Pukul sepuluh pagi, langkah kaki yang berat, ragu-ragu, dan terseret terdengar mendekat dari arah koridor.Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Broto yang melangkah masuk seorang diri.Tidak ada lagi setelan jas buatan penjahit ternama, jam tangan emas berkilau, atau deretan pengawal bertubuh kekar yang biasa mendampinginya.Pria makelar itu tampil begitu lusuh dan berantakan; kemeja batiknya kusam tak teratur, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya yang merah merekah, dan paras mewahnya kini berganti menjadi wajah pucat pasi yang dipenuhi kecemasan serta ketakutan mendalam.Broto melangkah masuk bukan lagi sebagai makelar elit yang angkuh dan suka memeras investor, melainkan sebagai seorang pria yang telah kehilangan seluruh harta, pengaruh, dan pelindungnya dalam waktu satu malam.Broto berjalan mengikis jarak, menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan meja kerja Heri.Kakinya gemetaran hebat, napasnya memburu dan tersengal seolah-olah baru saja berlari marato
続きを読む