แชร์

Six

ผู้เขียน: Haze Hales
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-20 13:19:24

Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya bangun.

Matanya mengerjap malas, memandang gorden seperti hendak mengajar benda tipis itu bertengkar. Rei menark tubuhnya turun dari kasur dengan langkah sempoyongan. Menarik gorden m9tif bunga itu dengan kesal.

Cahaya remang-remang matahari pagi di ikutin teriakan ayam menyambut. Otot urat di kepala Rei mendadak berkedut, ayam-ayam di pekarangan rumahnya berkokok lagi.

KOK KOK PEK—OGHHH

Suara nyanyian cempreng ayan itu terputus karena sendal kelinci pink milik Rei melayang, dan menghantam tenggorokan ayam di bawah.

"Diam!" gerutunya kesal.

Binatang warna-warni tersebut bubar teratur setelah perjaka tanggung mereka tumbang oleh sendal kelinci pink. Rei merengut kembali, berjalan malas menuju kamar mandi setelah menarik handuk dari lemari.

Untungnya keran air hangatnya berfusi, setelah semalam Rei harus turun ke basement horror untuk memeriksa pemanas air dan surangan di lantai bawah tanah. Rei merendam diri sampai batas telinga, menghela nafas lega sambil membuat gelembung.

brrlp...brrlp... brrlp...

Empat puluh menit kemudian, Rei sudah mengeringkan diri dan berpakaian rapi. Hanya mengenakan celana kain hitam dan kaos biru muda yang agak tebal. Musim gugur sebentar lagi tiba dan udaranya mulai terasa dingin.

Handphone Rei berdiri pelan ketika dirinya hendak turu untuk membuat sarapan. Pesan dari tuan Powell, mengingatkan bahwa hari ini orang yang akan membersihkan seluruh rumahnya datang sekitar pukul sepuluh.

Baguslah, Rei jadi tidak perlu pakai koyo lagi karena encok membersihkan rumah dua lantai seluas lapangan bola kampung ini. Rei cuma membalas dengan ucapan baik, kemudian turun untuk mencari sarapan. Rumahnya termasuk ada di ujung Moorebridge dan tetangga terdekatnya sekita dua puluh meter dari rumahnya. Jarak antar tetangga memang agak jauh, dan swalayan terdekat menurut peta sekitar satu kilo meter.

Ah, ini akan jadi perjalanan panjang.

Rei melangkah keluar dari halaman rumahnya, menutup pagar besi yang berderit horor. Jalanan aspal di depannya tampak sepi, diselimuti kabut tipis yang perlahan memudar karena sinar matahari. Udara pagi langsung menusuk kulit wajahnya, membuat Rei sedikit bergidik kedinginan.

Pandangannya mengedar ke sekeliling. Moorebridge ternyata lingkungan yang cukup tenang, bahkan cenderung terisolasi. Di sepanjang jalan, Rei hanya melihat rumah yang ukurannya mirip dengan rumahnya. Pohon ek, rowan dan hawthorn, di sepanjang pinggir jalan.

Adem, batin Rei memejamkan mata sejenak, sembari berjalan menyusuri jalan setapak. Setelah berjalan sekitar seratus meter, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa pada sebuah rumah di sisi kiri jalan. Rumah itu tidak sekaku bangunan lain di sekitarnya. Halamannya dipenuhi pot bunga gantung dan sebuah papan kayu kecil berdiri tegak di dekat gerbang yang terbuka.

Rei menghentikan langkahnya beberapa langkah di depan papan tersebut. Dia menyipitkan mata, membaca tulisan tangan yang tertera di sana menggunakan cat putih yang agak memudar.

Tokoh Kelontong sekilo kurang se ons.

Rei menyipitkan matanya dengan senyum seakan dia mulai ikut gila dengan ketidak warasan tempat ini. Namanya ajaib, batin Rei meringis lelah. Ia terdiam sejenak, melirik kembali map di handphone yang menunjukkan jarak swalayan terdekat. Setelah menimbang lama, akhirnya Rei memilih untuk berbelanja di sini saja. Toh sudah di depannya juga dan tokonya terlihat cukup luas.

Ia milai melangkah menuju pintu toko, bel berbunyi nyaring ketika ia membuka pintu kayu tua itu. Rak tinggi hingga menyentuh atap rumah menyambut mata. Penuh dengan bahan pangan, bumbu dapur, peralatan dan perlengkapan cuci baju dan beberapa makanan ringan.

"Permisi?" ucap Rei agak keras.

Rei celingukan sendiri, mencoba mencari penjaga toko. Ia menoleh ke samping dan di kagetkan oleh sosok keriput yang duduk layaknya preman pasar di balik meja kasir.

"Jabang bayi!" Rei melompat kaget, jantungnya terasa seperti menghantam tembok saking kagetnya dia.

Nenek tua itu tidak terlihat kaget sedikitpun, malahan terlihat kesal dan siap menyembur Rei dengan serentet omelan.

"Mau apa kau?" tanya nenek itu dengan suara agak jutek, seolah-olah Rei baru saja mengganggu waktu tidurnya atau menantangnya duel satu lawan satu.

"Anu... belanja, nek," jawab Rei pelan.

"Ya sudah jelas kau mau belanja, bodoh!" semprot nenek itu dengan nada tinggi. "Memangnya tempat ini kelihatan seperti kantor pusat kependudukan? Semua orang yang datang ke sini juga mau belanja!"

Wah, neneknya tidak ramah bintang satu. Batin Rei agak kesal.

Nenek itu mendengus kencang, "Mau belanja apa kau? Sebutkan jenisnya! Jangan cuma berdiri di sana seperti tiang jemuran!"

Nenek ini benar-benar mengajak bertengkar, ini masih pagi, matahari saja masih bersembunyi di balik kabut dan awan. Nenek ini malah membuat emosi. Rei mencoba sabar, mengingatkan dirinya bahwa itu orang tua.

"Bahan pokok dan bumbu dapur." jawab Rei menahan kesal.

"Rak nomer dua dari ujung kanan, sudah sana." si nenek mendengus kesal.

Rei membatin dalam hati, ingin melempar nenek ini ke trotoar. Tetapi masih mencoba tersenyum ramah sembari meraih keranjang belanja. menyusuri rak-ral toko sampai akhirnya menemukan rak yang di maksud.

Tempat ini ternyata lumayan lengkap, bahkan sayuran segar sudah terpajang di rak pinggir jendela. Tidak hanya bahan pokok, tapi juga semua kebutuhan sehari-hari ada di sini. Mungkin konsep toko ini mirip toserba.

"Oi."

"Gusti nuh agung!" kaget Rei sembari memegangi dadanya.

Nenek tadi sudah berdiri di sebelahnya. Meskipun tua, beliau masih terlihat tegap dan kokoh. Dia berdiri dengan pandangan tajam ke arah Rei.

"Iya nek?" tanya Rei bingung.

"Kau yang menempati rumah Jeanne?" tanya si nenek dengan nada menginterogasi.

Waw, bagaimana dia bisa tau, "Uh, iya. Saya cucunya."

Sang nenek terlihat terkejut dan bergumam sesuatu dalam bahasa Mandarin yang Rei sendiri tidak paham apa maksudnya.

"Uh nek?"

"Apa Jeanne memeberikanmu daftar aturan?" tanya si nenek lagi.

"Hah?"

"Daftar aturan untuk tinggal di sini? Jeanne tidak memberitahu mu?" tanya nenek itu sedikit kesal.

"Uh...aturan?" tanya Rei malah tambah bingung.

Nenek itu kembali melotot tidak percaya, "Kau masuk ke rumah itu tanpa tau aturan tempat ini? Apa Jeanne sudah gila?!"

Sekarang Rei semakin bingung, aturan apa yang di maksud nenek ini, kenapa dia terlihat sangat marah.

"Anu..."

"Diam!" potong si nenek membuat Rei mengatupkan mulutnya.

Nenek itu kembali menggerutu dalam bahasa Mandarin. Membuat Rei makin kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Dengar, aku tidak akan ikut campur dengan rencana gila Jeanne. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu masuk ke sana tanpa petunjuk." Nenek itu menatapnya dengan pandangan sedikit kasihan sekarang. "Tempat ini memiliki aturan, selama kau mengikutinya. Nyawamu tidak akan melayang."

Hah?

"Jeanne sudah tinggal di sini selama puluhan tahun, seingatku. Dia memiliki buku berisi aturan dan sedikit pengetahuan tentang tempat ini." jelas nenek itu sambil memijat pelipisnya.

Rei hanya bisa menatap wnaita tua di depannya dengan pandang bingung and linglung. Dia bay saja sampai di tempat ini, mengalami teror mistis. Sekarang tetangganya mengatakan tempat ini memiliki aturan?

"Atuan? Maksud nenek?" tanya Rei memberanikan diri.

"Nak, tempat ini bukan kota kecil asri seperti yang kau kira. Tempat ini meminta penghuninya untuk membuang kewarasan dan nyawa mereka jika perlu. Aku tidak bisa terlalu ikut campur. Atau penghuni tempat ini akan marah padaku." sang nenek memandang ke luar. Ke arah pepohonan di seberang jalan.

"Kau pasti sudah melihat sosok mirip orang-orangan sawah, kan?"

Pertanyaan itu membuat Rei membeku di tempat, nenek tersebut langsung paham dan tidak bertanya lagi.

"Itu hanya permulaan, sambutan utamanya belum datang. Pada malam ke tujuh. Tutup semua gorden and kunci semua jendela dan pintumu. Pria bermata kambing akan datang untuk memastikan apakah kau layak sebagai penerus Jeanne." jelasnya.

"Penerus?" ucap Rei bingung.

Sang nenek merogoh kantung celemeknya, menarik keluar kalung giok biru dengan ukiran naga. Ia menarik tangan Rei dan meletakkan kalung tersebut di telapak tangannya.

"Anggap saja hadiah. Kalau kau butuh bantuan, larilah kemari. Jangan menoleh ke belakang. Lentera di depan toko ku selalu menyala." ucap sang nenek kemudian berjalan kembali ke meja kasirnya.

Rei masih terdiam mematung di depan rak bumbu dengan tatapn bingung, matanya memandang kalung giok di tangannya. Kemudian melirik kembali ke arah si nenek yang sekarang asyik makan kacang tanah. Kepala Rei terasa berputar karena ada berbagai macam pertanyaan menyerang benaknya.

Sebenarnya apa yang terjadi di sini.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twelve

    Suara garukan kuku di atas kayu jati yang tebal itu bergema, seolah-olah makhluk di luar sana hendak menguliti pintu sampai habis. Rei menenggelamkan wajahnya di antara lutut, meringkuk di atas lantai dapur yang dingin. Kedua tangannya memepuk erat gagang lentera besi yang apinya menari liar. Lentera itu tidak mengeluarkan kehangatan. Alih-alih membakar, cahayanya yang berpendar biru justru memancarkan hawa sedingin es yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Setiap kali ada benturan keras yang menghantam dinding rumah, lidah api di dalam kaca melompat liar, menari-nari dengan gelisah seakan ikut merasakan ketakutan yang menghantui Rei saat ini. Dada Rei naik turun dengan cepat. Detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di telinga, seperti saat ia dikejar oleh anjing. Pikiran tentang nenek Jeanne kembali merayap ke kepalanya, membawa amarah kembali ke dalam dadanya. Nenek sialan itu benar-benar inhin dirinya mati rupanya. Tidak di sangka bahwa nenek Jeanne ternyata sekejam ini.

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eleven

    "Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Ten

    Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nine

    Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eight

    Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Seven

    Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Four

    Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Two

    Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?! Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di pungg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status