Begitu keluar dari kamar mandi, ia melihat keempat pemuda itu sudah duduk berderet di pinggir kasur. Yesica berhenti sebentar di ambang pintu, mendengar mereka berbicara dengan suara pelan.“Melinda sama pacarnya itu belum ketahuan ada di mana sekarang,” kata Stefan sambil menggeleng pelan, matanya masih terpaku pada layar ponsel.“Sialan, kalau ketemu lagi mau aku hajar habis-habisan deh,” potong Giancha sambil mengepal dan mengendurkan tangannya. “Padahal tadi udah aku hancurin hidungnya. Harusnya aku bisa patahin sekalian lehernya, cuma ingat keadaan waktu itu… ya udah, aku tahan.”Yesica masih mengingat jelas wajah Giancha saat masuk menerobos ke apartemennya. Tatapannya tajam dan penuh amarah, tetapi tangannya sangat lembut saat menahan tubuhnya sebelum ia pingsan.“Kamu gimana rasanya sekarang? Masih sakit nggak?” tanya Kairo sambil menatap mata Yesica lekat-lekat.“Capek banget, rasanya pengen tidur,” jawab Yesica dengan suara sera
続きを読む