LOGINHeri menyandarkan Punggung tegapnya yang berotot pada tumpukan bantal tebal di kepala ranjang kamar VIP.Kemeja pasien berwarna biru muda terpasang rapi, menutupi balutan kasa steril yang melingkar erat di perut kirinya.Rasa panas dan nyeri yang membakar masih menyengat tajam setiap kali pria bertubuh tinggi besar itu menggeser posisi duduknya, namun rahang tegas Heri tetap terkunci rapat tanpa menunjukkan rasa lemah sedikit pun.Sintya duduk setia di pinggir tempat tidur. Dengan telaten, tangan cantiknya memegang cangkir berisi air hangat ber-sedotan, menyodorkannya perlahan ke bibir Heri."Pelan-pelan minumnnya, Heri," bisik Sintya lembut.Matanya yang sembap kini memancarkan Binar kebahagiaan yang tak bertepi, bibir tipisnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum lega melihat calon suaminya sudah bisa diajak bicara.Heri meminum air hangat itu beberapa teguk, merasakan tenggorokannya yang tadinya kering kerontang perlahan membaik.Sepasang mata elang Heri menatap lekat wajah Sin
Dua hari berlalu begitu cepat di dalam ruang perawatan intensif rumah sakit.Suasana hening dan dingin menyelimuti ruangan steril itu, hanya dihiasi bunyi konstan dari monitor detak jantung yang berdetak teratur.Sintya tak pernah lelah dan setia duduk di samping ranjang ICU, memegangi jemari besar Heri yang masih teraba agak dingin.Wanita itu enggan beranjak jauh, menyandarkan kepalanya di tepi kasur busa putih sembari mengawasi setiap helaan napas calon suaminya.Suasana haru mendadak membuncah hebat saat kelopak mata tebal Heri perlahan-lahan bergerak.Dengan usaha yang amat berat, sepasang mata elang pria tegap itu terbuka sempurna. Pandangan mata Heri yang tadinya kabur dan membayang hitam perlahan mulai fokus.Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sosok Sintya yang sedang tertidur lelap, menyandarkan kepala tepat di sebelah tangannya dengan wajah yang tampak lelah.Heri mencoba menggerakkan jemari tangannya yang kaku. Tenggorokannya terasa teramat kering dan te
Usai membasuh diri dan menyegarkan badannya dengan air hangat, Maman melangkah menuruni anak tangga menuju ruang tengah.Pria bertubuh tegap itu kini hanya mengenakan celana kain kargo miliknya yang telah bersih, memperlihatkan dada bidang berotot serta otot lengan kirinya yang kokoh dan berurat.Rambut pendeknya yang agak basah diusapnya santai menggunakan handuk kecil.Di ruang tengah, Karin baru saja meletakkan secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis di atas meja kaca.Begitu mendengar langkah kaki berat Maman mendekat, Karin berpaling. Tatapan matanya seketika terkunci kaku, menyisir lekuk otot dada dan perut Maman yang terpampang nyata tanpa balutan kain."Kopi panasnya sudah siap, Mas Maman," ujar Karin dengan suara yang mendadak agak serak dan pelan.Maman melangkah mendekat, menghentikan gerakannya tepat di hadapan Karin."Terima kasih, Karin."Saat Maman menerima cangkir kopi tersebut dan meminumnya seteguk, jarak di antara mereka berdua tersisa amat tipis. Karin tak me
Roda-roda besar SUV hitam itu bergulir mulus membelah jalanan kota yang mulai ramai.Di balik kemudi, Maman menatap lurus ke depan, kedua tangan besarnya mencengkeram lingkar kemudi dengan stabil meski raut lelah yang teramat sangat tak bisa sepenuhnya disembunyikan dari wajah tegasnya.Di kursi penumpang, Karin melirik ke arah Maman secara diam-diam.Wanita itu memperhatikan rahang tegap Maman yang ditumbuhi brewok tipis, mata elang yang agak merah karena tidak tidur semalaman, serta postur tubuhnya yang tetap tegap kokoh memancarkan ketegasan jantan."Mas Maman," panggil Karin memecahkan keheningan di dalam kabin mobil."Ya, Karin?" sahut Maman pendek dengan suara bariton rendahnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan."Mas Maman kelihatan capek banget. Mata Mas Maman saja sampai merah begitu," kata Karin dengan nada khawatir yang jelas terdengar. "Gimana kalau mampir ke rumah aku sebentar?"Maman melirik sekilas lewat kaca spion tengah sebelum menoleh tipis ke arah Karin. "Ke r
Pagi hari menyingsing di koridor lantai tiga rumah sakit. Cahaya matahari tipis menembus jendela kaca di ujung lorong, memantul di atas lantai hospital yang dingin.Maman masih duduk tegak di kursi besi persis di sebelah pintu kaca ruang ICU.Pria bertubuh tegap itu sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam.Mata elangnya yang tajam terus bersiaga penuh, menyapu setiap sudut lorong dan pintu lift tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.Suara denting halus pintu lift di ujung koridor terdengar. Ting.Maman langsung berdiri cekatan, mengencangkan bahu bidangnya sembari membetulkan posisi jaket kulit hitamnya.Langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan koridor ketika Karin datang mendampingi Sintya dan Nathan.Anak laki-laki itu berjalan mungil di samping Sintya, sambil merapatkan pegangan tangan mungilnya pada jemari sang ibu.Nathan yang jujur dan polos menghentikan langkahnya sejenak, mengadah menatap tubuh tegap Maman yang menjulang kaku di depan pintu ICU."Om Maman..
Lampu ruang operasi berwarna merah di atas pintu ganda itu akhirnya padam sepenuhnya, berganti menyala hijau terang.Engsel pintu ganda terdorong lebar, memunculkan tim dokter dan perawat yang mendorong ranjang dorong Heri keluar secara perlahan.Tubuh tegap Heri kini terbaring lemah di atas kasur busa putih. Kemeja kargo kelabunya yang robek dan bersimbah darah telah digantikan oleh pakaian steril rumah sakit berwarna biru muda.Di hidungnya terpasang slang oksigen transparan, sementara jarum infus dan kabel pemantau detak jantung (ECG monitor) menempel rapat di dada bidang dan pergelangan tangannya.Pernapasannya naik-turun secara teratur meski matanya masih terpejam rapat dalam pengaruh obat bius total.Sintya langsung berlari mendekat, menempelkan kedua tangannya di pinggiran ranjang. "Heri... Heri..."Maman melangkah tegap di samping ranjang, matanya meneliti setiap alat medis yang terpasang di tubuh sahabatnya. Dokter bedah yang berjalan di samping ranjang menoleh menatap Maman
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.







