Share

Four

Author: Haze Hales
last update publish date: 2026-05-08 18:21:27

Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi.

Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di kagetkan dengan ayam, sekarang di tambah ada sapi di halaman belakang rumahnya.

MUUUUUU

Dan sapi itu malah dengan santainya memakani rumput di halaman belakang. Seakan mengejek Rei dan nasib jeleknya.

"Ah, nasib, nasib." gumam Rei memandang kosong ke arah langit.

Pertemuannya dengan tuan Powell bukannya menjelaskan alasan kenapa neneknya mewariskan rumah ini padanya. Malah membuat kepala Rei pusing dengan cerita masa lalu nenek Jeanne, dan kisah bagaimana beliau bisa jadi milyader, dengan menipu dan meniduri pria kaya. Mana peduli Rei dengan kisah nenek tua bangka itu, dia cuma ingin tau. Kenapa dari empat anak and sebelas cucu nenek Jeanne, Rei yang mendapatkan rumah ini.

Di tambah lagi, otak Rei masih belum bisa mencerna apa yang terjadi semalam. Semua pertanyaan di kepalanya bertambah dua kali lipat, dengan rentetan pertanyaan susulan mengenai tempat ini.

Moorbridge.

Tempat di tengah antah berantah yang mana peta saja tidak mengenali. Rei sempat mencari-cari infomasi tentang tempat ini. Tetapi tidak ada satupun infomasi yang ia temukan tentang tempat ini. Biasanya peta akan memberikan informasi ringkas atau gambaran daerah dan titik lokasi.

Namun tempat ini sama sekali tidak memiliki titik lokasi atau bahakan sekedar kutipan satupun. Bahakna tempat paling terpencil di Inggris masih memiliki sedikit penjelasan dan sejarah tentang wilayahnya.

Moorbridge? Nihil.

Seakan kota kecil ini tidak pernah ada di peta atau memang di hapus. Padahal penduduknya lumayan banyak, ada sekitar enam ribu jiwa dan terpencar di daerah yang luasnya mirip provinsi kecil untuk petani. Namun sepanjang mata memandang, hanya ada sapi dan ayam yang di pelihara penduduk di sini.

Rei kembali menghela nafas entah untuk yang ke berapa kalinya. Baru sehari di sini ujiannya sudah membuat jiwa dan raganya lelah.

MUUUUUU

"Berisik! Ku jadikan rendang kau kalau bunyi lagi." gerutu Rei kesal.

Rei melirik ke arah jam dinding di kabarnya, jam menunjukkan pukul 9 pagi, lalu melirik ke arah halaman belakang lagi. Niatnya hari ini ingin membersihkan lantai satu agar setidaknya bisa di pakai jika ada tamu.

Dengan sisa-sisa semangat yang lebih tipis dari tisu di bagi tiga, Rei mulai menyeret sapu dan kain pel. Lantai satu rumah ini luasnya tidak masuk akal, untuk ukuran satu orang yang tidak punya niat jadi pembantu rumah tangga. Dia mulai dari ruang tamu yang penuh furnitur antik berdebu, lalu berlanjut ke dapur yang baunya seperti kenangan buruk dari mantan.

Setiap kali dia menggeser lemari atau mengangkat tumpukan koran lama, debu-debu melayang ke udara, membuatnya terbatuk sampai matanya berair.

"Ini rumah apa gudang asrama hantu sih?" gumamnya di sela-sela batuk.

Waktu melebur begitu saja, saat Rei akhirnya berhasil menyelesaikan lantai satu beserta kamar tidurnya di atas. Semburat oranye dan ungu sudah menghiasi langit Moorbridge. Matahari sedang bersiap-siap untuk tenggelam di balik perbukitan hijau di ujung uruk sana.

Rei menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang baru saja dia bersihkan. Punggung dan pinggangnya terasa mau copot, bahakn ia tidak bisa merasakan bahunya. Sepertinya mati rasa.

"Aduh... pinggangku... mau copot," keluh Rei sambil memijat punggung bawahnya.

Perutnya kemudian merespons dengan bunyi keroncongan yang cukup dramatis. Dia baru sadar kalau sejak pagi belum makan karena terlalu fokus Bersih-bersih dan memikirkan nasibnya di sini.

Rei mengeluarkan ponselnya, hendak memesan makanan online. Jarinya terhenti karena ingat, di tempat antah berantah seperti Moorbridge, apa mungkin ada layanan antar makanan. Tapi karena cacing di perutnya sudah muali berdemo, dia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi pesan antar yang biasanya dia pakai di kota.

"Mana mungkin ada," katanya pesimis.

Ajaibnya, sinyal di ponselnya menunjukkan bar penuh, dan saat aplikasi itu terbuka, ada tiga restoran yang muncul. Salah satunya adalah kedai burger dan pasta, satunya restoran india, satu lagi kedai makan khas Inggris. Rei tidak butuh waktu lama untuk memilih menu yang paling banyak kalorinya. Dia memesan burger ujuran jumbo kentang goreng besar, dan minuman soda dingin.

Pembayaran berhasil. Estimasi waktu: 30 menit.

Kira-kira begitu tulisan di dalam layar ponselnya. Rei bergeliat di atas sofa mencari posisi nyaman, suara hembusan angin menerpa ranting dan dedaunan, di tambah susana sejuk khas pedesaan membuat matanya terasa berat.

Perlahan matanya mulai terpejam, angin sepoi-sepoi dari jendela yang masuk seakan meninabobokan Rei. Suara ayam di luar yang sibuk memakan rumput dan cacing menjadi pemanis untuk mengantarnya tidur. Tidak butuh waktu lama untuk terlelap.

Dalam tidurnya, Rei tidak lagi berada di rumah besar yang sunyi di Moorbridge. Dia kembali ke sebuah apartemen kecil di Cambridge. Tempat yang dulu dia sebut rumah, sebelum hidupnya menjadi rumit seperti sekarang.

Apartemen kecil dengan perabotan seadanya, dengan kompor gas yang kadang tidak berfungsi, sofa lama dan meja kayu yang mungkin ibunya beli dari toko barang bekas. Matahari sore mengintip malu-malu dari balik tirai usang. Rei melihat dirinya sendiri yang masih kecil, mungkin baru berusia tujuh atau delapan tahun. Tangan mungilnya menggenggam erat jemari ibunya, saat mereka berjalan menuju taman bermain di kompleks apartemen itu.

"Hati-hati larinya, Rei. Nanti jatuh," suara ibunya terdengar lembut.

Rei kecil tertawa, berlari ke arah ayunan besi yang catnya sueah mulai terkelupas. Ibunya berdiri di belakangnya, memberikan dorongan pelan pada ayunan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, setiap kali ayunannya naik tinggi ke udara, Rei tertawa bahagia, tawa polos bocah 7 tahun yang belum tau kerasnya dunia. Semuanya terasa begitu nyata. Aroma parfum melati yang selalu dipakai ibunya, rasa hangat dari sinar matahari, dan tawa mereka yang bersahutan.

Namun, suasana mulai berubah perlahan.

Langit Cambridge yang tadinya cerah berubah menjadi kelabu, menggelap dengan cepat seperti tinta yang tumpah di atas kertas. Suara tawa ibunya yang tadinya merdu mulai terdengar berbeda. Suaranya terdengar tinggi dan serak seperti suara nenek-nenek.

"Ibu?" gumam Rei kecil, menghentikan ayunannya dengan menyeret kaki di atas pasir.

Dia turun dari ayunan, berjalan mendekati sosok ibunya yang berdiri mematung membelakanginya. Punggungnya tegak lurus, dan kepalanya sedikit miring ke samping dengan sudut yang tidak alami.

Rei mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh ujung gaun ibunya. "Ibu, kenapa? Ayo pulang."

Saat ibunya berbalik, jantung Rei seolah berhenti berdetak.

Wajah yang biasanya terlihat cantik itu mulai meleley. Kulitnya melepuh seperti lilin yang terbakar oleh api, menetes perlahan ke atas rerumputan yang mulai menghitam. Bola mata ibunya menghilang, berganti dengan lubang hitam kosong. Bibir yang tadi tersenyum manis kini robek hingga ke telinga, memperlihatkan barisan gigi tajam dan tidak beraturan.

Sosok itu tertawa. Bukan tawa seorang ibu, melainkan suara melengking yang menyakitkan telinga, bercampur dengan suara daging yang robek dan bau busuk.

"Rei mau ikut ibu kan?" tanya sosok itu dengan suara parau yang tumpang tindih. "Kau tidak akan meninggalkan ibu sendiri di dalam tanah kan?"

Tangan ibunya berubah menjadi jemari panjang dan kering, mencoba meraih leher Rei. Sosok itu terus tertawa, suara tawa begitu jeras dan memekakkan telinga.

"Rei tidak akan meninggalkan ibu kan, Rei akan menemani ibu di dalam kubur..."

"IBU!"

Rei tersentak bangun dengan nafas memburu. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang seolah habis lari maraton. Bell pintunya berbunyi nyari, terus-terusan berbunyi seakan orang di balik pintu itu sudah tidak sabar ingin pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty Three

    Hutan Blackwood tidak terlihat menakutkan dari kejauhan.Itu adalah hal pertama yang Rei pikirkan ketika mereka sampai di tepi hutan. Dia mengharapkan sesuatu yang gelap. Sesuatu yang penuh dengan pohon-pohon mati dan kabut tebal dan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang.Tapi yang dia lihat hanyalah hutan biasa. Pohon-pohon tinggi dengan daun yang hijau. Cahaya matahari yang menembus celah-celah dahan. Semak-semak yang tumbuh liar di antara akar-akar yang menonjol. Bahkan ada suara burung berkicau dengan riang, seperti tidak ada yang salah dengan tempat ini."Kau yakin ini tempatnya?" tanya Kieran pelan.Rei mengangguk pelan. "Aku yakin."Dia bisa merasakannya. Tarikan itu. Sesuatu yang halus tapi kuat. Sesuatu yang menariknya ke dalam hutan. Ke arah sesuatu yang menunggu di sana.Kieran menatap hutan itu selama beberapa detik. Kemudian dia mengangkat tasnya dan mulai berjalan. "Baiklah. Ayo kita masuk."Rei mengikuti. Langkahnya mantap. Langkahnya penuh tekad.Mereka mel

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty Two

    Rei bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya.Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanya duduk di sofa ruang tengah dengan cermin di pangkuannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang pintu itu. Pintu kayu tua yang berdiri di tengah halaman. Pintu yang tidak ada di Moorbridge yang dia kenal.Tapi sekarang, cermin itu sudah tidak ada di pangkuannya. Sudah dia letakkan di meja. Sudah dia bungkus dengan kain. Sudah dia sembunyikan di bawah tumpukan buku di ruang kerja neneknya.Dia tidak ingin melihatnya lagi. Setidaknya, tidak sekarang.Rei duduk di sofa selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai hari. Dia bisa mendengar ayam-ayam berkokok di luar. Dia bisa mendengar sapi-sapi gondrong bersuara. Dia bisa mendengar suara kicau burung yang entah dari mana. Semua suara normal. Semua suara yang biasa dia dengar setiap pagi.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Rei menoleh ke jendela. Gorden masih tertutup, tapi dia bisa melihat cah

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty One

    Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty

    Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nineteen

    Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eighteen

    Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Two

    Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?! Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di pungg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status