登入Suasana bising dari aula restoran yang ramai perlahan meredup ketika Heri memutar gagang pintu kayu jati tebal, membawanya dan Sintya masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.Pintu tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, mengisolasi mereka di dalam ruangan beraroma kayu cendana dan kulit sintetis yang elegan.Heri melepas kancing jas hitamnya, membiarkan dadanya yang bidang sedikit lebih leluasa bernapas setelah melayani lusinan tamu.Namun, fokus sepasang mata elangnya sama sekali tak beralih dari sosok Sintya.Wanitanya itu berjalan anggun mengelilingi meja kerja, meraih sebuah buku catatan keuangan edisi terbatas, lalu berbalik menatap Heri dengan binar profesionalisme yang begitu memikat."Restoran ini potensinya besar banget, Heri," ujar Sintya, suaranya berubah menjadi nada pebisnis yang tegas namun tetap lembut."Tapi kalau kamu mau bisnis ini bertahan puluhan tahun dan berkembang jadi franchise besar, kamu harus paham betul cara mengelolanya dengan baik dan benar."Sintya m
Lampu-lampu gantung kristal di langit-langit restoran bernuansa industrial-luxurious itu membiaskan pendar keemasan yang megah.Aroma olahan daging panggang berkelas dan harum anggur merah memenuhi udara.Hari ini adalah hari peresmian restoran baru milik Heri, sebuah pencapaian besar yang menandai transformasi penuh sang mantan pengawal menjadi pengusaha mapan di ibu kota.Heri berdiri tegap di tengah aula utama, terbalut setelan jas hitam berpotongan presisi yang membungkus sempurna postur tubuhnya yang tinggi, kekar, dan penuh wibawa.Sepasang mata elangnya mengawasi setiap sudut ruangan dengan ketelitian taktis. Namun, ketenangan maskulinnya mendadak diuji saat rombongan tamu spesial mulai berdatangan.Selain rekan-rekan bisnis dan kawan-kawan lamanya yang setia, deretan wanita dengan gaun pesta glamor—para sahabat sosialita Sintya, termasuk Karin turut hadir memenuhi ruangan.Karin, yang mengenakan gaun merah berpotongan rendah, melangkah menghampiri Heri dengan senyuman centil d
Dinding intim Sintya yang masih berdenyut pasca-klimaks pertama menyambut hangat ujung kejantanan Heri yang sudah berurat tebal dan membara.Namun, tepat ketika Heri hendak menghantamkan panggulnya ke depan untuk penyatuan mutlak, Sintya mendadak menahan kedua bahu kekar Heri dengan dorongan bertenaga.Binar mata Sintya redup, namun memancarkan kilat dominasi yang mendadak meledak.Dengan gerakan lincah dan tak terduga, Sintya membalikkan posisi mereka di atas ranjang.Tubuh mulusnya yang bertelanjang bulat kini berada di atas Heri, menindih perut six-pack sang mantan pengawal yang mengeras kaku."Malam ini... biar aku yang pegang kendali, Heri," bisik Sintya parau dengan senyuman miring yang teramat seksi dan menantang.Heri menaikkan sebelah alis tegapnya. Sepasang mata elangnya meredup, terkejut sekaligus tertantang melihat keberanian wanitanya yang memegang kendali.Pria bertubuh kekar itu membiarkan kedua tangannya terhampar di atas sprei, mengalah untuk sementara pada skenario l
Genggaman jemari Heri pada sprei linen putih itu mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat lengan bagian dalamnya menonjol tebal seperti akar pohon yang hendak pecah.Sensasi rongga mulut Sintya yang hangat, basah, dan menyedot ujung kejantanannya secara ritmis bagaikan sirkuit listrik bertegangan jutaan volt yang langsung menghantam saraf tulang belakang sang mantan pengawal."Ssshh... FUCK, Sintya! Cukup... tahan dulu!" geram Heri yang teramat parau, berat, dan pecah oleh gairah yang membakar.Heri tidak bisa membiarkan wanitanya mengendalikan permainan secepat ini. Naluri dominan dan jiwa teritorialnya menuntut kontrol mutlak.Sebelum Sintya sempat menyedot lebih dalam, Heri menyambar kedua bahu mulus wanita itu dengan cengkeraman tangannya yang besar dan bertenaga.Dengan satu sentakan taktis yang perkasa, Heri menarik tubuh Sintya berdiri dari tepi ranjang, lalu menghempaskannya telentang di atas kasur king-size yang empuk.BRUK!Matras tebal itu berguncang hebat.Be
Malam kembali memeluk Jakarta dengan keheningan yang dingin di balik jendela kaca kamar utama apartemen megah itu.Setelah menyuruh Nathan tidur di kamarnya yang nyaman, Heri berdiri mematung di sisi ranjang king-size.Pria bertubuh tegap itu baru saja selesai membersihkan diri, hanya mengenakan celana kain santai berwarna hitam yang menggantung rendah di pinggulnya.Otot-otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang bertelanjang memantulkan pendar remang dari lampu tidur bernuansa keemasan.Suara gemericik air dari dalam kamar mandi utama perlahan terhenti.Heri memutar tubuhnya perlahan, menyilangkan kedua lengan kekarnya di atas dada.Ritme napas baritonnya mulai tak beraturan saat pendengarannya menangkap bunyi klik lembut pintu kamar mandi yang terbuka.Sesosok tubuh anggun melangkah keluar menembus uap hangat.Sintya berdiri di sana, membiarkan rambut panjangnya yang sedikit basah terurai bebas menutupi satu bahunya.Namun, bukan tatanan rambut itu yang menghentikan pasokan udara
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika mobil mereka kembali terparkir di area mall megah yang sama.Sintya, yang begitu paham bagaimana memanjakan anak-anak, sengaja membawa mereka ke arena permainan Timezone terbesar di lantai atas. Ia tahu betul Nathan belum puas menjelajahi keseruan ibu kota.Begitu melangkah melewati gerbang utama yang dipenuhi kelap-kelip lampu neon dan dentuman musik arena permainan yang meriah, mata Nathan langsung membola lebar.Sintya menyodorkan sebuah kartu permainan bernuansa emas yang sudah terisi saldo tanpa batas."Nih, kartunya tinggal kamu tap aja di mesin mana pun yang kamu mau," bisik Sintya lembut sembari menyerahkan kartu itu ke jemari Nathan.Nathan memegang kartu tersebut dengan tangan gemetar saking bahagianya. Wajah polosnya berbinar-binar penuh ketakjuban."Astaga, Mama. Dulu Nathan cuma bisa lihat tempat kayak begini di TV doang. Eh, sekarang bisa main langsung di sini!"Sintya mengusap pucuk kepala Nathan dengan binar kasih sayang
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







