell sambil mematikan mesin.

Rumah megah ala pedesaan Inggris berdiri di depan mereka. Di temani kabut dan ayam yang sedang duduk manja di atas genteng. Rei menelan ludah, menatap rumah dua lantai di hadapannya, beserta ayam-ayam yang berkokok ria di atas.

Mereka turun dari mobil. Udara sore hari di pedesaan Inggris terasa jauh lebih dingin dari yang Rei bayangkan. Bau tanah basah dan aroma kayu busuk menusuk indra penciumannya.

"Ini kuncinya," tuan Powell menyerahkan seuntai kunci kuningan yang berat ke tangan Rei. "Nyonya Osbourne berpesan agar kau langsung masuk ke dalam. Jangan berhenti di teras terlalu lama."

"Kenapa?" Rei mengerutkan kening.

Tuan Powell tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju bagasi, mengeluarkan sebuah koper tua milik Rei yang entah kapan ia ambil. Ia meletakkannya di dekat kaki Rei, lalu kembali ke kursi pengemudi.

"Tunggu! Anda tidak ikut masuk?" seru Rei panik.

"Tugasku hanya mengantarmu. Aku akan datang lagi besok pagi untuk membicarakan dokumen pengalihan nama. Malam ini, nikmatilah rumah barumu."

Tanpa menunggu balasan, tuan Powell memutar balik mobilnya dan pergi meninggalkan Rei sendirian, di depan rumah yang menyerupai setting film horor klasik. Rei berdiri mematung, memegang kunci rumah barunya erat-erat. Suara jangkrik dan ayam yang tadinya bising mendadak berhenti total. Hanya ada suara angin yang bersiul melewati celah-celah atap rumah.

Dengan langkah agak ragu, Rei menyeret kopernya menuju pintu depan. Kayu pintunya berderit ketika ia menapakkan kakinya. Perlahan ia memasukkan kuncinya, memutar dengan penuh kehati-hatian. Pintu terbuka dengan suara deritan keras and lorong yang remang.

Rei merogoh kantongnya, mencari ponsel untuk menyalakan senter. Begitu cahaya lampu ponselnya menyala, ia bisa melihat debu-debu beterbangan di udara. Perabotan rumah ditutupi oleh kain putih besar, membuat Rei salah paham kalau itu setan.

Rei melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Suara dentum pintu yang tertutup membuatnya terlonjak. Ia mencoba mencari saklar lampu di dinding sebelah pintu. Tei meraba dinding seprrti cicak cukup lama, sampai akhirnya menemukan tonjolan di dinding dan menekannya beberapa kali.

Tidak menyala. Nampaknya listrik di rumah ini belum di nyalakan.

"Hah, aku harus keluar mencari kotak pembangkit listriknya," keluh Rei.

Ia mulai berjalan lebih dalam ke arah ruang tengah, mengikuti instruksi di surat kecil yang sempat ia baca tadi. Di surat itu, neneknya menyebutkan tentang sebuah hadiah yang ada di ruang kerja di lantai atas. Rei sebenarnya malas, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ia menaiki tangga kayu yang berderit syahdu di setiap langkahnya.

Setibanya di lantai atas, ia menemukan sebuah pintu kayu jati yang ukirannya sangat detail. Ini pasti ruang kerja nenek. Ketika pintu itu terbuka, aroma buku tua serta parfum menyengat menyerang indra penciumannya. Di tengah ruangan, ada sebuah meja kerja besar dengan sebuah kotak kayu kecil beralas beludru tergeletak begitu saja, seolah memang sengaja diletakkan di sana untuk ditemukan.

Rei mendekat. Di samping kotak itu ada sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan nenek yang rapi namun tajam.

“𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘙𝘦𝘪, 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.”

Rei membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya hanya ada sebuah jam saku tua, jarumnya bergerak berlawanan arah jarum jam. Namun, bukan itu yang membuat jantung Rei hampir copot.

Saat cahaya senternya mengenai bagian dalam penutup jam saku tersebut, terdapat sebuah cermin kecil. Rei melihat pantulan wajahnya di sana, tapi di belakang pantulannya ada sosok lain yang berdiri. Sosok itu mirip nenek Jeanne, dia sedang tersenyum lebar, tepat di belakang bahu Rei.

Rei refleks berbalik ke belakang. Kosong. Tidak ada siapapun. Hahaha, halu lagi. Ya pasti halusinasi.

Ia kembali melihat ke cermin jam saku itu, tertawa canggung. Sosok neneknya masih di sana, bahkan sekarang tangannya seolah-olah hendak menyentuh leher Rei. Di bawah jam saku itu, Rei menemukan selembar kertas lagi yang terlipat rapi. Ia membukanya dengan napas yang memburu.

“𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶.”

Tepat saat ia selesai membaca kalimat itu, sebuah suara bisikan terdengar tepat di telinganya, seolah seseorang sedang berdiri menempel di punggungnya.

"Selamat datang di rumah, anak haram."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eleven

    "Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Ten

    Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nine

    Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eight

    Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Seven

    Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya bangun. Matanya mengerjap malas, memandang gorden seperti hendak mengajar benda tipis itu bertengkar. Rei menark tubuhnya turun dari kasur dengan langkah sempoyongan. Menarik gorden m9tif bunga itu dengan kesal. Cahaya remang-remang matahari pagi di ikutin teriakan ayam menyambut. Otot urat di kepala Rei mendadak berkedut, ayam-ayam di pekarangan rumahnya berkokok lagi. KOK KOK PEK—OGHHH Suara nyanyian cempreng ayan itu terputus karena sendal kelinci pink milik Rei melayang, dan menghantam tenggorokan ayam di bawah. "Diam!" gerutunya kesal. Binatang warna-warni tersebut bubar teratur setelah perjaka tanggung mereka tumbang oleh sendal kelinci pink. Rei merengut kembali, berjalan

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Four

    Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Two

    Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?! Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di pungg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status