Mag-log inIn memory of Jeanne Osbourne.
Beloved grandmother, matriarch of the family and the greatest mother. Beloved grandmother, huh. Rei hampir saja tertawa di tengah pemakaman, ketika ibunya menyebut Jeanne sebagai nenek yang baik hati, penyayang, dan penuh belas kasih. Wow, rasanya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata tersebut. Nenek tercinta? Nenek sihir si iya. Rei memaksakan diri untuk tidak mendengus sinis mendengarnya. Beberapa anggota keluarganya sampai melotot, memperingatinya agar menjaga tingkah lakunya. Lucu sekali, anak bibi Bertha saja sejak tadi tidak mendengarkan, sibuk membalas pesan dari pria yang dia sukai. Sampai hidungnya tenggelam dalam ponselnya. Ia menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sekuat tenaga dia berusaha memberikan wajah sedih seakan dia sedang berkabung. Meski jatuhnya jadi seperti sedang menahan buang air besar. Siapa suruh mereka menyeretnya kemari. Biasanya mereka juga, menguncinya dia atas loteng jika hendak pergi makan di restoran, atau merayakan natal ketika Rei masih kecil dan imut-imut. Bayangkan, anak kecil manis harus menahan rasa iri karena saudara sepupunya mendapatkan mainan. Sedangkan Rei harus mencuci piring dan gelas di belakang. Rei bertahan di sana hingga usianya delapan belas tahun, karena ayahnya bisa melaporkannya ke polisi sebagai anak hilang. Polisi pasti akan berpihak pada ayahnya dan ibu tiri tukang drama dengan air mata buayanya. Dan memutuskan kontak dengan keluarga besar ayahnya. Tetapi sekalinya menelfon, bukannya minta maaf atau basa-basi, mereka malah membawa Rei ke makam. Apalagi ini acara pemakaman nenek Jeanne. Wanita yang mengutuknya dan menghinanya sebagai anak haram. Ya, bukan salah Rei juga kalau dia sampai lahir. Siapa suruh ayahnya memasukkan penisnya ke lubang wanita lain tanpa kondom. Jadilah ia kambing hitam untuk disalahkan, dijadikan bahan pelampiasan dan segala tetek bengkeknya. Indah bukan? Matamu. Kalau bisa memilih dia lebih baik dilahirkan sebagai anak kucing yang lucu. Makan, tidur dan berak. Tidur seharian tanpa beban pikiran. Sayangnya alam semesta memilih menjadikannya anak haram sebagai bumbu pemanis hidupnya. Sungguh indah. Rei menatap peti mati neneknya sekilas. Peti kayu dengan ukiran bunga favorit nenek semasa hidupnya. Bunga lily. Bunga orang suci, bunga yang melambangkan kebaikan dan kepolosan, seakan ingin mengatakan bahwa nenek Jeanne adalah wanita polos dengan hati selembut pantat bayi. Wah puncak komedi. Seakan nenek lampir ini mau mengatakan dia tidak pernah berbuat dosa. Di sela-selanya terselip bunga lain yang membuat alis Rei menukik naik. Rei mengenalinya, Hellebore. Bunga musim dingin yang tetap mekar saat semuanya mati. Bunga yang sungguh berbanding terbalik artinya dari bunga lily, orang menyebutnya bunga mayat musim dingin, cocok sih. Entah siapa yang meletakkannya di sana. Mungkin salah satu kerabat yang sok estetik. Mungkin pendetanya sendiri, tapi mana mungkin pendeta meletakkan bunga yang artinya cukup buruk. Atau mungkin si nenek lampir sendiri sudah mengaturnya sebelum mati. Memastikan bahwa bahkan di kematiannya, dia tetap memberi lelucon terakhir. Rei hampir tersenyum tapi dia tahan karena tatapan maut bibi Bertha serasa menembus otaknya. Padahal kan dia ada jauh di sampingnya, calon nenek lampir ini tahu saja Rei hendak tertawa. Jadilah ia harus menelan kembali tawanya, berusaha terlihat sedih lagi. Menundukkan kepala memandang sepasang sepatu pantofel mulus dan rerumputan lembab. Angin dingin pertengahan bulan September ditemani gemerisik daun saling bergesekan, dan suara pendeta membacakan kitab suci. Rei mengangkat kepalanya sebentar, hendak melihat peti mati untuk terakhir kalinya, tapi matanya malah tertuju pada ukiran bunga di peti mati. Ukiran bunga lily putih tiba-tiba saja berubah menjadi hellebore. Dia tidak salah lihat kan. Bukannya tadi bunga lily putih. Mana mungkin salah lihat. Dan kenapa malah ada yang tertawa. Orang gila mana tertawa di pemakaman? Kepala Rei menoleh sedikit demi sedikit, mencari sumber tawa yang tidak seharusnya ada di pemakaman. Sepupu-sepupunya masih sibuk dengan wajah duka palsu. Bibi Bertha tetap dengan wajah berkerut yang tidak wajar karena kebanyakan botox, mau pura-pura sedih pun dia terlihat seperti sedang menahan buang air dan bersin secara bersamaan. Tak ada yang tertawa. Pendeta masih membaca doa dengan suara berat dan monoton. Angin kembali berembus, kali ini lebih pelan dan terasa dingin menusuk tulang. Tapi suara itu terdengar lagi. Suaranya serak seperti seseorang yang sedang menahan batuk. Mungkin dari luar pagar makam. Mungkin dari jalan. Mungkin hanya imajinasinya yang terlalu aktif setelah kurang tidur dan terlalu banyak kopi. “Rei…” Suara seraknya terdengar lagi, dan bulu romanya meremang tanpa permisi. Sungguh tidak sopan. Rei menelan ludah susah payah, mencoba menoleh ke belakang dengan pelan seperti boneka yang lehernya rusak. Di belakangnya hanya ada kursi kosong. Ah, salah dengar mungkin. Ia menghela napas pelan, kembali fokus dengan pemakaman. Tetapi wajahnya seakan ditampar oleh hembusan angin dingin yang datang entah dari mana. Rasanya wajahnya membeku, matanya tertuju pada satu titik. Kursi kosong di belakangnya berpindah ke depan, di seberang peti mati lebih tepatnya. Kursi itu tidak kosong lagi, ada seseorang duduk di sana. Ia mengenakan jas hitam dan topi layaknya pelayat lain, tapi kulitnya berwarna abu-abu, kulitnya keriput. Menempel pada tulang, matanya kosong. Benar-benar kosong karena tidak ada bola mata di sana, apalagi senyumnya yang seperti senyum labu Jack O'lantern. Dia melambaikan tangannya pada Rei, dan di tangan lainnya, ia menggenggam seikat bunga hellebore. Tertawa menukik seperti boneka badut yang dulu membuatnya menangis sewaktu masih kecil. Rei berkedip. Sekali. Dua kali. Manusia orang-orangan sawah itu masih ada di sana. Duduk santai seakan sudah memesan tempat VIP untuk membuatnya merinding. Senyumnya melebar dengan suara tawa khas badut mainan pasar malam. Seakan sudut bibirnya ditarik paksa hingga hampir menyentuh telinga. Tangannya masih melambai dalam gerakan pelan, layaknya boneka elektronik yang dipasang untuk mengundang pelanggan. Rei mencoba melihat ke sekeliling tapi semua masih menundukkan kepala. Seakan pria aneh itu tidak pernah ada di sana. Rei ingin berpikir ini efek samping kurang tidur dan konsumsi kopi berlebihan. Tapi ketika pria itu bangun dari kursinya, melangkah menuju peti mati nenek Jeanne dalam tiga langkah. Kursinya membusuk. Kursinya meleleh dan menghitam begitu si orang-orangan sawah itu berdiri untuk meletakkan bunga di tangannya ke peti mati. Rerumputan yang ia pijak bahkan menghitam dan mati, suhu udara menurun drastis. Rei bahkan bisa melihat uap muncul dari hidungnya ketika dia menghela nafas. Padahal matanya tertuju pada pria aneh setipis batang lidi itu. Barulah di situ dia sadar karena orang-orang di sekitarnya berteriak histeris. Lebih ke ketakutan sih. Karena peti mati nenek Jeanne terbuka, menunjukkan mayat yang mengering dengan mulut menganga. Matanya terbuka tapi tidak ada bola mata di sana dan kulitnya keriput dan berwarna abu-abu kecoklatan. Di situlah Rei baru sadar, kalau pria aneh itu menghilang.Hutan Blackwood tidak terlihat menakutkan dari kejauhan.Itu adalah hal pertama yang Rei pikirkan ketika mereka sampai di tepi hutan. Dia mengharapkan sesuatu yang gelap. Sesuatu yang penuh dengan pohon-pohon mati dan kabut tebal dan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang.Tapi yang dia lihat hanyalah hutan biasa. Pohon-pohon tinggi dengan daun yang hijau. Cahaya matahari yang menembus celah-celah dahan. Semak-semak yang tumbuh liar di antara akar-akar yang menonjol. Bahkan ada suara burung berkicau dengan riang, seperti tidak ada yang salah dengan tempat ini."Kau yakin ini tempatnya?" tanya Kieran pelan.Rei mengangguk pelan. "Aku yakin."Dia bisa merasakannya. Tarikan itu. Sesuatu yang halus tapi kuat. Sesuatu yang menariknya ke dalam hutan. Ke arah sesuatu yang menunggu di sana.Kieran menatap hutan itu selama beberapa detik. Kemudian dia mengangkat tasnya dan mulai berjalan. "Baiklah. Ayo kita masuk."Rei mengikuti. Langkahnya mantap. Langkahnya penuh tekad.Mereka mel
Rei bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya.Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanya duduk di sofa ruang tengah dengan cermin di pangkuannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang pintu itu. Pintu kayu tua yang berdiri di tengah halaman. Pintu yang tidak ada di Moorbridge yang dia kenal.Tapi sekarang, cermin itu sudah tidak ada di pangkuannya. Sudah dia letakkan di meja. Sudah dia bungkus dengan kain. Sudah dia sembunyikan di bawah tumpukan buku di ruang kerja neneknya.Dia tidak ingin melihatnya lagi. Setidaknya, tidak sekarang.Rei duduk di sofa selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai hari. Dia bisa mendengar ayam-ayam berkokok di luar. Dia bisa mendengar sapi-sapi gondrong bersuara. Dia bisa mendengar suara kicau burung yang entah dari mana. Semua suara normal. Semua suara yang biasa dia dengar setiap pagi.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Rei menoleh ke jendela. Gorden masih tertutup, tapi dia bisa melihat cah
Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar
Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban
"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di







