LOGINDemi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?!
Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di punggung hingga ke bokong. Rei bisa merasakan jiwanya menguap dari ubun-ubun, terbang melayang ke udara dan melambaikan tangan layaknya di film kartun. Jantungnya rasanya sudah pindah ke jempol kaki, atau mungkin sudah melompat keluar dari tenggorokan dan lari duluan ke luar rumah dari rumah sialan ini. Tubuh Rei kaku, kaki terasa seperti manekin diskonan yang dipasang di depan toko baju. Ia tidak berani menoleh. Jangankan menoleh, bernapas saja rasanya dia butuh izin tertulis dari malaikat maut. Perlahan dengan gerakan lebih lambat dari siput sariawan, Rei menurunkan jam saku di tangannya. Kepalanya bergerak pelan seperti boneka kayu kurang pelumas. Perlahan menoleh ke belakang, di mana hanya ada debu yang bergoyang. Halu lagi. Ingin rasnaya menghela nafas lega, tapi dia tau kalau itu terlalu cepat. Ini rumah tua yang entah berapa lama tidak di huni. Kalau mistis ya wajar, tapi tidak sampai hantu neneknya juga yang menggentayangi rumah ini. Eh, tapikan ini rumah neneknya. "Tenang, tenang, cuma debu dan kain." gumamnya pada diri sendiri dengan suara gemetar. Rei kembali melirik jam saku di tangannya, jarumnya masih berputar mundur. Seakan waktu di sini bergerak melawan hukuma alam, setiap jarum itu bergerak mundur sedetik. Rei merasa kalau waktu di sekitra juga berjalan mundur, karena ruangan terasa bergoyang. Atau mungkin darah rendahnya kumat. Apapun itu, dia tidak bisa berdiri mematung di sini terus menerus. Malam sebentar lagi tiba, tidak mungkin juga Rei mengandalkan senter ponselnya untuk semalaman. Ponselnya masih menyala, tapi baterainya sudah mulai berteriak minta tolong. Kalau ponsel ini mati, tamatlah riwayatnya. Dia akan terjebak dalam kegelapan bersama suara bisikan serak yang memanggilnya 'anak haram'. "Oke Rei, tarik nafas...buang. Tarik lagi...buang lagi," bisiknya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih balapan F1 di dalam dada. Ia harus mencari kotak saklar. Ingatannya kembali ke instruksi singkat yang sempat ia baca di amplop tadi. Katanya, kotak utama ada di dekat pintu masuk atau di lorong bawah. Tapi masalahnya, untuk sampai ke sana, Rei harus melewati tangga kayu yang bunyinya sudah seperti orkestra film horor berbudget rendah. Rei melangkah keluar dari ruang kerja neneknya dengan langkah yang sangat hati-hati. Senter ponselnya menyorot ke depan, membelah kegelapan lorong lantai dua yang terasa semakin menyempit. Kain putih yang menutupi perabotan tampak seperti barisan hantu yang sedang berdiri menontonnya lewat. "Jangan dilihat, jangan dilihat," gumamnya berusaha memberanikan diri. Setiap kali kakinya menyentuh lantai kayu, suara deritan nyaring menggema di seluruh rumah. Rasanya seperti sedang mengumumkan keberadaannya pada apapun yang ada di rumah ini. Seakan berkata: Halo hantu-hantu sekalian, aku di sini, silakan sergap dari belakang. Pikiran Rei melayang ke mana-mana. Ia bisa membayangkan nenek Jeanne tertawa puas di alam sana, melihat cucu yang tidak diakuinya ketakutan setengah mati. Nenek tua itu memang punya selera humor yang sangat buruk. Memberi warisan rumah megah tapi bonus serangan jantung. Benar-benar cara yang elegan untuk membalas dendam dari liang lahat. "Sikring mana sikring..." gumam Rei yang mendadak kembali ke bahasa setelan pabrik. Saking takutnya, Rei sampai kembali ke bahasa setelan awal. Rasanya lebih lega di hati kalau menggunakan bahasa ibu. Langkahnya terhenti di ujung dasar tangga, ia mengarahkan senternya dinding, menyapu sisi kanan dan kiri sampai akhirnya menemukan kontak saklar. Kotaknya ada di pilar dekat pintu masuk, bersebelahan dengan gantungan topi tua. Ia mencoba membuka penutup kotak itu, tapi ternyata sudah agak berkarat. Rei harus menggunakan sedikit tenaga, menariknya dengan sentakan kecil sampai akhirnya pintu kotak itu terbuka dengan suara derit yang memekakkan telinga. "Uh...yang mana saklar lampunya?" gumam Rei sambil menggaruk kepala. Rei menarik keluar lembaran instruksi di sakunya lagi. Menggaruk kepalanya lagi sambil membaca instruksi mengenai tombol mana yang harus di cetek. Zzzzt... jeglek! Lampu di lorong berkedip-kedip sejenak, mengeluarkan suara berdengung khas lampu tua, sebelum akhirnya menyala dengan cahaya kuning temaram. Meskipun tidak terlalu terang, setidaknya dia tidak perlu lagi bergantung pada baterai ponselnya yang tinggal 15 persen. Rei menghela nafas panjang, bahunya merosot lega. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Ah, indahnya cahaya ilahi. " ucapnya sambil tersenyum lebar. Ia berbalik dengan niat ingin kembali ke ruang tengah, untuk mengecek furniture dan barang-barang yang perlu di bersihkan. Namun, tepat saat ia memutar tubuhnya, matanya menangkap sesosok putih tinggi yang berdiri tepat di depannya. Jantungnya serasa turun ke perut dan Rei memekik kaget. "Jabang bayi!" Refleks, karena rasa takut yang sudah mencapai ubun-ubun, Rei mengepalkan tangannya dan melayangkan tinju sekuat tenaga. Ia tidak berpikir dua kali. Pikirannya hanya satu: pukul dulu tanya nanti. BUKK! "Adaw! Bangsat!" Rei mendesis kesakitan, memegangi tangannya yang berdenyut. Ternyata itu bukan hantu. Tapi gantungan jaket dan topi dari kayu jati, lengkap dengan sebuah mantel tua bertengger manis beserta kain putih menutupinya. Karena posisinya yang tinggi dan bentuknya yang memang agak mirip orang berdiri, dalam kondisi cahaya kuning remamg-remang, di tambah mental yang sudah tidak stabil, Rei pun tertipu. "Sialan, sakitnya sampai ke ginjal."keluh Rei pelan. Ia meniup-niup buku jarinya yang memerah karena ulahnya sendiri. Gantungan baju itu sekarang tergeletak malang di lantai. Kain putihnya tersingkap sedikit, memperlihatkan kayu jati yang baru saja terlena tonjokan mesra dari Rei. Ia merasa sangat bodoh. Kalau ada kamera tersembunyi di sini, videonya pasti akan viral dengan judul 'Pria bodoh meninju gantungan baju'. Ia mencoba membenarkan posisi gantungan baju itu kembali sambil menggerutu. Mengasihani diri sendiri dan mempertanyakan nasibnya yang selalu saja sial. Pertama lahir sebagai anak haram, sekarang malah dapat rumah angker. Rei mendengus kesal, menghentakkan kakinya menuju ruang tengah. Rata-rata masih tertutup dengan kain, jadi Rei menarik paksa kainnya. Berakhir dengan debu berterbangan dan dia batuk dan bersin. Salahnya sendiri emosi. Perabotan di rumah ini terbilang masig bagus, seakan di rawat secara rutin. Meski debu berterbangan di mana-mana, perabotan di sini masih layak pakai. Sofa dan kursi tunggal bergaya zaman Victoria dengan ukiran pada kayunya. Lampu antik dan perapian. Bisa di bilang rumah ini cukup estetik dan pas untuk Rei, yang memang menyukai rumah dengan nuansa unik. Punya rumah di kota kecil atau pedesaan adalah impiannya. Udara sejuk bertemankan sapi dan ayam nangkring di atas genteng. Rei mencoba duduk di pinggirannya dengan sangat hati-hati, takut kalau-kalau ada per yang melompat keluar dan menusuk bokongnya. Empuk. Ternyata sofanya masih sangat layak. Lumayan lah, masih layak pakai. Dia tidak harus membeli perabotan baru, uang warisannya bisa ia simpan untuk masa depan. Rei menghela nafas panjang, perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi. Mata Rei bergulir perlahan, memindai barang-barang di sekitar. Jam tua, perapian, lemari piring dan gelas keramik, perabotan kayu dengan ukiran unik, dan perapian. Gelas dan piring keramik di lemari itu pasti harganya mahal, belum lagi semua vas dan barang antik di rumah ini. Kalau di jual, harganya pasti cukup mahal. Hal itu membuat Rei bertanya, kenapa nenek Jeanne memberikan rumah ini padanya. Kalau ayah, paman dan bibinya tau, mereka pasti akan protes dan menentang surat wasiat nenek. Tetapi malah Rei yang mendapatkan rumah ini beserta isinya. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan, nenek tua." gumam Rei perlahan. Rei bangkit lagi setelah melamun selama dua puluh menit. Ia mulai berkeliling, menarik satu per satu kain putih yang menutupi furnitur lainnya. Kemudian berjalan menuju dapur, hendak melihat apakah dapurnya masih layak pakai. Dan ya, dapurnya masih layak pakai, bersih dan rapi. Semua lemari penyimpanan masih kokoh, tidak di makan oleh rayap, meja marmernya juga terlihat bersih tanpa debu. Ia meraba permukaan meja marmernya dengan gerakan lembut. Benar-benar bersih tanpa debu, seakan baru saja di bersihkan. "Mungkin tuan Powell yang membersihkan." batin Rei sambil memeriksa sekeliling dapur. Kulkas, kompor, oven, microwave, dan tempat cuci piring. Semuanya masih berfungsi dengan baik, hanya butuh di bersihkan saja agar tidak bau. Karena peralatan di sini pastilah sudah lama tidak di pakai. Kompornya bahkan menyala dengan baik, sepertinya memang bagian dapur sengaja di bersihkan terlebih dahulu. Mungkin memang tuan Powell yang membersihkan dapur, mengingat dia hobi memasak dan maniak kopi. Pastilah dia uang membersihkan tempat ini demi bisa menyeduh secangkir kopi. Rei bersandar di meja marmer, matanya menyapu setiap sudut dapur yang luasnya hampir sama dengan luas apartemennya dulu. Pikirannya mulai membuat catatan mental tentang apa saja yang harus di beli besok. Sabun cuci piring, bahan makanan, spons untuk cuci piring, sabun cuci baju, dan air suci kalau ada. Saat Rei sedang sibuk melamunkan merk sabun cuci mana yang paling ampuh membasmi kuman, sebuah gerakan di balik jendela dapur menangkap perhatiannya. Rei menyipitkan mata sejenak. Ada sesuatu yang bergerak di dekat bingkai jendela bawah. Putih, bulat, dan terlihat goyang-goyang. "Apa lagi sekarang?" gumam Rei lelah. Ia mendekat ke jendela dengan langkah pelan, berhenti tepat di depan wastafel. Ia melongok sedikit untuk melihat apa yang tadi lewat. "PEKOK! KOK! KOK! KOK! PEKOK!" "Wagh!" Rei melompat mundur sampai tungkainya membentur pinggiran meja marmer. Tepat di balik kaca, seekor ayam betina berwarna putih berlarian tidak jelas. Ayam itu berlari berputar-putar seperti ornag mabuk. "Ayam gila!" gerutu Rei kesal. "Sini ku goreng kau!" Rei menempelkan wajahnya pada jendela, hendak membuka jendelanya, tetapi tangannya terhenti karena ayam yang tadi menggagetkannya, sekarang dengan santainya bertengger di bahu neneknya yang seharusnya ada di dalam tanah. Tetapi yang berdiri menghadap Rei itu bukan neneknya. Nenek Jeanne terlihat kurus kering, rambutnya di gerai and kulit keriputnya terlihat menggelambir, hanya berpegangan pada tulang. Ia terlihat seperti tengkorak dengan kulit. Senyum nenek Jeanne juga tidak normal. Ujung mulutnya tertarik sampai ke telinga, dengan gigi ompong, tersenyum lebar. Bola matanya hitam dan mengeluarkan cairan seakan sedang menangis. Rei membeku di tempat, wajahnya pucat dengan keringat dingin menuruni leher dan dahinya. Nenek Jeanne tertawa, tawa melengking yang terdengar bukan seperti manusia. Apapun itu yang beridiri di luar sana dan melambaikan tangannya pada Rei. Itu bukan neneknya.Hutan Blackwood tidak terlihat menakutkan dari kejauhan.Itu adalah hal pertama yang Rei pikirkan ketika mereka sampai di tepi hutan. Dia mengharapkan sesuatu yang gelap. Sesuatu yang penuh dengan pohon-pohon mati dan kabut tebal dan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang.Tapi yang dia lihat hanyalah hutan biasa. Pohon-pohon tinggi dengan daun yang hijau. Cahaya matahari yang menembus celah-celah dahan. Semak-semak yang tumbuh liar di antara akar-akar yang menonjol. Bahkan ada suara burung berkicau dengan riang, seperti tidak ada yang salah dengan tempat ini."Kau yakin ini tempatnya?" tanya Kieran pelan.Rei mengangguk pelan. "Aku yakin."Dia bisa merasakannya. Tarikan itu. Sesuatu yang halus tapi kuat. Sesuatu yang menariknya ke dalam hutan. Ke arah sesuatu yang menunggu di sana.Kieran menatap hutan itu selama beberapa detik. Kemudian dia mengangkat tasnya dan mulai berjalan. "Baiklah. Ayo kita masuk."Rei mengikuti. Langkahnya mantap. Langkahnya penuh tekad.Mereka mel
Rei bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya.Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanya duduk di sofa ruang tengah dengan cermin di pangkuannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang pintu itu. Pintu kayu tua yang berdiri di tengah halaman. Pintu yang tidak ada di Moorbridge yang dia kenal.Tapi sekarang, cermin itu sudah tidak ada di pangkuannya. Sudah dia letakkan di meja. Sudah dia bungkus dengan kain. Sudah dia sembunyikan di bawah tumpukan buku di ruang kerja neneknya.Dia tidak ingin melihatnya lagi. Setidaknya, tidak sekarang.Rei duduk di sofa selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai hari. Dia bisa mendengar ayam-ayam berkokok di luar. Dia bisa mendengar sapi-sapi gondrong bersuara. Dia bisa mendengar suara kicau burung yang entah dari mana. Semua suara normal. Semua suara yang biasa dia dengar setiap pagi.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Rei menoleh ke jendela. Gorden masih tertutup, tapi dia bisa melihat cah
Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar
Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban
"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di







