Share

Membeli Harga Diri

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-09-13 11:13:27

"Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.

Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang.

"Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."

Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya.

"Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Membeli Harga Diri

    "Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Tuntutan Tak Masuk Akal

    Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menghadapi Dengan Tenang

    Hening seketika menyelimuti lobi utama saat langkah tegas Fero dan Adista menggema di atas lantai. Puluhan pasang mata karyawan yang semula berbisik-bisik kini terdiam kaku, membelah jalan secara otomatis untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut."Fero!"Zia menjerit histeris. Tanpa memedulikan tatapan puluhan orang, ia berlari kencang menerobos kerumunan dan langsung menabrakkan tubuhnya ke dada Fero. Kedua lengannya melingkar erat di leher pria itu, sementara wajahnya ditenggelamkan di ceruk bahu Fero diiringi isak tangis yang memekakkan telinga."Fero, akhirnya kamu datang! Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku! Ayo kita pulang, Fero! Tinggalkan perempuan ini sekarang juga!" ratap Zia, air matanya membasahi kemeja mahal yang dikenakan Fero.Fero mematung selama satu detik, sebelum rahangnya mengeras. Dengan tatapan sedingin es dan raut wajah penuh penolakan, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Zia dan melepaskan pelukan itu secara paksa. Ia mendorong tubuh Zia cukup keras

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Datang Melabrak

    Suasana sibuk yang biasanya diwarnai oleh dering telepon dan suara ketikan di lobi utama perusahaan Adista mendadak terhenti total. Pintu kaca otomatis di bagian depan terbuka lebar, menampilkan Zia dan Tari yang melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura arogansi yang kental. Di belakang mereka, pengacara Surya dan dua asistennya berjalan mengekor."Maaf, Ibu. Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Ibu sudah membuat janji temu sebelumnya?" sapa resepsionis lobi dengan ramah, berusaha menahan rombongan itu di meja depan.Tari menggebrak meja resepsionis dengan telapak tangannya, membuat gadis penjaga meja itu tersentak kaget."Janji temu?! Kamu pikir saya butuh jadwal untuk melabrak perempuan perebut calon suami orang?!" teriak Tari, suaranya melengking tajam membelah keheningan lobi.Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Kepala-kepala mulai menoleh ke arah sumber keributan."Maaf, Ibu... maksud Ibu siapa?" tanya resep

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Rencana Balas Dendam

    Roda koper mahal bermerek Louis Vuitton itu berderit mulus di atas lantai lobi Hotel Kempinski Jakarta. Dua bellboy berseragam rapi berjalan menunduk hormat di belakang Zia dan Mama Tari, membawakan sisa barang bawaan mereka yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran orang yang hanya berniat melabrak.Mama Tari mengibaskan rambut blow-nya yang sempurna, membenarkan letak kacamata hitam berbingkai emasnya meski mereka berada di dalam ruangan ber-AC yang sejuk."Tadinya Mama mau membiarkan kamu berangkat sendirian ke Jakarta, Zia. Biar kamu belajar mandiri menghadapi masalah," keluh Tari dengan nada manja, melangkah angkuh menuju lift khusus VIP. "Tapi, setelah Mama pikir-pikir lagi semalaman, mana tega Mama melepas anak gadis kesayangan Mama satu-satunya ke kota sekeras ini sendirian?"Zia langsung merangkulkan lengannya ke lengan sang ibu, tersenyum lebar dengan riasan wajah yang tebal."Makanya Zia sayang banget sama Mama! Kalau Zia berangkat sendiri, Zia pasti kebingungan, Ma. Jakar

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Lembar Kenangan

    Gerbang besi raksasa berukir tembaga itu bergerak membuka perlahan, menyambut kedatangan mobil yang membawa Fero dan Adista memasuki pelataran Kediaman Utama Adiwangsa. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi itu memancarkan kemegahan yang luar biasa.Di depan pintu utama, Kakek Hardian sudah berdiri menanti. Senyum pria paruh baya itu merekah lebar, mengalahkan gurat kelelahan di wajahnya. Rama, sang asisten setia, berdiri di belakangnya dengan sikap hormat.Begitu Fero dan Adista turun dari mobil, Hardian langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya."Selamat datang, cucuku. Selamat datang di rumahmu," sambut Hardian dengan suara bergetar menahan haru.Fero tersenyum, kali ini jauh lebih rileks dari pertemuan pertama mereka. Ia melangkah maju dan membalas pelukan kakeknya dengan hangat."Terima kasih, Kek. Rumah ini... luar biasa besar. Saya sampai bingung harus melihat ke arah mana lebih dulu," ucap Fero jujur.Hardian tertawa pelan

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hari Pernikahan

    Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menikahlah Denganku

    "Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Malam Kita

    Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status