Share

Three

Author: Haze Hales
last update publish date: 2026-05-08 18:26:00

Tidak bisa tidur. Hahahaha.

Sial.

Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar.

Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut.

Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Rei lansung lari ke lantai dua dan mengunci dirinya di kamar. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin membanjiri seluruh badan. Tidak peduli jika kasurnya agak berdebu, urusan batuk dan bengek bisa di pikirkan nanti. Dia tidak mau mati konyol hanya karena melihat setan menyerupai neneknya.

Rei baru bisa tidur ketika jam tua di ruang tengah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ia akhirnya tertidur setelah semalaman meringkuk ketakutan dalam selimut. Rei baru bangun ketika matahari sudah mulai tinggi dan ayam-ayam mulai berisk di pekarangan belakang rumahnya.

Butuh waktu setidaknya sepuluh menit bagi Rei untuk mengumpulkan keberaniannya. Ia baru berani keluar dari dalam selimut setelah melihat cahaya pagi di balik celah tirai. Rei mulai menarik dirinya keluar dari kasur untuk membuka tirai dan jendela.

Angin pagi yang sejuk bercampur dengan aroma tanah basah, tai ayam dan sapi menyambut paginya.

Binatang sialan memang.

Ayam-ayam yang entah milik siapa itu berlarian bebas di pekarangan belakang. Dan dua ekor sapi coklat dengan bulu panjang seperti kucing anggora sedang asyik makan rumput di ujung.

"Sapi macam apa itu..." gumam Rei masih setengah sadar. Matanya menyipit agar pandangannya lebih fokus.

Sapi gondrong.

Tiga menit lamanya dia mencoba mencari tau, apakah otaknya masih remang-remang atau sudah terhubung pada kenyataannya. Selama itu dia menatap sapi di pekarangan belakang rumahnya dengan tatapan bodoh.

Rei menghela nafas dan memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Logika di kepalanya sedang bertarung sengit, antara ingin kembali meringkuk di bawah selimut, atau melempar bakiak ke arah gerombolan unggas di bawah sana. Kesal juga lama-lama mendengar mereka berteriak kok kok peokok.

"Kalau mereka tidak pergi, akan ku jadikan daging panggang..." omel Rei merengut kesal.

Baru saja sehari di sini, namum kewarasan Rei sudah di uji bertubi-tubi. Mulai dari orang-orang sawah di pemakaman, lalu sosok neneknya yang seperti tengkorak dengan kulit, sekarang ayam dan sapi di halaman. Rei menatap sekeliling halaman, pertanyaan muncul begitu melihat, kalau ujung halaman belakang rumahnya di pagari kawat berduri yang cukup rapat.

Logikanya, kalaupun ada celah, setidaknya hanya kucing kurus atau musang yang bisa lewat. Tapi dua ekor sapi berbulu lebat itu? Mereka terlihat seperti baru saja keluar dari salon kecantikan khusus ternak, dan entah bagaimana caranya bisa teleportasi melewati kawat berduri tanpa meninggalkan satu pun luka gores di kulit mereka.

"Apa mereka belajar ilmu tembus kawat juga?" gumam Rei masih merengut sebal.

Pandangannya beralih pada gerombolan ayam yang masih sibuk mematuki dna memgorek tanah. Bulu kuduk Rei mendadak meremang. Bayangan semalam kembali berputar di kepalanya. Sosok nenek Jeanne yang menyerupai tengkorak berbalut kulit tipis itu masih terbayang jelas, terutama bagian di mana ayam itu dengan santainya nangkring di bahu mahluk mengerikan itu.

Rasanya seperti mau gila, padahal baru saja semalam dia menginjakkan kakinya di rumah ini. Kewarasannya langsung di uji pada malam pertama. Rei tertawa kecut, meski suaranya sedikit bergetar karena sisa trauma yang belum hilang sepenuhnya.

Perutnya mulai keroncongan, seakan memberikan sinyal bahwa ketakutan tidak menghentikan cacing di perutnya untuk meminta makan. Rei menarik napas panjang, mencoba memantapkan hati untuk melangkahkan kaki ke dapur. Ia tidak bisa selamanya mendekam di kamar yang bahkan debunya masih setebal dempul bibi Bertha. Stelah memantapkan hati dan mengumpulkan keberanian, Rei beranjak meninggalkan kamarnya.

Keadaan lantai bawah masih sama dengan kemarin. Debu masih beterbangan di bawah sorot lampu gantung yang redup. Bau apek khas rumah yang lama tidak mendapat sirkulasi udara, menyapa indra penciumannya. Mengingat Rei untuk segera memberikan rumah ini demi kesehatan paru-parunya.

"Kopi dulu, kewarasnanku lebih penting." gumam Rei sembari mencoba menyalahkan mesin kopi.

Untungnya mesin tersebut berfungsi dengan baik. Ya bagaimana tidak, mesin kopi ini masih terlihat baru. Spertinya tuan Powell yang meletakkannya di sini, mungkin sebagai hadiah selamat datang. Atau mungkin karena di juga ingin minum kopi juga, yang maniak kopi di sini bukan cuma Rei saja. Pengacara neneknya itu bisa menghabiskan enam gelas kopi sehari.

Entah harus merasa kagum atau kasihan dengan jantung tuan Powell, mengingat dia menangani banyak kasus berat selain mengurus warisan nenek Jeanne.

Setelah menyesap kopi pahitnya, Rei memulai hari dengan bersih-bersih. Mengingat tempat ini akan menjadi ruangan yang paling banyak di pakai.

Dia mengambil kemoceng, menutup mulut dan hidung dejgan masker dan mulai mengibaskan debu dari rak-rak buku tua. Debu beterbangan di bawah sinar matahari yang masuk lewat celah jendela, membuat Rei bersin dan batuk sesekali, meskipun sudah mengenakan masker.

Dia kemudian menarik mesin penyedot debu tua dari gudang bawah tangga. Suaranya bising sekali, mirip suara mesin pesawat tempur yang mau lepas landas. Rei sampai berfikir benda ini akan meledak ketika di nyalakan.

Bersih-bersih terbukti menjadi aktivitas pengalihan yang ampuh. Rei mulai lupa dengan rasa takutnya, malah rasa takutnya beralih menjadi rasa kesal karena harus membersihkan rumah seluas ini sendiri.

Nyapu, ngepel, dan mengelap semua permukaan berdebu.

Yang terdengar sejak tadi hanya suara nging, nging, nging, ngong, mesin penyedot debu.

Tok! Tok! Tok!

Rei tersentak, hampir saja menjatuhkan pipa penyedot debunya. Jantungnya berpacu lagi. Dia mematikan mesin, membuat ruangan mendadak sunyi senyap. Dia mengintip dari jendela depan. Untungnya, yang berdiri di sana bukan nenek Jeanne versi zombi, melainkan seorang pria paruh baya dengan rambut klimis, dan wajah dingin. Sedingin kulkas dua pintu.

Tuan Powell.

Rei menarik napas lega, melempar kemocengnya ke sofa, dan membuka pintu.

"Tuan Powell," sapa Rei pelan.

"Selamat pagi, Rei. Kau terlihat... ah, sudah mulai bekerja rupanya?" tuan Powell melirik ke arah mesin penyedot debu di tengah ruangan sambil tersenyum simpul.

"Ya, begitulah. Daripada saya bengong lalu berbicara dengan dinding," jawab Rei sarkastis. "Silakan masuk."

Tuan Powell melangkah masuk ke dalam rumah, membawa sebuah tas kulit coklat yang terlihat berat. Dia duduk di kursi kayu yang baru saja dilap Rei, lalu mengeluarkan beberapa tumpuk dokumen tebal.

"Saya datang untuk menyerahkan akta rumah ini. Semuanya sudah resmi atas namamu sekarang, sesuai wasiat nenekmu," kata tuan Powell sambil meletakkan kertas-kertas itu di meja.

Rei meraih amplop di meja, membuka amplop coklat tersebut dengan hati-hati. Menarik kertas sebanyak tujuh lembar itu keluar. Matanya dengan teliti menatap setiap baris kata, dan bahasa hukum yang dia sendiri tidak mengerti.

Intinya rumah ini sah secara hukum milik Rei. Hak kepemilikannya tidak bisa di ganggu gugat, jika berusaha menuntut atas hak rumah ini. Maka hal waris penuntut akan di batalkan.

Tuan Powell berdiri sambil membenarkan kancing jasnya, menutup tas kulitnya dengan terburu-buru. "Tugas saya sudah selesai, jika kau memiliki pertanyaan soal legalitas rumah ini. Kau boleh menelfon kapan saja."

Dia berjalan menuju pintu dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari saat dia datang. "Tim pembersih akan datang jam delapan pagi besok. Pastikan kamu membukakan pintu untuk mereka. Selamat atas rumah barumu, Rei. Jangan terlalu memikirkan apa yang kau lihat, mereka hanya sedang menyambutmu datang."

Hah? Apa maksudnya.

Sebelum Rei sempat melontarkan pertanyaan lain, tuan Powell sudah menghilang di balik pintu, meninggalkan Rei sendirian lagi di tengah ruangan yang berdebu.

Kata-kata terkahir tuan Powell terngiang di benaknya, dan Rei mulai merasa bahwa semua ini memang jebakan batman. Tuan Powell tau tentang rumah sialan ini. Dan dia menolak memberitahu Rei, mungkin takut dia akan lari.

"Sial."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty Three

    Hutan Blackwood tidak terlihat menakutkan dari kejauhan.Itu adalah hal pertama yang Rei pikirkan ketika mereka sampai di tepi hutan. Dia mengharapkan sesuatu yang gelap. Sesuatu yang penuh dengan pohon-pohon mati dan kabut tebal dan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang.Tapi yang dia lihat hanyalah hutan biasa. Pohon-pohon tinggi dengan daun yang hijau. Cahaya matahari yang menembus celah-celah dahan. Semak-semak yang tumbuh liar di antara akar-akar yang menonjol. Bahkan ada suara burung berkicau dengan riang, seperti tidak ada yang salah dengan tempat ini."Kau yakin ini tempatnya?" tanya Kieran pelan.Rei mengangguk pelan. "Aku yakin."Dia bisa merasakannya. Tarikan itu. Sesuatu yang halus tapi kuat. Sesuatu yang menariknya ke dalam hutan. Ke arah sesuatu yang menunggu di sana.Kieran menatap hutan itu selama beberapa detik. Kemudian dia mengangkat tasnya dan mulai berjalan. "Baiklah. Ayo kita masuk."Rei mengikuti. Langkahnya mantap. Langkahnya penuh tekad.Mereka mel

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty Two

    Rei bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya.Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanya duduk di sofa ruang tengah dengan cermin di pangkuannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang pintu itu. Pintu kayu tua yang berdiri di tengah halaman. Pintu yang tidak ada di Moorbridge yang dia kenal.Tapi sekarang, cermin itu sudah tidak ada di pangkuannya. Sudah dia letakkan di meja. Sudah dia bungkus dengan kain. Sudah dia sembunyikan di bawah tumpukan buku di ruang kerja neneknya.Dia tidak ingin melihatnya lagi. Setidaknya, tidak sekarang.Rei duduk di sofa selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai hari. Dia bisa mendengar ayam-ayam berkokok di luar. Dia bisa mendengar sapi-sapi gondrong bersuara. Dia bisa mendengar suara kicau burung yang entah dari mana. Semua suara normal. Semua suara yang biasa dia dengar setiap pagi.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Rei menoleh ke jendela. Gorden masih tertutup, tapi dia bisa melihat cah

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty One

    Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty

    Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nineteen

    Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eighteen

    Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban

  • Kota di Tengah Antah Berantah    One

    “Hei anak haram, tuan Powell memanggilmu.” sinis Olivia sambil merengut. “Hah?" Rei yang baru saja selesai mrasakan bulu romanya meremang seperti lampu disko menoleh dengan wajah melongo. Paman dan bibinya sudah bubar tratur menuju mobil masing-masing. Hanya Olivia yabg misg tersisah karena b

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Beginning

    Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke kota kecil di tengah antah berantah ini...kakiku kesemutan. Seperti ada semut dan kutu merayap di telapak kaki, naik hingga ke betis. Membangkitkan bulu roma remang-remang di tangan. Sungguh indah. Sepanjang mata memandang ada bangunan tua, sapi, jalanan

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Prolog

    In memory of Jeanne Osbourne. Beloved grandmother, matriarch of the family and the greatest mother. Beloved grandmother, huh. Rei hampir saja tertawa di tengah pemakaman, ketika ibunya menyebut Jeanne sebagai nenek yang baik hati, penyayang, dan penuh belas kasih. Wow, rasanya dia ingin seka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status