Aroma masakan bumbu rempah dan panggangan daging premium mulai menyeruak, memenuhi ruang makan Mansion Wibisono yang plafonnya dihiasi kristal-kristal berkilauan. Beberapa pelayan tampak sibuk, bergerak tanpa suara, menata piring-piring porselen dengan ketelitian tinggi.Biasanya, Icha akan berada di sana—di balik meja dapur, membantu memotong sayuran atau menata buah. Namun hari ini, statusnya telah bergeser secara paksa. Bik Ira, yang melihat Icha hendak membantu, segera menahannya dengan wajah cemas."Jangan, Non. Ingat pesan dokter, luka di punggung Non masih sangat baru. Kalau Non terlalu banyak bergerak, jahitannya bisa stres. Biar Bibi dan yang lain saja yang urus di sini. Lebih baik Non ke ruang kerja, beritahu Tuan Besar kalau makan siang sudah siap," bisik Bik Ira dengan nada melindungi.Icha menghela napas. Meski merasa canggung karena harus diam sementara orang lain bekerja, ia menuruti kata-kata Bik Ira. Ia melangkah perlahan, setiap gerakannya masih terasa kaku karena ka
Last Updated : 2026-04-28 Read more