로그인Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi.
Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di kagetkan dengan ayam, sekarang di tambah ada sapi di halaman belakang rumahnya. MUUUUUU Dan sapi itu malah dengan santainya memakani rumput di halaman belakang. Seakan mengejek Rei dan nasib jeleknya. "Ah, nasib, nasib." gumam Rei memandang kosong ke arah langit. Pertemuannya dengan tuan Powell bukannya menjelaskan alasan kenapa neneknya mewariskan rumah ini padanya. Malah membuat kepala Rei pusing dengan cerita masa lalu nenek Jeanne, dan kisah bagaimana beliau bisa jadi milyader, dengan menipu dan meniduri pria kaya. Mana peduli Rei dengan kisah nenek tua bangka itu, dia cuma ingin tau. Kenapa dari empat anak and sebelas cucu nenek Jeanne, Rei yang mendapatkan rumah ini. Di tambah lagi, otak Rei masih belum bisa mencerna apa yang terjadi semalam. Semua pertanyaan di kepalanya bertambah dua kali lipat, dengan rentetan pertanyaan susulan mengenai tempat ini. Moorbridge. Tempat di tengah antah berantah yang mana peta saja tidak mengenali. Rei sempat mencari-cari infomasi tentang tempat ini. Tetapi tidak ada satupun infomasi yang ia temukan tentang tempat ini. Biasanya peta akan memberikan informasi ringkas atau gambaran daerah dan titik lokasi. Namun tempat ini sama sekali tidak memiliki titik lokasi atau bahakan sekedar kutipan satupun. Bahakna tempat paling terpencil di Inggris masih memiliki sedikit penjelasan dan sejarah tentang wilayahnya. Moorbridge? Nihil. Seakan kota kecil ini tidak pernah ada di peta atau memang di hapus. Padahal penduduknya lumayan banyak, ada sekitar enam ribu jiwa dan terpencar di daerah yang luasnya mirip provinsi kecil untuk petani. Namun sepanjang mata memandang, hanya ada sapi dan ayam yang di pelihara penduduk di sini. Rei kembali menghela nafas entah untuk yang ke berapa kalinya. Baru sehari di sini ujiannya sudah membuat jiwa dan raganya lelah. MUUUUUU "Berisik! Ku jadikan rendang kau kalau bunyi lagi." gerutu Rei kesal. Rei melirik ke arah jam dinding di kabarnya, jam menunjukkan pukul 9 pagi, lalu melirik ke arah halaman belakang lagi. Niatnya hari ini ingin membersihkan lantai satu agar setidaknya bisa di pakai jika ada tamu. Dengan sisa-sisa semangat yang lebih tipis dari tisu di bagi tiga, Rei mulai menyeret sapu dan kain pel. Lantai satu rumah ini luasnya tidak masuk akal, untuk ukuran satu orang yang tidak punya niat jadi pembantu rumah tangga. Dia mulai dari ruang tamu yang penuh furnitur antik berdebu, lalu berlanjut ke dapur yang baunya seperti kenangan buruk dari mantan. Setiap kali dia menggeser lemari atau mengangkat tumpukan koran lama, debu-debu melayang ke udara, membuatnya terbatuk sampai matanya berair. "Ini rumah apa gudang asrama hantu sih?" gumamnya di sela-sela batuk. Waktu melebur begitu saja, saat Rei akhirnya berhasil menyelesaikan lantai satu beserta kamar tidurnya di atas. Semburat oranye dan ungu sudah menghiasi langit Moorbridge. Matahari sedang bersiap-siap untuk tenggelam di balik perbukitan hijau di ujung uruk sana. Rei menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang baru saja dia bersihkan. Punggung dan pinggangnya terasa mau copot, bahakn ia tidak bisa merasakan bahunya. Sepertinya mati rasa. "Aduh... pinggangku... mau copot," keluh Rei sambil memijat punggung bawahnya. Perutnya kemudian merespons dengan bunyi keroncongan yang cukup dramatis. Dia baru sadar kalau sejak pagi belum makan karena terlalu fokus Bersih-bersih dan memikirkan nasibnya di sini. Rei mengeluarkan ponselnya, hendak memesan makanan online. Jarinya terhenti karena ingat, di tempat antah berantah seperti Moorbridge, apa mungkin ada layanan antar makanan. Tapi karena cacing di perutnya sudah muali berdemo, dia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi pesan antar yang biasanya dia pakai di kota. "Mana mungkin ada," katanya pesimis. Ajaibnya, sinyal di ponselnya menunjukkan bar penuh, dan saat aplikasi itu terbuka, ada tiga restoran yang muncul. Salah satunya adalah kedai burger dan pasta, satunya restoran india, satu lagi kedai makan khas Inggris. Rei tidak butuh waktu lama untuk memilih menu yang paling banyak kalorinya. Dia memesan burger ujuran jumbo kentang goreng besar, dan minuman soda dingin. Pembayaran berhasil. Estimasi waktu: 30 menit. Kira-kira begitu tulisan di dalam layar ponselnya. Rei bergeliat di atas sofa mencari posisi nyaman, suara hembusan angin menerpa ranting dan dedaunan, di tambah susana sejuk khas pedesaan membuat matanya terasa berat. Perlahan matanya mulai terpejam, angin sepoi-sepoi dari jendela yang masuk seakan meninabobokan Rei. Suara ayam di luar yang sibuk memakan rumput dan cacing menjadi pemanis untuk mengantarnya tidur. Tidak butuh waktu lama untuk terlelap. Dalam tidurnya, Rei tidak lagi berada di rumah besar yang sunyi di Moorbridge. Dia kembali ke sebuah apartemen kecil di Cambridge. Tempat yang dulu dia sebut rumah, sebelum hidupnya menjadi rumit seperti sekarang. Apartemen kecil dengan perabotan seadanya, dengan kompor gas yang kadang tidak berfungsi, sofa lama dan meja kayu yang mungkin ibunya beli dari toko barang bekas. Matahari sore mengintip malu-malu dari balik tirai usang. Rei melihat dirinya sendiri yang masih kecil, mungkin baru berusia tujuh atau delapan tahun. Tangan mungilnya menggenggam erat jemari ibunya, saat mereka berjalan menuju taman bermain di kompleks apartemen itu. "Hati-hati larinya, Rei. Nanti jatuh," suara ibunya terdengar lembut. Rei kecil tertawa, berlari ke arah ayunan besi yang catnya sueah mulai terkelupas. Ibunya berdiri di belakangnya, memberikan dorongan pelan pada ayunan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, setiap kali ayunannya naik tinggi ke udara, Rei tertawa bahagia, tawa polos bocah 7 tahun yang belum tau kerasnya dunia. Semuanya terasa begitu nyata. Aroma parfum melati yang selalu dipakai ibunya, rasa hangat dari sinar matahari, dan tawa mereka yang bersahutan. Namun, suasana mulai berubah perlahan. Langit Cambridge yang tadinya cerah berubah menjadi kelabu, menggelap dengan cepat seperti tinta yang tumpah di atas kertas. Suara tawa ibunya yang tadinya merdu mulai terdengar berbeda. Suaranya terdengar tinggi dan serak seperti suara nenek-nenek. "Ibu?" gumam Rei kecil, menghentikan ayunannya dengan menyeret kaki di atas pasir. Dia turun dari ayunan, berjalan mendekati sosok ibunya yang berdiri mematung membelakanginya. Punggungnya tegak lurus, dan kepalanya sedikit miring ke samping dengan sudut yang tidak alami. Rei mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh ujung gaun ibunya. "Ibu, kenapa? Ayo pulang." Saat ibunya berbalik, jantung Rei seolah berhenti berdetak. Wajah yang biasanya terlihat cantik itu mulai meleley. Kulitnya melepuh seperti lilin yang terbakar oleh api, menetes perlahan ke atas rerumputan yang mulai menghitam. Bola mata ibunya menghilang, berganti dengan lubang hitam kosong. Bibir yang tadi tersenyum manis kini robek hingga ke telinga, memperlihatkan barisan gigi tajam dan tidak beraturan. Sosok itu tertawa. Bukan tawa seorang ibu, melainkan suara melengking yang menyakitkan telinga, bercampur dengan suara daging yang robek dan bau busuk. "Rei mau ikut ibu kan?" tanya sosok itu dengan suara parau yang tumpang tindih. "Kau tidak akan meninggalkan ibu sendiri di dalam tanah kan?" Tangan ibunya berubah menjadi jemari panjang dan kering, mencoba meraih leher Rei. Sosok itu terus tertawa, suara tawa begitu jeras dan memekakkan telinga. "Rei tidak akan meninggalkan ibu kan, Rei akan menemani ibu di dalam kubur..." "IBU!" Rei tersentak bangun dengan nafas memburu. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang seolah habis lari maraton. Bell pintunya berbunyi nyari, terus-terusan berbunyi seakan orang di balik pintu itu sudah tidak sabar ingin pergi.Suara garukan kuku di atas kayu jati yang tebal itu bergema, seolah-olah makhluk di luar sana hendak menguliti pintu sampai habis. Rei menenggelamkan wajahnya di antara lutut, meringkuk di atas lantai dapur yang dingin. Kedua tangannya memepuk erat gagang lentera besi yang apinya menari liar. Lentera itu tidak mengeluarkan kehangatan. Alih-alih membakar, cahayanya yang berpendar biru justru memancarkan hawa sedingin es yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Setiap kali ada benturan keras yang menghantam dinding rumah, lidah api di dalam kaca melompat liar, menari-nari dengan gelisah seakan ikut merasakan ketakutan yang menghantui Rei saat ini. Dada Rei naik turun dengan cepat. Detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di telinga, seperti saat ia dikejar oleh anjing. Pikiran tentang nenek Jeanne kembali merayap ke kepalanya, membawa amarah kembali ke dalam dadanya. Nenek sialan itu benar-benar inhin dirinya mati rupanya. Tidak di sangka bahwa nenek Jeanne ternyata sekejam ini.
"Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei
Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa
Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand
Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu
Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban
"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?! Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di pungg







