Dalam sekejap, kaki Megan sudah tidak menapak lantai.Satu tarikan kuat dari Daniel, dan tubuh ringannya terangkat seperti kain yang tertiup angin. Pantatnya mendarat di atas meja marmer yang dingin, sejurus kemudian, tubuh besar Daniel menghimpitnya dari depan, berdiri kokoh bagai tiang beton yang tak akan tergoyahkan badai sekalipun.Megan mendongak. Pria itu menatapnya dari atas, sorot matanya gelap, tidak bisa ia baca."Kau ini kenapa?" Megan memecah kesunyian, suaranya terdengar cemberut meskipun jantungnya berdetak tidak karuan. "Kenapa aku harus ganti rugi? Kau kan punya banyak baju! Apa salahnya aku meminjam satu?"Ia menunjuk-nunjuk ke arah Daniel dengan jari telunjuk, berusaha terlihat berani meskipun posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan."Lagi pula..." suaranya mengecil sedikit. "Aku belum sempat membeli banyak baju."Daniel tidak menjawab. Ia justru mengangkat tangannya perlahan, Megan refleks menegang, lalu jemari pria itu menyentuh pipinya. Belaian lembut. Lembu
อ่านเพิ่มเติม