Masuk"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne.
Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseorang di balik pintu sambil memencet bel pintu berkali-kali. "Sebentar!" teriaknya parau. Rei bangkit sedikit sempoyongan, ia berjalan menuju pintu depan, hampir tersandung sudut karpet yang tertekuk. Rei baru ingat kalau tadi sebelum tertidur di sofa, ia sempat memesan makanan karena perutnya keroncongan parah akibat tidak makan sejak pagi. Ketika pintu kayu besar nan berat itu dibukanya, cahaya matahari langsung mengenai matanya, hingga dia harus menyipitkan mata sejenak akibat silau. Di depan pintu berdiri seorang pemuda keturunan India, memakai helm tua dan apron dari restauran yang Rei pesan, terlihat agak kebesaran di badannya. Tangannya menggenggam bungkusan plastik berisi makanan, tapi tangan satunya masih menggantung dekat tombol bel, seolah belum yakin mau pergi. Ia diam sejenak. Matanya menyapu Rei dari kepala sampai kaki dengan tatapan bingung dan curiga. "Kau... baik-baik saja?" tanya pemuda it sedikit khawatir. Penampilan Rei masalahnya terlihat seperti orang depresi. Kaus oblong, celana jeans tua, rambut berantakan, muka kusam dan pucat. Dia lebih terlihat seperti pecandu narkoba daripada manusia waras. "Ah, tidak apa-apa. Cuma lupa makan." Rei tertawa canggung. Pemuda itu masih curiga namun tidak bertanya lebih jauh. Ia menyerahkan makanannya, menatap Rei dari atas sampai bawah. Lalu melihat sekeliling seakan memastikan bahwa Rei bukan perampok. "Anu..." "Kau penghuni baru rumah ini? Atau tukang bersih-bersih?" pemuda itu bertanya. "Bukan, aku cucunya." Rei menjawab pendek sambil merogoh saku celananya, mencari dompet untuk memberikan uang tip tambahan karena merasa tidak enak sudah membuat orang itu menunggu lama. "Cucu?" tanyanya dengan nada tidak percaya. "Kau cucu kandung nyonya Jeanne?" Sebelah alis Rei terangkan dengan tatapn bertanya, "Iya. Kenapa memangnya?" "Ini benar-benar pertama kalinya aku melihat ada orang lain yang masuk ke sini selain petugas listrik atau tukang pos," katanya agak pelan. "Ibuku punya restoran kecil di ujung jalan sana, namanya Kedai Varma. Nyonya Jeanne itu pelanggan tetap kami setiap hari Selasa. Beliau selalu memesan kari ayam dengan porsi kecil dan duduk di sudut yang sama selama berjam-jam." Nenek Jeanne populer juga ternyata, mungkin langang restoran dari ibu pengantar makanan ini. "Oh ya? Aku tidak tahu dia sesering itu keluar rumah." "Beliau pelanggan tetap kami, orangnya sangat... tertutup," lanjut pemuda itu lagi tersenyum canggung "Ibuku sering bercerita tentangnya. Katanya, nyonya Jeanne orang yang sangat baik, sering membantu ibuku saat kami dalam masalah. Bisa di bilang kami berhutang budi padanya. Ibuku selalu merasa kasihan karena beliau tampak sangat kesepian. Beliau tidak pernah sekalipun menyebutkan soal keluarga, apalagi soal cucu. Warga sekitar dan ibuku mengira, rumah ini akan terbengkalai. Semenjak nyonya Jeanne sakit dan di rawat di kota, tidak ada yang datang kemari." Rei agak melongo mendengar cerita pemuda ini, pertama. Neneknya itu baik hati menurut keluarga pemuda ini, waw amajing. Nenek lampir itu masih punya hati untuk menolong orang ternyata, padahal melihat gelandang saja dia langsung sinis. "Beliau sangat menyayangi rumah ini," Pemuda itu menunjuk ke arah taman depan yang ditumbuhi rumput liar. "Sewaktu aku masih kecil, aku sering melihatnya berdiri di balkon atas hanya untuk menatap matahari terbenam. Ibuku bilang, nyonya Jeanne terlihat seperti sedang menunggu sesorang." Rei terdiam, menatap ke arah tan dengan pandangan kosong. Ia mulai merasa kesal karena pemuda ini bercerita seakan nenek Jeanne adalah wnaita tua kesepian yang rapuh. kenyataannya...cih. "Mungkin saja," jawab Rei singkat, tidak ingin memperpanjang percakapan. "Terima kasih makanannya, eh..." "Kiran. Namaku Kiran Devani." Ia tersenyum ramah. Rei sampai terpesona sendiri tapi cepat-cepat sadar. "Aku Rei..." jawabnya kikuk. "Aku tau." Kieran tertawa. "Namamu ada di pesanan." Iya juga ya, tadi kan Kiran memanggil namanya ketika Rei baru bangun. Pipi Rei langsung memerah karena malu. "Kalau kau butuh apa-apa, atau butuh makan malam yang lebih enak dari sekadar pesan antar, datanglah ke ujung jalan. Ibuku pasti senang bertemu dengan cucu nyonya Jeanne." ucapanya bersemangat. Rei mengangguk kecil sambil memaksakan sebuah senyum tipis, ketika melihat Kiran berjalan menjauh menuju motor tuanya. Begitu pintu ia tutup, Rei melorot ke lantai sambil menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu. Bungkusan plastik di tangannya terasa hangat, namun nafsu makannya telah menghilang karena mimpi buruk tadi. Kata-kata Kiran masih berdenging di telinganya. “Wanita tua yang manis," batin Rei masygul. “Mungkin Kiran dan ibunya perlu memeriksakan mata atau pendengaran mereka.” Ia beranjak bangun, menyeret tubuhnya menuju dapur, melewati lorong dipenuhi bingkai foto tua yang debunya terlihat setebal bedak dempul bibi Bertha. Rei berhenti sejenak di depan salah satu potret neneknya. Dalam foto itu, sang nenek duduk tegak dengan gaun hitam, wajahnya kaku dan matanya terkesan tajam seolah-olah ia sedang menghakimi siapa pun yang berani melihatnya. "Kau memang pandai berakting di depan orang asing, Nek," gumam Rei sinis. Rei meletakkan makanannya di atas meja kayu yang sanggup menampung dua puluh orang, namun kini hanya ada dia sendiri di sana. Ia membuka bungkusan plastik dan mengeluarkan kotak makanan, aroma rempah kari yang kuat langsung menyeruak. Aroma makan ini seharusnya menggugah selera, tapi cerita Kiran tadi menghantui benak Rei. Di mata Rei, nenek Jeanne adalah sosok otoriter nan dingin. Neneknya tidak segan-segan melontarkan komentar pedas tentang kegagalan Rei dalam menulis atau bagaimana penampilannya terlihat seperti gelandang di kolong jembatan. "Menunggu seseorang katamu?" Rei berbicara pada kursi kosong di depan. "Siapa yang kau tunggu, nek? Anak dan cucu kandung yang tidak pernah menjengukmu, atau seseorang yang belum tahu seberapa tajam lidahmu?" Ia teringat betapa Jeanne sangat protektif terhadap rumah ini. Tidak ada satu pun barang yang boleh dipindahkan meski hanya satu inci. Dulu Rei mengira itu hanyalah bentuk kegilaan neneknya terhadap kontrol, tapi mendengar cerita Kiran bahwa neneknya sangat menyayangi rumah ini, Rei mulai melihatnya dari sudut pandang lain. Mungkin, rumah ini adalah satu-satunya hal yang tidak pernah meninggalkan nenek Jeanne, tidak seperti anggota keluarganya yang lain, memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin. Tidak heran, mengingat sikap dan ucapan sang nenek sering melukai hati banyak orang. Namun warga di sini justru menyayangi dan mengasihani nenek Jeanne. Wanita tua yang tinggal sendirian di rumah mewah memang mudah di kasihani. Rei menghela nafas kasar, mulai membuka kotak makanan yang ia pesan. Aroma rempah-rempah makin kuat tercium ketika ia menbuka kotanya. Nasi kari sederhana, kali ini barulah perutnya berisik. Baru sadar mungkin kalau sejak pagi belum makan, ari liurnya terasa seperti akan menetes. Untuk hari ini saja, dia ingin menikmati makan malam dengan tenang. Besok mungkin dia akan mulai jalan-jalan untuk mengakrabkan diri dengan daerah sekitar. Mungkin juga mengunjungi restoran Kiran dan menyapa ibunya. Rei juga masih penasaran dengan kehidupan nenek Jeanne di sini, sebelum dia di pindahkan ke rumah utama di kota. Sekalian mencari toko kelontong dan swalayan untuk membeli stok makanan dan cairan pembersih.Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar
Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Terlalu cepat. Rei menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku catatan neneknya—dia sudah sampai halaman dua puluh lima dari tiga puluh halaman—dan menghafal mantra pematah. Dia mengulangi mantra itu setiap kali dia punya waktu luang, sampai kata-kata Latin itu terasa seperti bagian dari dirinya. Kieran datang setiap hari, membawa makanan dan menemani Rei. Mereka tidak banyak bicara tentang rencana Rei—Kieran menghormati keinginan Rei untuk tidak melibatkan dia terlalu jauh—tapi kehadiran pemuda itu membuat Rei merasa sedikit lebih tenang. Nenek Lin juga sesekali muncul, biasanya untuk memastikan Rei tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti lupa makan atau begadang sampai pagi. Wanita tua itu tidak banyak bicara, tapi Rei bisa merasakan bahwa dia peduli. Dan kemudian, tanpa terasa, malam bulan baru tiba. Rei berdiri di halaman belakang rumahn
Rei bangun keesokan paginya dengan perasaan yang berbeda. Bukan perasaan takut atau cemas seperti biasanya. Tapi perasaan... tekad. Dia punya misi sekarang. Misi yang jelas. Misi yang bisa dia fokuskan.Gali ari-ari. Patahkan mantra. Keluar dari Moorbridge.Tiga langkah sederhana. Kecuali semuanya jauh dari sederhana.Rei turun ke dapur dan membuat kopi. Sambil menunggu air mendidih, dia membuka buku catatan neneknya dan mencari bagian tentang "malam bulan baru". Dia menemukannya di halaman sembilan belas, di antara catatan tentang cara membuat jimat dari tulang ayam dan resep untuk kue yang bisa membuat roh tertidur.Malam bulan baru adalah waktu ketika batas antara dunia orang hidup dan dunia orang mati paling tipis. Pada malam itu, roh-roh bisa berkeliaran dengan bebas, dan mantra-mantra menjadi lebih lemah. Ini adalah waktu terbaik untuk melakukan ritual yang melibatkan komunikasi dengan dunia lain.Rei membaca lebih lanjut. Menurut buku itu, untuk mematahkan mantra yang dipasang
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di
Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?! Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di pungg







