Beranda / Rumah Tangga / Istri Rahasia Tuan Hagan / Bab 3 Tawaran pekerjaan

Share

Bab 3 Tawaran pekerjaan

Penulis: Djulitas
last update Tanggal publikasi: 2026-05-01 22:58:16

Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara.

"Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Silahkan di ganti pakaiannya, karena tidak baik jika pakaian yang Mbak kenakan kering di badan."

Perempuan itu mematung, yang ia tahu, tadi ia sudah menolak untuk berganti pakaian ketika Hagan menawarkan. lalu kenapa pria ini datang memberinya pakaian baru?

Belum sempat Belvara bertanya lebih jauh padanya, pria itu sudah pergi, berjalan membelakangi Belvara.

***

Plang nama yang bertuliskan Yayasan Kinantan itu terpampang megah di pinggir jalan utama Ibu Kota, gedung berwarna putih yang dihiasi ornamen klasik dengan pilar-pilar tinggi yang berdiri kokoh seperti penjaga waktu.

Siapa yang tidak tertarik untuk bekerja di bawah naungan Yayasan Kinantan yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya, dengan kepemimpinannya yang berganti secara turun temurun, Yayasan pendidikan yang tersohor dengan kualitas pendidikannya bertaraf internasional ini, membuat para orang tua berlomba-lomba agar anak mereka bisa bersekolah di sana, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak kalangan konglomerat.

Belvara masih duduk di atas motornya, memandangi gerbang tinggi dan kokoh dengan ukiran besi yang rumit, membayangkan apa yang bisa ia lakukan dengan bekerja disini? Pendidikan? Pengalaman? Skil? Yang Belvara kuasai hanyalah skil mengurus anak dan pengalaman yang ia miliki hanya cara bertahan hidup dalam kepahitan.

Ia pun turun dari motor tuanya, perlahan menghampiri sekuriti di sana dengan Juna yang ia tuntun. “Permisi, Pak. Bisa saya bertemu dengan Pak Hagan?”

Sekuriti itu tertawa sumbang nyaris meremehkan, menatap Belvara dengan tatapan mengintimidasi. “Kalau mau minta sumbangan langsung aja ke kita, gak perlu harus ketemu Pak Hagan dulu.” tawa itu seolah tak pernah lepas dari para sekuriti yang terlihat merendahkan Belvara.

Belvara menatap nyalang para sekuriti itu, tentu ia tidak terima di pandang rendah seperti itu, ia dongakkan kepalanya seolah menantang. “Saya sudah ada janji sama Pak Hagan, kalau gak percaya, silahkan tanya.”

“Mbak, kami udah sering di datengin orang-orang modelan Mbaknya, kalau memang sudah ada janji tunjukin buktinya, gak sembarangan orang bisa nemuin Pak Hagan.”

Belvara mengerling, ia mengambil kartu nama yang kemarin Hagan berikan dan menunjukan pada sekuriti itu.

Sekuriti itu menatap kartu nama yang dipegangnya. “Mbak! Disini juga banyak kartu nama doang mah.” Sekuriti itu menunjukan keranjang kecil yang berisikan kartu nama yang sama.

Bagaimana Belvara meyakinkan para sekuriti ini? Sedangkan ia memang tidak memiliki bukti untuk janji temu mereka. Ah, apa sebenarnya Hagan mempermainkan Belvara, tahu begitu Belvara akan meminta kompensasi dengan sejumlah uang tunai saja, toh kemarin Hagan menawarkan uang hingga puluhan juta, bukan?

Suara klakson nyaring memecah kerumunan sekuriti di sana, mereka bergegas membuka gerbang kokoh itu, namun sebelum melewati gerbang, mobil Jeep Wrangler Rubicon putih itu menurunkan kaca jendela pengemudi, dan didapati Hagan ada di balik mobil itu.

Belvara mengulas senyum sekilas sambil menyampirkan helaian rambut ke belakang telinganya.

Pria bermanik coklat itu menaikan kacamata hitam yang ia kenakan ke atas kepalanya, menatap Belvara lamat-lamat.

“Biarkan perempuan itu masuk, dan antarkan keruangan Saya,” ucap tegas Hagan pada sekuriti.

“Percaya sekarang? kalau Aku sudah ada janji dengan beliau?.” Cukup pongah ucapan Belvara kali ini.

Sekuriti itu saling pandang dan mengedikkan bahu sebelum mengantar Belvara atas perintah Hagan.

***

Belvara menyapu pandangan saat pertama kali ia memasuki ruangan Hagan, interior klasik-modern dengan warna putih mendominasi yang menjadi tema ruangannya, seolah menggambarkan sosok Hagan itu sendiri.

Aroma maskulin Hagan yang selalu terngiang di pikiran Belvara kembali menyeruak, menusuk indra penciumannya.

Hagan duduk di kursi yang sudah seperti singgasana baginya, cerutu yang diapit oleh jemarinya itu ia tekan ke atas asbak untuk memadamkannya, ketika Belvara masuk ke ruangannya membawa Juna yang masih balita, seolah Hagan mengerti, asap rokok tidak baik untuk anak kecil.

Hagan sedikit melempar berkas berbalut map ke atas mejanya, dengan gestur mata yang mengindikasikan pada sang asisten untuk memberikannya pada perempuan yang kini berdiri di hadapannya.

“Silahkan duduk, dan baca-baca terlebih dahulu, posisi mana yang cocok untuk anda bisa bekerja di sini. Ingat! Saya tidak pernah menawarkan pekerjaan semudah ini,” jelas Hagan, setiap katanya penuh penekanan.

Belvara meraih berkas itu, dan mulai membacanya. Sebenarnya tanpa harus membacanya pun, seolah ia sudah hafal, tidak akan ada yang sesuai dengan spesifikasi pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan Hagan.

‘Jadi pekerja TU nimal lulusan D3, jadi guru disini minimal s1, tim penanggung jawab minimal s1. Serius gak ada minimal lulusan SMA, gitu?’

Perempuan itu membuka setiap lembarnya cukup cepat, lebih terlihat tidak benar-benar dibaca, kemudian ia menutup map itu dan mendorongnya perlahan sedikit menjauh darinya.

“Bagaimana?” tanya Hagan.

Belvara menggeleng. "Apa tidak ada pekerjaan lain selain yang tertulis di sini, Pak?"

“Semua yang tertulis diberkas itu adalah yang sedang Yayasan butuhkan.”

“Bukan untuk Yayasan, tapi untuk Bapak pribadi."

Hagan mendengus kesal, seraya dengan mata yang mengerling. “Jangan aneh-aneh, masih banyak yang harus Saya kerjakan. Saya tidak suka orang yang bertele-tele, sebutkan! Lowongan kerja apa yang kamu maksud?”

“Lowongan buat jadi pelayan Bapak?" Cukup lantang Belvara menuturkan, ia tahu, itulah skil yang ia miliki.

“Sudah ada Ibra yang jadi asisten Saya, tidak perlu pelayan lain. Dari sekian banyak posisi yang Saya tawarkan, kenapa Anda memilih jadi pelayan? Sebuah pekerjaan rendahan yang terpaksa mereka ambil karena tidak ada pilihan lain.”

"Yakin tidak kurang, Pak?" tanya Belvara dengan tatapan menyelidik pada pria bermanik kecoklatan itu.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   121. Akhir kisah tragis

    Belvara mendorong sekuat tenaga pria bertubuh kekar itu. Namun jabang bayi didalam perutnya seolah ikut berontak, membuat kedua tangannya mencengkram perut bulatnya, dan ia meringis nyeri. “A… aww….” Hagan mengamati raut wajah Belvara. “Kenapa, Sayang? Apa anak kita sudah waktunya lahir?” tanyanya. Sedikitpun tidak terlihat kepanikan di raut wajahnya, ia menyeringai. “Tenang.” Hagan mengelus pipi Belvara yang basah karena air mata. “Kalau Kamu tenang, anak kita tidak akan bereaksi yang bisa menyakiti Ibunya.” Belvara memukul bahu Hagan sekuat tenaganya, meski tak menimbulkan reaksi apapun pada pria itu. “Ini bukan anakmu, Mas. Ini anak Aku dan Mas Ibra.” Hagan terkekeh, dan mencengkeram leher Belvara dengan sebelah tangannya, emosinya memuncak kala mendengar pengakuan dusta Belvara. “jangan bohong! Sebelum Kamu meninggalkan Saya, kamu mengeluh sakit dan mual-mual, Saya sudah curiga kalau itu pertanda Kamu hamil.” “Mas, kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan? Kamu ngelarang A

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   120. Persembunyiannya terungkap

    Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   119. Percobaan

    Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   118. ngidam

    Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   117. terbelenggu rindu

    Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   116. periksa kandungan

    Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 7

    Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu. “Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak. “Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6. keinginan anak dan gengsi Hagan

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara denga

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5 Pengauh rasa Ibu

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasu

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4 Pelayan untuk sang Tuan?

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia berpikir sejenak, sudah cukup pelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri. Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah... Bapak bisa menyiapkan keperluan s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status