Maura masuk mobil dengan aura dingin, melempar bantal leher ke jok sebelah, lalu membanting pantatnya dramatis.Fadel menelan ludah, refleks mengecilkan volume radio yang sedang memutar lagu galau."Mana suamimu, Ra?" tanya Fadel hati-hati, kepalanya menengok sedikit ke belakang."Nggak apa-apa, Pak. Jalan aja," sahut Maura ketus, sengaja menekankan kata 'Pak' seolah-olah semua orang bergelar dosen di dunia ini sedang masuk ke dalam daftar musuh bebuyutannya."Ya kali gue jalan sendirian, Ra! Bisa diamputasi status kepegawaian gue." cicit Fadel ngenes.Fadel mendadak merasa seperti supir taksi online yang terjebak di antara pasutri yang sedang dalam pertengkaran rumah tangga.Sebentar kemudian, sosok yang di tunggu itu datang.Alih-alih membuka pintu depan seperti sebelumnya, sosok tinggi tegap itu mendadak merangsek masuk ke baris tengah, menduduki ruang kosong tepat di sebelah Maura.Pintu ditutup kasar. Untuk ukuran pria sekaku Bumi yang selalu menjaga etika kesopanan berkendara, g
Read more