"Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se
続きを読む