LOGINMatahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya bangun.
Matanya mengerjap malas, memandang gorden seperti hendak mengajar benda tipis itu bertengkar. Rei menark tubuhnya turun dari kasur dengan langkah sempoyongan. Menarik gorden m9tif bunga itu dengan kesal. Cahaya remang-remang matahari pagi di ikutin teriakan ayam menyambut. Otot urat di kepala Rei mendadak berkedut, ayam-ayam di pekarangan rumahnya berkokok lagi. KOK KOK PEK—OGHHH Suara nyanyian cempreng ayan itu terputus karena sendal kelinci pink milik Rei melayang, dan menghantam tenggorokan ayam di bawah. "Diam!" gerutunya kesal. Binatang warna-warni tersebut bubar teratur setelah perjaka tanggung mereka tumbang oleh sendal kelinci pink. Rei merengut kembali, berjalan malas menuju kamar mandi setelah menarik handuk dari lemari. Untungnya keran air hangatnya berfusi, setelah semalam Rei harus turun ke basement horror untuk memeriksa pemanas air dan surangan di lantai bawah tanah. Rei merendam diri sampai batas telinga, menghela nafas lega sambil membuat gelembung. brrlp...brrlp... brrlp... Empat puluh menit kemudian, Rei sudah mengeringkan diri dan berpakaian rapi. Hanya mengenakan celana kain hitam dan kaos biru muda yang agak tebal. Musim gugur sebentar lagi tiba dan udaranya mulai terasa dingin. Handphone Rei berdiri pelan ketika dirinya hendak turu untuk membuat sarapan. Pesan dari tuan Powell, mengingatkan bahwa hari ini orang yang akan membersihkan seluruh rumahnya datang sekitar pukul sepuluh. Baguslah, Rei jadi tidak perlu pakai koyo lagi karena encok membersihkan rumah dua lantai seluas lapangan bola kampung ini. Rei cuma membalas dengan ucapan baik, kemudian turun untuk mencari sarapan. Rumahnya termasuk ada di ujung Moorebridge dan tetangga terdekatnya sekita dua puluh meter dari rumahnya. Jarak antar tetangga memang agak jauh, dan swalayan terdekat menurut peta sekitar satu kilo meter. Ah, ini akan jadi perjalanan panjang. Rei melangkah keluar dari halaman rumahnya, menutup pagar besi yang berderit horor. Jalanan aspal di depannya tampak sepi, diselimuti kabut tipis yang perlahan memudar karena sinar matahari. Udara pagi langsung menusuk kulit wajahnya, membuat Rei sedikit bergidik kedinginan. Pandangannya mengedar ke sekeliling. Moorebridge ternyata lingkungan yang cukup tenang, bahkan cenderung terisolasi. Di sepanjang jalan, Rei hanya melihat rumah yang ukurannya mirip dengan rumahnya. Pohon ek, rowan dan hawthorn, di sepanjang pinggir jalan. Adem, batin Rei memejamkan mata sejenak, sembari berjalan menyusuri jalan setapak. Setelah berjalan sekitar seratus meter, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa pada sebuah rumah di sisi kiri jalan. Rumah itu tidak sekaku bangunan lain di sekitarnya. Halamannya dipenuhi pot bunga gantung dan sebuah papan kayu kecil berdiri tegak di dekat gerbang yang terbuka. Rei menghentikan langkahnya beberapa langkah di depan papan tersebut. Dia menyipitkan mata, membaca tulisan tangan yang tertera di sana menggunakan cat putih yang agak memudar. Tokoh Kelontong sekilo kurang se ons. Rei menyipitkan matanya dengan senyum seakan dia mulai ikut gila dengan ketidak warasan tempat ini. Namanya ajaib, batin Rei meringis lelah. Ia terdiam sejenak, melirik kembali map di handphone yang menunjukkan jarak swalayan terdekat. Setelah menimbang lama, akhirnya Rei memilih untuk berbelanja di sini saja. Toh sudah di depannya juga dan tokonya terlihat cukup luas. Ia milai melangkah menuju pintu toko, bel berbunyi nyaring ketika ia membuka pintu kayu tua itu. Rak tinggi hingga menyentuh atap rumah menyambut mata. Penuh dengan bahan pangan, bumbu dapur, peralatan dan perlengkapan cuci baju dan beberapa makanan ringan. "Permisi?" ucap Rei agak keras. Rei celingukan sendiri, mencoba mencari penjaga toko. Ia menoleh ke samping dan di kagetkan oleh sosok keriput yang duduk layaknya preman pasar di balik meja kasir. "Jabang bayi!" Rei melompat kaget, jantungnya terasa seperti menghantam tembok saking kagetnya dia. Nenek tua itu tidak terlihat kaget sedikitpun, malahan terlihat kesal dan siap menyembur Rei dengan serentet omelan. "Mau apa kau?" tanya nenek itu dengan suara agak jutek, seolah-olah Rei baru saja mengganggu waktu tidurnya atau menantangnya duel satu lawan satu. "Anu... belanja, nek," jawab Rei pelan. "Ya sudah jelas kau mau belanja, bodoh!" semprot nenek itu dengan nada tinggi. "Memangnya tempat ini kelihatan seperti kantor pusat kependudukan? Semua orang yang datang ke sini juga mau belanja!" Wah, neneknya tidak ramah bintang satu. Batin Rei agak kesal. Nenek itu mendengus kencang, "Mau belanja apa kau? Sebutkan jenisnya! Jangan cuma berdiri di sana seperti tiang jemuran!" Nenek ini benar-benar mengajak bertengkar, ini masih pagi, matahari saja masih bersembunyi di balik kabut dan awan. Nenek ini malah membuat emosi. Rei mencoba sabar, mengingatkan dirinya bahwa itu orang tua. "Bahan pokok dan bumbu dapur." jawab Rei menahan kesal. "Rak nomer dua dari ujung kanan, sudah sana." si nenek mendengus kesal. Rei membatin dalam hati, ingin melempar nenek ini ke trotoar. Tetapi masih mencoba tersenyum ramah sembari meraih keranjang belanja. menyusuri rak-ral toko sampai akhirnya menemukan rak yang di maksud. Tempat ini ternyata lumayan lengkap, bahkan sayuran segar sudah terpajang di rak pinggir jendela. Tidak hanya bahan pokok, tapi juga semua kebutuhan sehari-hari ada di sini. Mungkin konsep toko ini mirip toserba. "Oi." "Gusti nuh agung!" kaget Rei sembari memegangi dadanya. Nenek tadi sudah berdiri di sebelahnya. Meskipun tua, beliau masih terlihat tegap dan kokoh. Dia berdiri dengan pandangan tajam ke arah Rei. "Iya nek?" tanya Rei bingung. "Kau yang menempati rumah Jeanne?" tanya si nenek dengan nada menginterogasi. Waw, bagaimana dia bisa tau, "Uh, iya. Saya cucunya." Sang nenek terlihat terkejut dan bergumam sesuatu dalam bahasa Mandarin yang Rei sendiri tidak paham apa maksudnya. "Uh nek?" "Apa Jeanne memeberikanmu daftar aturan?" tanya si nenek lagi. "Hah?" "Daftar aturan untuk tinggal di sini? Jeanne tidak memberitahu mu?" tanya nenek itu sedikit kesal. "Uh...aturan?" tanya Rei malah tambah bingung. Nenek itu kembali melotot tidak percaya, "Kau masuk ke rumah itu tanpa tau aturan tempat ini? Apa Jeanne sudah gila?!" Sekarang Rei semakin bingung, aturan apa yang di maksud nenek ini, kenapa dia terlihat sangat marah. "Anu..." "Diam!" potong si nenek membuat Rei mengatupkan mulutnya. Nenek itu kembali menggerutu dalam bahasa Mandarin. Membuat Rei makin kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Dengar, aku tidak akan ikut campur dengan rencana gila Jeanne. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu masuk ke sana tanpa petunjuk." Nenek itu menatapnya dengan pandangan sedikit kasihan sekarang. "Tempat ini memiliki aturan, selama kau mengikutinya. Nyawamu tidak akan melayang." Hah? "Jeanne sudah tinggal di sini selama puluhan tahun, seingatku. Dia memiliki buku berisi aturan dan sedikit pengetahuan tentang tempat ini." jelas nenek itu sambil memijat pelipisnya. Rei hanya bisa menatap wnaita tua di depannya dengan pandang bingung and linglung. Dia bay saja sampai di tempat ini, mengalami teror mistis. Sekarang tetangganya mengatakan tempat ini memiliki aturan? "Atuan? Maksud nenek?" tanya Rei memberanikan diri. "Nak, tempat ini bukan kota kecil asri seperti yang kau kira. Tempat ini meminta penghuninya untuk membuang kewarasan dan nyawa mereka jika perlu. Aku tidak bisa terlalu ikut campur. Atau penghuni tempat ini akan marah padaku." sang nenek memandang ke luar. Ke arah pepohonan di seberang jalan. "Kau pasti sudah melihat sosok mirip orang-orangan sawah, kan?" Pertanyaan itu membuat Rei membeku di tempat, nenek tersebut langsung paham dan tidak bertanya lagi. "Itu hanya permulaan, sambutan utamanya belum datang. Pada malam ke tujuh. Tutup semua gorden and kunci semua jendela dan pintumu. Pria bermata kambing akan datang untuk memastikan apakah kau layak sebagai penerus Jeanne." jelasnya. "Penerus?" ucap Rei bingung. Sang nenek merogoh kantung celemeknya, menarik keluar kalung giok biru dengan ukiran naga. Ia menarik tangan Rei dan meletakkan kalung tersebut di telapak tangannya. "Anggap saja hadiah. Kalau kau butuh bantuan, larilah kemari. Jangan menoleh ke belakang. Lentera di depan toko ku selalu menyala." ucap sang nenek kemudian berjalan kembali ke meja kasirnya. Rei masih terdiam mematung di depan rak bumbu dengan tatapn bingung, matanya memandang kalung giok di tangannya. Kemudian melirik kembali ke arah si nenek yang sekarang asyik makan kacang tanah. Kepala Rei terasa berputar karena ada berbagai macam pertanyaan menyerang benaknya. Sebenarnya apa yang terjadi di sini.Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar
Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Terlalu cepat. Rei menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku catatan neneknya—dia sudah sampai halaman dua puluh lima dari tiga puluh halaman—dan menghafal mantra pematah. Dia mengulangi mantra itu setiap kali dia punya waktu luang, sampai kata-kata Latin itu terasa seperti bagian dari dirinya. Kieran datang setiap hari, membawa makanan dan menemani Rei. Mereka tidak banyak bicara tentang rencana Rei—Kieran menghormati keinginan Rei untuk tidak melibatkan dia terlalu jauh—tapi kehadiran pemuda itu membuat Rei merasa sedikit lebih tenang. Nenek Lin juga sesekali muncul, biasanya untuk memastikan Rei tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti lupa makan atau begadang sampai pagi. Wanita tua itu tidak banyak bicara, tapi Rei bisa merasakan bahwa dia peduli. Dan kemudian, tanpa terasa, malam bulan baru tiba. Rei berdiri di halaman belakang rumahn
Rei bangun keesokan paginya dengan perasaan yang berbeda. Bukan perasaan takut atau cemas seperti biasanya. Tapi perasaan... tekad. Dia punya misi sekarang. Misi yang jelas. Misi yang bisa dia fokuskan.Gali ari-ari. Patahkan mantra. Keluar dari Moorbridge.Tiga langkah sederhana. Kecuali semuanya jauh dari sederhana.Rei turun ke dapur dan membuat kopi. Sambil menunggu air mendidih, dia membuka buku catatan neneknya dan mencari bagian tentang "malam bulan baru". Dia menemukannya di halaman sembilan belas, di antara catatan tentang cara membuat jimat dari tulang ayam dan resep untuk kue yang bisa membuat roh tertidur.Malam bulan baru adalah waktu ketika batas antara dunia orang hidup dan dunia orang mati paling tipis. Pada malam itu, roh-roh bisa berkeliaran dengan bebas, dan mantra-mantra menjadi lebih lemah. Ini adalah waktu terbaik untuk melakukan ritual yang melibatkan komunikasi dengan dunia lain.Rei membaca lebih lanjut. Menurut buku itu, untuk mematahkan mantra yang dipasang
"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di
Demi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?! Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di pungg







