Share

Two

Author: Haze Hales
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-22 12:17:42

Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?!

Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya.

Bau bajingan.

Keringat dingin mengalir di punggung hingga ke bokong. Rei bisa merasakan jiwanya menguap dari ubun-ubun, terbang melayang ke udara dan melambaikan tangan layaknya di film kartun.

Jantungnya rasanya sudah pindah ke jempol kaki, atau mungkin sudah melompat keluar dari tenggorokan dan lari duluan ke luar rumah dari rumah sialan ini. Tubuh Rei kaku, kaki terasa seperti manekin diskonan yang dipasang di depan toko baju. Ia tidak berani menoleh. Jangankan menoleh, bernapas saja rasanya dia butuh izin tertulis dari malaikat maut.

Perlahan dengan gerakan lebih lambat dari siput sariawan, Rei menurunkan jam saku di tangannya. Kepalanya bergerak pelan seperti boneka kayu kurang pelumas. Perlahan menoleh ke belakang, di mana hanya ada debu yang bergoyang.

Halu lagi.

Ingin rasnaya menghela nafas lega, tapi dia tau kalau itu terlalu cepat. Ini rumah tua yang entah berapa lama tidak di huni. Kalau mistis ya wajar, tapi tidak sampai hantu neneknya juga yang menggentayangi rumah ini. Eh, tapikan ini rumah neneknya.

"Tenang, tenang, cuma debu dan kain." gumamnya pada diri sendiri dengan suara gemetar.

Rei kembali melirik jam saku di tangannya, jarumnya masih berputar mundur. Seakan waktu di sini bergerak melawan hukuma alam, setiap jarum itu bergerak mundur sedetik. Rei merasa kalau waktu di sekitra juga berjalan mundur, karena ruangan terasa bergoyang. Atau mungkin darah rendahnya kumat. Apapun itu, dia tidak bisa berdiri mematung di sini terus menerus.

Malam sebentar lagi tiba, tidak mungkin juga Rei mengandalkan senter ponselnya untuk semalaman. Ponselnya masih menyala, tapi baterainya sudah mulai berteriak minta tolong. Kalau ponsel ini mati, tamatlah riwayatnya. Dia akan terjebak dalam kegelapan bersama suara bisikan serak yang memanggilnya 'anak haram'.

"Oke Rei, tarik nafas...buang. Tarik lagi...buang lagi," bisiknya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih balapan F1 di dalam dada.

Ia harus mencari kotak saklar. Ingatannya kembali ke instruksi singkat yang sempat ia baca di amplop tadi. Katanya, kotak utama ada di dekat pintu masuk atau di lorong bawah. Tapi masalahnya, untuk sampai ke sana, Rei harus melewati tangga kayu yang bunyinya sudah seperti orkestra film horor berbudget rendah.

Rei melangkah keluar dari ruang kerja neneknya dengan langkah yang sangat hati-hati. Senter ponselnya menyorot ke depan, membelah kegelapan lorong lantai dua yang terasa semakin menyempit. Kain putih yang menutupi perabotan tampak seperti barisan hantu yang sedang berdiri menontonnya lewat.

"Jangan dilihat, jangan dilihat," gumamnya berusaha memberanikan diri.

Setiap kali kakinya menyentuh lantai kayu, suara deritan nyaring menggema di seluruh rumah. Rasanya seperti sedang mengumumkan keberadaannya pada apapun yang ada di rumah ini. Seakan berkata: Halo hantu-hantu sekalian, aku di sini, silakan sergap dari belakang.

Pikiran Rei melayang ke mana-mana. Ia bisa membayangkan nenek Jeanne tertawa puas di alam sana, melihat cucu yang tidak diakuinya ketakutan setengah mati. Nenek tua itu memang punya selera humor yang sangat buruk. Memberi warisan rumah megah tapi bonus serangan jantung. Benar-benar cara yang elegan untuk membalas dendam dari liang lahat.

"Sikring mana sikring..." gumam Rei yang mendadak kembali ke bahasa setelan pabrik.

Saking takutnya, Rei sampai kembali ke bahasa setelan awal. Rasanya lebih lega di hati kalau menggunakan bahasa ibu.

Langkahnya terhenti di ujung dasar tangga, ia mengarahkan senternya dinding, menyapu sisi kanan dan kiri sampai akhirnya menemukan kontak saklar.

Kotaknya ada di pilar dekat pintu masuk, bersebelahan dengan gantungan topi tua. Ia mencoba membuka penutup kotak itu, tapi ternyata sudah agak berkarat. Rei harus menggunakan sedikit tenaga, menariknya dengan sentakan kecil sampai akhirnya pintu kotak itu terbuka dengan suara derit yang memekakkan telinga.

"Uh...yang mana saklar lampunya?" gumam Rei sambil menggaruk kepala.

Rei menarik keluar lembaran instruksi di sakunya lagi. Menggaruk kepalanya lagi sambil membaca instruksi mengenai tombol mana yang harus di cetek.

Zzzzt... jeglek!

Lampu di lorong berkedip-kedip sejenak, mengeluarkan suara berdengung khas lampu tua, sebelum akhirnya menyala dengan cahaya kuning temaram. Meskipun tidak terlalu terang, setidaknya dia tidak perlu lagi bergantung pada baterai ponselnya yang tinggal 15 persen.

Rei menghela nafas panjang, bahunya merosot lega. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

"Ah, indahnya cahaya ilahi. " ucapnya sambil tersenyum lebar.

Ia berbalik dengan niat ingin kembali ke ruang tengah, untuk mengecek furniture dan barang-barang yang perlu di bersihkan. Namun, tepat saat ia memutar tubuhnya, matanya menangkap sesosok putih tinggi yang berdiri tepat di depannya. Jantungnya serasa turun ke perut dan Rei memekik kaget.

"Jabang bayi!"

Refleks, karena rasa takut yang sudah mencapai ubun-ubun, Rei mengepalkan tangannya dan melayangkan tinju sekuat tenaga. Ia tidak berpikir dua kali. Pikirannya hanya satu: pukul dulu tanya nanti.

BUKK!

"Adaw! Bangsat!" Rei mendesis kesakitan, memegangi tangannya yang berdenyut.

Ternyata itu bukan hantu. Tapi gantungan jaket dan topi dari kayu jati, lengkap dengan sebuah mantel tua bertengger manis beserta kain putih menutupinya. Karena posisinya yang tinggi dan bentuknya yang memang agak mirip orang berdiri, dalam kondisi cahaya kuning remamg-remang, di tambah mental yang sudah tidak stabil, Rei pun tertipu.

"Sialan, sakitnya sampai ke ginjal."keluh Rei pelan. Ia meniup-niup buku jarinya yang memerah karena ulahnya sendiri.

Gantungan baju itu sekarang tergeletak malang di lantai. Kain putihnya tersingkap sedikit, memperlihatkan kayu jati yang baru saja terlena tonjokan mesra dari Rei. Ia merasa sangat bodoh. Kalau ada kamera tersembunyi di sini, videonya pasti akan viral dengan judul 'Pria bodoh meninju gantungan baju'.

Ia mencoba membenarkan posisi gantungan baju itu kembali sambil menggerutu. Mengasihani diri sendiri dan mempertanyakan nasibnya yang selalu saja sial. Pertama lahir sebagai anak haram, sekarang malah dapat rumah angker.

Rei mendengus kesal, menghentakkan kakinya menuju ruang tengah. Rata-rata masih tertutup dengan kain, jadi Rei menarik paksa kainnya. Berakhir dengan debu berterbangan dan dia batuk dan bersin. Salahnya sendiri emosi.

Perabotan di rumah ini terbilang masig bagus, seakan di rawat secara rutin. Meski debu berterbangan di mana-mana, perabotan di sini masih layak pakai. Sofa dan kursi tunggal bergaya zaman Victoria dengan ukiran pada kayunya. Lampu antik dan perapian.

Bisa di bilang rumah ini cukup estetik dan pas untuk Rei, yang memang menyukai rumah dengan nuansa unik. Punya rumah di kota kecil atau pedesaan adalah impiannya. Udara sejuk bertemankan sapi dan ayam nangkring di atas genteng.

Rei mencoba duduk di pinggirannya dengan sangat hati-hati, takut kalau-kalau ada per yang melompat keluar dan menusuk bokongnya.

Empuk. Ternyata sofanya masih sangat layak.

Lumayan lah, masih layak pakai. Dia tidak harus membeli perabotan baru, uang warisannya bisa ia simpan untuk masa depan. Rei menghela nafas panjang, perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi.

Mata Rei bergulir perlahan, memindai barang-barang di sekitar. Jam tua, perapian, lemari piring dan gelas keramik, perabotan kayu dengan ukiran unik, dan perapian. Gelas dan piring keramik di lemari itu pasti harganya mahal, belum lagi semua vas dan barang antik di rumah ini.

Kalau di jual, harganya pasti cukup mahal. Hal itu membuat Rei bertanya, kenapa nenek Jeanne memberikan rumah ini padanya. Kalau ayah, paman dan bibinya tau, mereka pasti akan protes dan menentang surat wasiat nenek. Tetapi malah Rei yang mendapatkan rumah ini beserta isinya.

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, nenek tua." gumam Rei perlahan.

Rei bangkit lagi setelah melamun selama dua puluh menit. Ia mulai berkeliling, menarik satu per satu kain putih yang menutupi furnitur lainnya. Kemudian berjalan menuju dapur, hendak melihat apakah dapurnya masih layak pakai.

Dan ya, dapurnya masih layak pakai, bersih dan rapi. Semua lemari penyimpanan masih kokoh, tidak di makan oleh rayap, meja marmernya juga terlihat bersih tanpa debu. Ia meraba permukaan meja marmernya dengan gerakan lembut. Benar-benar bersih tanpa debu, seakan baru saja di bersihkan.

"Mungkin tuan Powell yang membersihkan." batin Rei sambil memeriksa sekeliling dapur.

Kulkas, kompor, oven, microwave, dan tempat cuci piring. Semuanya masih berfungsi dengan baik, hanya butuh di bersihkan saja agar tidak bau. Karena peralatan di sini pastilah sudah lama tidak di pakai. Kompornya bahkan menyala dengan baik, sepertinya memang bagian dapur sengaja di bersihkan terlebih dahulu.

Mungkin memang tuan Powell yang membersihkan dapur, mengingat dia hobi memasak dan maniak kopi. Pastilah dia uang membersihkan tempat ini demi bisa menyeduh secangkir kopi.

Rei bersandar di meja marmer, matanya menyapu setiap sudut dapur yang luasnya hampir sama dengan luas apartemennya dulu. Pikirannya mulai membuat catatan mental tentang apa saja yang harus di beli besok. Sabun cuci piring, bahan makanan, spons untuk cuci piring, sabun cuci baju, dan air suci kalau ada.

Saat Rei sedang sibuk melamunkan merk sabun cuci mana yang paling ampuh membasmi kuman, sebuah gerakan di balik jendela dapur menangkap perhatiannya. Rei menyipitkan mata sejenak. Ada sesuatu yang bergerak di dekat bingkai jendela bawah. Putih, bulat, dan terlihat goyang-goyang.

"Apa lagi sekarang?" gumam Rei lelah.

Ia mendekat ke jendela dengan langkah pelan, berhenti tepat di depan wastafel. Ia melongok sedikit untuk melihat apa yang tadi lewat.

"PEKOK! KOK! KOK! KOK! PEKOK!"

"Wagh!" Rei melompat mundur sampai tungkainya membentur pinggiran meja marmer.

Tepat di balik kaca, seekor ayam betina berwarna putih berlarian tidak jelas. Ayam itu berlari berputar-putar seperti ornag mabuk.

"Ayam gila!" gerutu Rei kesal. "Sini ku goreng kau!"

Rei menempelkan wajahnya pada jendela, hendak membuka jendelanya, tetapi tangannya terhenti karena ayam yang tadi menggagetkannya, sekarang dengan santainya bertengger di bahu neneknya yang seharusnya ada di dalam tanah.

Tetapi yang berdiri menghadap Rei itu bukan neneknya. Nenek Jeanne terlihat kurus kering, rambutnya di gerai and kulit keriputnya terlihat menggelambir, hanya berpegangan pada tulang. Ia terlihat seperti tengkorak dengan kulit.

Senyum nenek Jeanne juga tidak normal. Ujung mulutnya tertarik sampai ke telinga, dengan gigi ompong, tersenyum lebar. Bola matanya hitam dan mengeluarkan cairan seakan sedang menangis. Rei membeku di tempat, wajahnya pucat dengan keringat dingin menuruni leher dan dahinya.

Nenek Jeanne tertawa, tawa melengking yang terdengar bukan seperti manusia. Apapun itu yang beridiri di luar sana dan melambaikan tangannya pada Rei. Itu bukan neneknya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twelve

    Suara garukan kuku di atas kayu jati yang tebal itu bergema, seolah-olah makhluk di luar sana hendak menguliti pintu sampai habis. Rei menenggelamkan wajahnya di antara lutut, meringkuk di atas lantai dapur yang dingin. Kedua tangannya memepuk erat gagang lentera besi yang apinya menari liar. Lentera itu tidak mengeluarkan kehangatan. Alih-alih membakar, cahayanya yang berpendar biru justru memancarkan hawa sedingin es yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Setiap kali ada benturan keras yang menghantam dinding rumah, lidah api di dalam kaca melompat liar, menari-nari dengan gelisah seakan ikut merasakan ketakutan yang menghantui Rei saat ini. Dada Rei naik turun dengan cepat. Detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di telinga, seperti saat ia dikejar oleh anjing. Pikiran tentang nenek Jeanne kembali merayap ke kepalanya, membawa amarah kembali ke dalam dadanya. Nenek sialan itu benar-benar inhin dirinya mati rupanya. Tidak di sangka bahwa nenek Jeanne ternyata sekejam ini.

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eleven

    "Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Ten

    Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nine

    Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eight

    Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Seven

    Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Four

    Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status