MasukLangkah kaki Heri, Maman, dan Karin berderap cepat memasuki ruang kerja pribadi di bagian belakang restoran.Begitu pintu kayu mahoni itu ditutup rapat dan dikunci dari dalam, Karin langsung menghentikan langkahnya, melempar tas kecilnya ke atas sofa, dan meluapkan kekesalannya."Aduh, gila ya! Capek-capek aku akting jadi cewek gatal godain dua penjaga pos yang mukanya kayak benteng begitu, eh ternyata si Reno bajingan itu nggak ada di dalam!" amuk Karin dengan napas memburu, wajahnya memerah padam."Sumpah ya, rugi banget aku! Mana tuh dua satpam sempat liatin aku dari atas sampai bawah lagi!"Maman yang sedang menuangkan air mineral ke dalam gelas langsung menyodorkannya pada Karin sembari tertawa kecil."Udah, Rin, jangan misuh-misuh begitu. Mungki si Reno lagi dapat rezeki aja hari ini karena nggak ketahuan di mana letak sebenarnya dia sembunyi.""Rezeki gundulmu!" sembur Karin makin sewot, menyambar gelas itu lalu meminumnya sampai kandas."Ngeselin banget! Aku udah ngebayangin k
Heri bergerak secepat kilat menyeberangi area teras belakang, memanfaatkan pilar-pilar beton besar sebagai tameng.Dengan satu isyarat tangan yang presisi, ia membagi arah gerak. Maman mengangguk paham, memisahkan diri menuju koridor timur rumah megah tersebut.Heri sendiri mengambil arah barat.Langkah kakinya yang terbungkus sepatu taktis bergerak tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai marmer yang mengkilap.Matanya bergerilya, membaca tata letak lorong interior rumah pejabat tersebut dengan cermat.Pria bertubuh tegap itu memutar gagang pintu pertama di lorong barat. Klek. Pintu terkunci dari luar.Tanpa membuang waktu, Heri bergeser ke pintu berikutnya.Ia mendorong pintu kayu jati berukir itu secara perlahan, hanya menyisakan celah tipis untuk matanya mengintip. Sebuah ruang kerja kosong bertumpuk berkas. Bukan tempat Reno.Saat Heri hendak melangkah menuju lorong tengah, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga utama."Sialan," umpat Heri
Mobil SUV hitam Heri terparkir di tempat yang aman tak jauh dari posisi Maman.Heri turun dengan gerakan cekatan, mengenakan kaos taktis hitam yang menempel ketat di tubuh kekarnya.Pria itu langsung menyusup masuk ke dalam mobil Maman untuk menyusun strategi bersama Karin."Jadi taktiknya gimana, Her?" tanya Maman dengan rendah.Heri menatap rumah megah Suryo dari balik kaca mobil, lalu mengalihkan pandangannya pada Karin yang duduk di samping Maman.Pria itu kini tengah menganalisis situasi dengan kepala dingin."Akses depan dijaga dua orang pengawal," ujar Heri dengan jarinya menunjuk secara presisi."Kalau kita bertindak kasar di depan, mereka bakal memicu alarm dan bikin Reno kabur dari pintu belakang. Kita butuh pengalih perhatian."Karin menyunggingkan senyum tipis, mengerti arah pandangan Heri. "Maksud kamu, aku yang jadi pengalih perhatiannya?" tanyanya memastikan.Heri mengangguk tegas. "Pakaian olahraga ketat kamu bisa dimanfaatkan. Kamu datangi dua penjaga di pos depan, bi
Mobil SUV hitam milik Maman terparkir statis di tepi jalan yang rindang, sekitar lima puluh meter dari gerbang tinggi sebuah rumah mewah bergaya klasik.Maman duduk di balik lingkar kemudi dengan teropong jarak jauh di tangannya.Mata tajamnya tak lepas mengawasi dua orang penjaga berseragam hitam yang berdiri siaga di depan pagar kediaman tersebut."Rumahnya besar, tapi penjagaannya ketat banget," gumam Maman pelan pada dirinya sendiri.Saat Maman sedang fokus mengamati pergerakan melalui kaca spion samping, mendadak pintu penumpang depan mobilnya diketuk dari luar.Maman tersentak kaget. Ia reflex menyembunyikan teropongnya di balik paha, lalu menurunkan kaca mobil sedikit.Di luar, berdiri seorang wanita muda berkaus olahraga ketat dan celana legging, sedang menyapu keringat di dahinya dengan handuk kecil."Karin?!" seru Maman dengan mata membola lebar, terkejut bukan main. "Kamu... lagi ngapain di sini?!"Karin justru mengernyitkan keningnya heran. Kemudian menatap Maman dengan pa
Keesokan harinya, suasana area penjemputan murid di sekolah swasta internasional itu tampak ramai.Heri tiba dua puluh menit lebih awal sebelum bel pulang berbunyi.Pria itu memarkirkan SUV hitamnya di posisi strategis, lalu turun dari mobil dengan langkah mantap.Kemeja hitam yang membalut tubuh kekarnya melekat ketat, menonjolkan postur tubuh mantan pengawal yang selalu siaga penuh.Mata elang Heri menyapu koridor utama sekolah. Tiba-tiba, binar matanya meredup pekat.Di dekat pintu gerbang utama SMP, ia melihat sesosok wanita berpakaian serba mencolok sedang membungkukkan tubuhnya.Mayang. Wanita itu sedang berdiri sangat dekat dengan Nathan yang baru saja melangkah keluar dari kelasnya.Mayang tersenyum manis yang dipaksakan, tangannya bahkan terulur hendak mengacak rambut Nathan dengan gestur yang sok akrab."Wah, Nathan makin ganteng aja ya. Mau Tante anter pulang nggak?" tawar Mayang dengan suara manis yang dibuat-buat.Nathan yang merasa asing dan risih memundurkan langkahnya,
Erangan Heri kian berat saat rahangnya mengetat menahan kenikmatan dari hisapan mulut Sintya yang tanpa ampun.Tidak sanggup lagi menahan gejolak pekat di dalam dadanya, tangan besar Heri menyambar kedua ketiak Sintya, mengangkat tubuh wanitanya berdiri dari lantai secara paksa.Heri menyudutkan Sintya ke dinding dingin di sebelah meja kerja. Tanpa memberi jeda bernapas, Heri berlutut di hadapan Sintya.Pria bertubuh tegap itu memisahkan kedua paha mulus wanitanya, menyandarkan satu paha Sintya di bahu kekarnya, lalu melesakkan lidah tebalnya kembali menjejaki liang intim Sintya yang masih basah bersimbah cairan orgasme sebelumnya.SLURP! SLURP!"AAAGHH! HERI! SSSH... FUCK!" Sintya menjerit histeris, kedua tangannya mencengkeram erat dinding di belakangnya.Lidah Heri bermain brutal, menjilat dan menyedot klitoris Sintya dengan tempo cepat yang langsung menyengat saraf kewarasannya.Tubuh Sintya berguncang hebat, panggulnya bergerak-gerak liar menolak sekaligus menagih siksaan lidah p
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n







