Lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula The Iron Council membiaskan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Gia, atmosfer di ruangan itu tetap terasa kelam.Gaun hitam berbahan sutra premium yang ia kenakan memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan sekaligus misterius.Sebagai putri dari seorang pria yang pernah memimpin klan besar, Gia tahu betul cara berjalan di antara para predator ini. Dia tampak menegakkan punggung, dagunya terangkat, dan wajahnya tetap tenang layaknya porselen mahal, meski di balik itu hatinya sedang tercabik.Marco Rossi berdiri di sampingnya, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Tangan pria itu melingkar di pinggang Gia, mencengkeramnya dengan tekanan yang lebih dari sekadar pelukan hangat, itu adalah klaim kepemilikan.“Tersenyumlah, Gia. Semua mata tertuju padamu,” bisik Marco tanpa menoleh, suaranya sedingin es.“Aku sudah tersenyum sejak tadi, Marco. Kau ingin aku melakukan apa lagi? Menari?” jawab Gia pelan, nyari
Last Updated : 2026-05-01 Read more