Share

Prolog

Penulis: Haze Hales
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 15:17:37

Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke kota kecil di tengah antah berantah ini...kakiku kesemutan. Seperti ada semut dan kutu merayap di telapak kaki, naik hingga ke betis. Membangkitkan bulu roma remang-remang di tangan.

Sungguh indah.

Sepanjang mata memandang ada bangunan tua, sapi, jalanan rusak dan ayam di atas pohon. Kenapa ada ayam di sana? Mana ku tau, mereka mungkin suka duduk cantik di atas pohon. Dan jika malam tiba maka pria bermata kambing akan datang mengetuk pintu.

Ya, kau tidak salah baca. Pria bermata kambing akan datang berkunjung ke rumah penghuni baru. Seperti sebuah ritual yang harus di lewati penghuni baru. Atau mungkin ucapan selamat datang dari kota terpencil ini.

Unik? Mungkin. Menyeramkan? Sudah pasti.

Sayangnya tidak banyak yang tau aturan tidak tertulis di tempat ini. Karena selalu saja ad kabar orang hilang, dan mereka semua adalah penghuni baru. Belum genap satu minggu menempati rumah baru, mereka sudah menjadi topik hangat warga. Kasihan? Kau tidak memiliki waktu untuk mengasihi manusia tanpa logika, dan kemampuan bertahan hidup layaknya ikan hias.

Tapi mau bagaimana lagi. Logika adalah hal mewah, ketika semua orang berlomba-lomba untuk jadi orang bodoh. Dan sok menjadi pahlawan kesiangan. Moorbridge bukanlah tempat bagi mereka yang ingin membuktikan, bahwa tingkat kemaskulinan mu serapuh tissue di bagi menjadi lima. Karena tempat ini akan menelan mu hidup-hidup, tempat ini tidak memiliki belas kasihan.

Satu kesalahan dan ucapkan selamat tinggal pada nyawamu. Jangan menjadi pahlawan kesiangan, jangan gegabah, buka mata, telinga dan semua indra yang kau miliki. Buka juga hidungmu jika perlu, kadang perubahan bau bisa menjadi indikasi penting.

Dan jangan pernah membukakan pintu meskipun ada suara rintihan minta tolong. Suara seseorang mencakar jendela ataupun pintu rumahmu. Tutup smua gorden jendela di rumah, dan kunci pintumu. Abaikan suaranya, dia akan berhenti sendiri kalau lelah.

Anggap saja ucapan selamat datang di Moorbridge. Karena tempat ini seaneh penduduknya yang terlihat bahagia namun depresi. Apa yang ku maksud?

Mana ku tau, aku sendiri bingung bagaimana mendeskripsikan tempat ini.

Oh ya, namaku Reihan Osbourne, kau bisa memanggilku Rei. Aku baru saja pindah ke sini karena mendapatkan warisan dari nenek. Rumah nenek jatuh padaku beserta sejumlah uang. Cukup untukku hidup mewah dan bermanja-manja dengan kucing di rumah.

Orang tuaku membuang ku ke tempat antah berantah ini. Setelah tau bahwa nenek ingin mewariskan rumahnya ke salah satu anaknya, atau cucunya yang sedang membutuhkan rumah.

Namun semua menolak dengan keras, meskipun penghuninya akan di berikan uang sebesar dua juta poundsterling. Itu bukan termasuk uang warisan mereka, nenek termasuk cukup kaya sehingga semua mendapatkan uang warisan cukup adil.

Tetapi aku masih heran, kenapa mereka menolak rumah gratis dan tambahan uang? Ternyata semua tau cerita tentang Moorbridge selain aku.

Tentu saja.

Mereka pasti bungkam agar aku mau menerima tawaran itu. Orang waras mana yang akan menolak rumah dua lantai dengan tiga kamar, ruang baca, ruang perapian, dapur luas dan suasana aesthetic pedesaan Inggris. Kenapa aku jadi seperti agen jual rumah.

Kembali ke cerita. Intinya mereka pastilah sudah berencana untuk membuangku ke sini, mengingat ibuku berusaha untuk menyingkirkan ku sejak aku lulus kuliah. Cerita lama tentang anak hasil selingkuh yang di benci keluarga besar. Dan berujung menjadi kambing hitam.

Yep, itulah aku.

Mereka pasti bersorak bahagia, karena yang harus berurusan dengan kota kecil laknat ini adalah aku. Sayangnya, nenek tidak sekejam mereka. Selain uang dan rumah mewah dua lantai di Moorbridge, nenek memberikanku buku kecil berisikan aturan. Mungkin lebih tepatnya panduan agar hidup selamat di sini.

Meskipun terkesan indah and estetik, dengan suasana kota kecil hampir seperti pedesaan zaman ratu Victoria. Tempat ini menyimpan aturan tak tertulis yang harus kau patuhi. Salah langkah sedikit makan nyawamu jadi taruhannya.

Atau tersiksa seumur hidup dengan teror mistis, dan kunjungan gaib lainnya. Nenek menuliskan semua aturan yang ia temukan dan ikuti selama tinggal di sini. Aturannya terdengar gila, bahkan rasanya seperti di tulis oleh orang tidak waras yang lepas dari rumah sakit jiwa. Tapi nenek bukanlah orang gila yang akan menuliskan hal nyeleneh seperti ini.

Dan sekarang giliranku untuk mengikutinya jika aku ingin selamat hidup di sini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Four

    Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di kagetkan dengan ayam, sekarang di tambah ada sapi di halaman belakang rumahnya. MUUUUUU Dan sapi itu malah dengan santainya memakani rumput di halaman belakang. Seakan mengejek Rei dan nasib jeleknya. "Ah, nasib, nasib." gumam Rei memandang kosong ke arah langit. Pertemuannya dengan tuan Powell bukannya menjelaskan alasan kenapa neneknya mewariskan rumah ini padanya. Malah membuat kepala Rei pusing dengan cerita masa lalu nenek Jeanne, dan kisah bagaimana beliau bisa jadi milyader, dengan menipu dan meniduri pria kaya. Mana peduli Rei dengan kisah nenek tua bangka itu, dia cuma ingin tau. Kenapa dari empat anak and sebelas cucu nenek Jeanne, Rei yang mendapatkan rumah ini. Di tamba

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Rei lansung lari ke lantai dua dan mengunci dirinya di kamar. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin membanjiri seluruh badan. Tidak peduli jika kasurnya agak berdebu, urusan batuk dan bengek bisa di pikirkan nanti. Dia tidak mau mati konyol hanya karena melihat setan menyerupai neneknya. Rei baru bisa tidur ketika jam tua di ruang tengah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ia akhirnya tertidur setelah semalaman meringkuk ketakutan dalam selimut. Rei baru bangun ketika matahari sudah mulai tinggi dan ayam-ayam mulai berisk di pekarangan belakang rumahnya. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit bagi Rei untuk mengumpulkan keberaniannya. Ia baru berani keluar dari dalam selimut sete

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Rei lansung lari ke lantai dua dan mengunci dirinya di kamar. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin membanjiri seluruh badan. Tidak peduli jika kasurnya agak berdebu, urusan batuk dan bengek bisa di pikirkan nanti. Dia tidak mau mati konyol hanya karena melihat setan menyerupai neneknya. Rei baru bisa tidur ketika jam tua di ruang tengah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ia akhirnya tertidur setelah semalaman meringkuk ketakutan dalam selimut. Rei baru bangun ketika matahari sudah mulai tinggi dan ayam-ayam mulai berisk di pekarangan belakang rumahnya. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit bagi Rei untuk mengumpulkan keberaniannya. Ia baru berani keluar dari dalam selimut sete

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Prolog

    Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke kota kecil di tengah antah berantah ini...kakiku kesemutan. Seperti ada semut dan kutu merayap di telapak kaki, naik hingga ke betis. Membangkitkan bulu roma remang-remang di tangan.Sungguh indah.Sepanjang mata memandang ada bangunan tua, sapi, jalanan rusak dan ayam di atas pohon. Kenapa ada ayam di sana? Mana ku tau, mereka mungkin suka duduk cantik di atas pohon. Dan jika malam tiba maka pria bermata kambing akan datang mengetuk pintu.Ya, kau tidak salah baca. Pria bermata kambing akan datang berkunjung ke rumah penghuni baru. Seperti sebuah ritual yang harus di lewati penghuni baru. Atau mungkin ucapan selamat datang dari kota terpencil ini.Unik? Mungkin. Menyeramkan? Sudah pasti.Sayangnya tidak banyak yang tau aturan tidak tertulis di tempat ini. Karena selalu saja ad kabar orang hilang, dan mereka semua adalah penghuni baru. Belum genap satu minggu menempati rumah baru, mereka sudah menjadi topik hangat warga. Kasihan? Kau tidak memi

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Beginning

    In memory of Jeanne Osbourne. Beloved grandmother, matriarch of the family and the greatest mother. Beloved grandmother, huh. Rei hampir saja tertawa di tengah pemakaman, ketika ibunya menyebut Jeanne sebagai nenek yang baik hati, penyayang, dan penuh belas kasih. Wow, rasanya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata tersebut. Nenek tercinta? Nenek sihir si iya. Rei memaksakan diri untuk tidak mendengus sinis mendengarnya. Beberapa anggota keluarganya sampai melotot, memperingatinya agar menjaga tingkah lakunya. Lucu sekali, anak bibi Bertha saja sejak tadi tidak mendengarkan, sibuk membalas pesan dari pria yang dia sukai. Sampai hidungnya tenggelam dalam ponselnya. Ia menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sekuat tenaga dia berusaha memberikan wajah sedih seakan dia sedang berkabung. Meski jatuhnya jadi seperti sedang menahan buang air besar. Siapa suruh mereka menyeretnya kemari. Biasanya mereka juga, menguncinya dia atas loteng jika hendak pergi m

  • Kota di Tengah Antah Berantah    One

    “Hei anak haram, tuan Powell memanggilmu.” sinis Olivia sambil merengut. “Hah?" Rei yang baru saja selesai mrasakan bulu romanya meremang seperti lampu disko menoleh dengan wajah melongo. Paman dan bibinya sudah bubar tratur menuju mobil masing-masing. Hanya Olivia yabg misg tersisah karena bibi Bertha masih bersandiwara sambil menangis dan meraung. Seakan dia yang paling kehilangan sosok seorang ibu. Menjenguk nenek saja ogah-ogahan, paling datang meminta uang setelah itu menghilang layaknya setan. Lucu kan. Rei ragu-ragu mulai melangkah menjauh, sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan tadi itu cuma halu, atau dia kurang kopi. Dan ya, tidak ada siapapun di sana. Mungkin cuma halu. Ya, cuma halusinasi saja. Rei menghela nafas, mempercepat langkahnya menuju mobil di mana bibi dan pamannya sudah menunggu. Tetapi sebuah tangan menghentikan langkahnya. "Rei." Ia menoleh, mendapati pengacara neneknya menahan puncaknya. "Tuan Powell?" Rei berbisik kaget.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status