Setelah melewati jalur khusus, dan menitipkan ponsel yang ternyata tidak diperbolehkan di dalam, kami sampai di sebuah ruangan yang kurasa hanya diperuntukan untuk tamu VIP. Terlihat dari penjagaannya yang ketat, akses terbatas, juga fasillitas yang diberikan. Sebenarnya aku tidak siap untuk acara seperti ini. Semua orang tampak sangat glamor dan berkelas, sedangkan aku merasa seperti anak Itik di tengah sekumpulan Soang. Tak terlihat, kumuh, dan bisa saja tenggelam. Namun, genggaman tangan Kang Epen menguatkan, memberiku kepercayaan diri untuk tampil apa adanya. Karena meski statusku dan orang-orang kaya ini berbeda, di hadapan Tuhan kita tetap sama. “Welcome to our shit family,” bisik Kang Epen pelan tepat saat sepasang pengantin beda usia itu berjalan menghampiri kami. Aku langsung menelan ludah. Kalau sudah begini, sepertinya benar dugaanku sejak awal. Hubungan keluarga ini memang bermasalah. “Thank you for coming, Evan,” ucap pria paruh baya di depan kami sambil mengulurk
اقرأ المزيد