Malam itu, Daniel kembali.Tidak ada suara mesin mobil yang menggeber. Tidak ada teriakan anak buahnya. Hanya bunyi pintu terbuka pelan, berat, lalu tertutup dengan desahan panjang yang hampir tak terdengar.Pria itu melangkah masuk seperti bayangan yang lelah, tanpa suara, tanpa sapaan, bahkan tanpa sekadar anggukan ke arah Megan yang sejak tadi duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel baru di tangannya.Megan menatap punggung Daniel yang membelakanginya. Jas hitamnya masih melekat, rambutnya sedikit berantakan, dan ekspresinya tampak lelah.Tapi Daniel tidak bercerita.Dan Megan, untuk beberapa saat, memilih diam.Hingga pria itu melangkah keluar menuju halaman belakang, membiarkan pintu kaca terbuka sedikit, lalu berdiri di tengah kegelapan dengan sebatang rokok yang mulai menyala.Megan menahan rasa penasarannya selama beberapa menit, hingga akhirnya ia bangkit, berjalan pelan menuju ambang pintu kaca, dan berhenti tepat di batas antara cahaya ruangan dan gelapnya malam."Ada bebera
Read more