Partager

Prolog

Auteur: Haze Hales
last update Date de publication: 2026-04-10 15:17:37

In memory of Jeanne Osbourne.

Beloved grandmother, matriarch of the family and the greatest mother.

Beloved grandmother, huh.

Rei hampir saja tertawa di tengah pemakaman, ketika ibunya menyebut Jeanne sebagai nenek yang baik hati, penyayang, dan penuh belas kasih.

Wow, rasanya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata tersebut. Nenek tercinta? Nenek sihir si iya.

Rei memaksakan diri untuk tidak mendengus sinis mendengarnya. Beberapa anggota keluarganya sampai melotot, memperingatinya agar menjaga tingkah lakunya.

Lucu sekali, anak bibi Bertha saja sejak tadi tidak mendengarkan, sibuk membalas pesan dari pria yang dia sukai. Sampai hidungnya tenggelam dalam ponselnya.

Ia menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sekuat tenaga dia berusaha memberikan wajah sedih seakan dia sedang berkabung. Meski jatuhnya jadi seperti sedang menahan buang air besar.

Siapa suruh mereka menyeretnya kemari. Biasanya mereka juga, menguncinya dia atas loteng jika hendak pergi makan di restoran, atau merayakan natal ketika Rei masih kecil dan imut-imut. Bayangkan, anak kecil manis harus menahan rasa iri karena saudara sepupunya mendapatkan mainan. Sedangkan Rei harus mencuci piring dan gelas di belakang.

Rei bertahan di sana hingga usianya delapan belas tahun, karena ayahnya bisa melaporkannya ke polisi sebagai anak hilang. Polisi pasti akan berpihak pada ayahnya dan ibu tiri tukang drama dengan air mata buayanya. Dan memutuskan kontak dengan keluarga besar ayahnya.

Tetapi sekalinya menelfon, bukannya minta maaf atau basa-basi, mereka malah membawa Rei ke makam. Apalagi ini acara pemakaman nenek Jeanne. Wanita yang mengutuknya dan menghinanya sebagai anak haram.

Ya, bukan salah Rei juga kalau dia sampai lahir. Siapa suruh ayahnya memasukkan penisnya ke lubang wanita lain tanpa kondom. Jadilah ia kambing hitam untuk disalahkan, dijadikan bahan pelampiasan dan segala tetek bengkeknya.

Indah bukan?

Matamu.

Kalau bisa memilih dia lebih baik dilahirkan sebagai anak kucing yang lucu. Makan, tidur dan berak. Tidur seharian tanpa beban pikiran. Sayangnya alam semesta memilih menjadikannya anak haram sebagai bumbu pemanis hidupnya.

Sungguh indah.

Rei menatap peti mati neneknya sekilas. Peti kayu dengan ukiran bunga favorit nenek semasa hidupnya.

Bunga lily.

Bunga orang suci, bunga yang melambangkan kebaikan dan kepolosan, seakan ingin mengatakan bahwa nenek Jeanne adalah wanita polos dengan hati selembut pantat bayi. Wah puncak komedi. Seakan nenek lampir ini mau mengatakan dia tidak pernah berbuat dosa.

Di sela-selanya terselip bunga lain yang membuat alis Rei menukik naik. Rei mengenalinya, Hellebore. Bunga musim dingin yang tetap mekar saat semuanya mati. Bunga yang sungguh berbanding terbalik artinya dari bunga lily, orang menyebutnya bunga mayat musim dingin, cocok sih.

Entah siapa yang meletakkannya di sana. Mungkin salah satu kerabat yang sok estetik. Mungkin pendetanya sendiri, tapi mana mungkin pendeta meletakkan bunga yang artinya cukup buruk. Atau mungkin si nenek lampir sendiri sudah mengaturnya sebelum mati. Memastikan bahwa bahkan di kematiannya, dia tetap memberi lelucon terakhir.

Rei hampir tersenyum tapi dia tahan karena tatapan maut bibi Bertha serasa menembus otaknya. Padahal kan dia ada jauh di sampingnya, calon nenek lampir ini tahu saja Rei hendak tertawa.

Jadilah ia harus menelan kembali tawanya, berusaha terlihat sedih lagi. Menundukkan kepala memandang sepasang sepatu pantofel mulus dan rerumputan lembab. Angin dingin pertengahan bulan September ditemani gemerisik daun saling bergesekan, dan suara pendeta membacakan kitab suci.

Rei mengangkat kepalanya sebentar, hendak melihat peti mati untuk terakhir kalinya, tapi matanya malah tertuju pada ukiran bunga di peti mati. Ukiran bunga lily putih tiba-tiba saja berubah menjadi hellebore.

Dia tidak salah lihat kan. Bukannya tadi bunga lily putih. Mana mungkin salah lihat.

Dan kenapa malah ada yang tertawa. Orang gila mana tertawa di pemakaman?

Kepala Rei menoleh sedikit demi sedikit, mencari sumber tawa yang tidak seharusnya ada di pemakaman. Sepupu-sepupunya masih sibuk dengan wajah duka palsu. Bibi Bertha tetap dengan wajah berkerut yang tidak wajar karena kebanyakan botox, mau pura-pura sedih pun dia terlihat seperti sedang menahan buang air dan bersin secara bersamaan.

Tak ada yang tertawa.

Pendeta masih membaca doa dengan suara berat dan monoton. Angin kembali berembus, kali ini lebih pelan dan terasa dingin menusuk tulang. Tapi suara itu terdengar lagi. Suaranya serak seperti seseorang yang sedang menahan batuk.

Mungkin dari luar pagar makam. Mungkin dari jalan. Mungkin hanya imajinasinya yang terlalu aktif setelah kurang tidur dan terlalu banyak kopi.

“Rei…”

Suara seraknya terdengar lagi, dan bulu romanya meremang tanpa permisi. Sungguh tidak sopan. Rei menelan ludah susah payah, mencoba menoleh ke belakang dengan pelan seperti boneka yang lehernya rusak. Di belakangnya hanya ada kursi kosong.

Ah, salah dengar mungkin.

Ia menghela napas pelan, kembali fokus dengan pemakaman. Tetapi wajahnya seakan ditampar oleh hembusan angin dingin yang datang entah dari mana. Rasanya wajahnya membeku, matanya tertuju pada satu titik. Kursi kosong di belakangnya berpindah ke depan, di seberang peti mati lebih tepatnya.

Kursi itu tidak kosong lagi, ada seseorang duduk di sana. Ia mengenakan jas hitam dan topi layaknya pelayat lain, tapi kulitnya berwarna abu-abu, kulitnya keriput. Menempel pada tulang, matanya kosong. Benar-benar kosong karena tidak ada bola mata di sana, apalagi senyumnya yang seperti senyum labu Jack O'lantern. Dia melambaikan tangannya pada Rei, dan di tangan lainnya, ia menggenggam seikat bunga hellebore. Tertawa menukik seperti boneka badut yang dulu membuatnya menangis sewaktu masih kecil.

Rei berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Manusia orang-orangan sawah itu masih ada di sana. Duduk santai seakan sudah memesan tempat VIP untuk membuatnya merinding.

Senyumnya melebar dengan suara tawa khas badut mainan pasar malam. Seakan sudut bibirnya ditarik paksa hingga hampir menyentuh telinga. Tangannya masih melambai dalam gerakan pelan, layaknya boneka elektronik yang dipasang untuk mengundang pelanggan. Rei mencoba melihat ke sekeliling tapi semua masih menundukkan kepala. Seakan pria aneh itu tidak pernah ada di sana.

Rei ingin berpikir ini efek samping kurang tidur dan konsumsi kopi berlebihan. Tapi ketika pria itu bangun dari kursinya, melangkah menuju peti mati nenek Jeanne dalam tiga langkah. Kursinya membusuk.

Kursinya meleleh dan menghitam begitu si orang-orangan sawah itu berdiri untuk meletakkan bunga di tangannya ke peti mati. Rerumputan yang ia pijak bahkan menghitam dan mati, suhu udara menurun drastis. Rei bahkan bisa melihat uap muncul dari hidungnya ketika dia menghela nafas. Padahal matanya tertuju pada pria aneh setipis batang lidi itu. Barulah di situ dia sadar karena orang-orang di sekitarnya berteriak histeris. Lebih ke ketakutan sih.

Karena peti mati nenek Jeanne terbuka, menunjukkan mayat yang mengering dengan mulut menganga. Matanya terbuka tapi tidak ada bola mata di sana dan kulitnya keriput dan berwarna abu-abu kecoklatan.

Di situlah Rei baru sadar, kalau pria aneh itu menghilang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eleven

    "Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Ten

    Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nine

    Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eight

    Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Seven

    Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya bangun. Matanya mengerjap malas, memandang gorden seperti hendak mengajar benda tipis itu bertengkar. Rei menark tubuhnya turun dari kasur dengan langkah sempoyongan. Menarik gorden m9tif bunga itu dengan kesal. Cahaya remang-remang matahari pagi di ikutin teriakan ayam menyambut. Otot urat di kepala Rei mendadak berkedut, ayam-ayam di pekarangan rumahnya berkokok lagi. KOK KOK PEK—OGHHH Suara nyanyian cempreng ayan itu terputus karena sendal kelinci pink milik Rei melayang, dan menghantam tenggorokan ayam di bawah. "Diam!" gerutunya kesal. Binatang warna-warni tersebut bubar teratur setelah perjaka tanggung mereka tumbang oleh sendal kelinci pink. Rei merengut kembali, berjalan

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

  • Kota di Tengah Antah Berantah    One

    “Hei anak haram, tuan Powell memanggilmu.” sinis Olivia sambil merengut. “Hah?" Rei yang baru saja selesai mrasakan bulu romanya meremang seperti lampu disko menoleh dengan wajah melongo. Paman dan bibinya sudah bubar tratur menuju mobil masing-masing. Hanya Olivia yabg misg tersisah karena b

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Beginning

    Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke kota kecil di tengah antah berantah ini...kakiku kesemutan. Seperti ada semut dan kutu merayap di telapak kaki, naik hingga ke betis. Membangkitkan bulu roma remang-remang di tangan. Sungguh indah. Sepanjang mata memandang ada bangunan tua, sapi, jalanan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status