MasukKetika sang donatur secara langsung memberikan santunan itu, mata mereka beradu sepersekian detik di sana, nafas Belvara seolah tercekat, seakan lupa bagaimana caranya bernafas ketika berhadapan langsung dengan Hagan, ia terlalu fokus memandang pahatan visual yang Hagan miliki.
Bola mata kecoklatan milik pria itu berhasil mengunci fokusnya, juga aroma parfum maskulinnya menyeruak menusuk indra penciuman Belvara, hingga ia terus menarik nafas, seolah ingin menghabiskan udara yang ada disana. Belvara pun sidikit mendengar bisikan Hagan pada panitia santunan yang turut berjalan mengekorinya. “Kalau sudah sebesar ini, sudah tidak termasuk anak yatim, Pak. Dia sudah termasuk dewasa.” bisik Hagan terdengar lirih. “Dia bukan anak yatim, Pak. Tapi janda,” jelas seorang panitia. Mendengar bisikan itu, ia sadar, itu ditujukan untuk dirinya, Belvara menundukkan kepalanya semakin menunduk, bukan salah tingkah, melainkan ada sedikit rasa malu menghampirinya, hingga ia berpikir apa ada yang salah dengan dirinya?. Tubuh Belvara yang kecil mungil, sama sekali tidak terlihat bahwa ia seorang Ibu beranak satu, tubuhnya sama sekali tak berubah meski sudah melahirkan. Ia memiliki tubuh ramping, namun ia juga memiliki sesuatu yang sangat menonjol, andai ia tidak berpakaian longgar dengan jilbab yang menutupi dadanya, bagian itu selalu menjadi pusat perhatian ketika ia berpapasan dengan pria-pria mata keranjang. Acara santunan itu telah usai, Belvara kembali ke rumah kontrakannya dengan perasaan senang, hari ini sudah ada stok makanan dan beras, juga sedikit uang yang bisa ia pergunakan untuk kebutuhan lainnya. Ia mengelus lembut kepala Juna yang beruntungnya masih tertidur pulas saat ia tinggal. ‘Nak, Mama janji, akan membuat hidupmu jauh lebih baik, saat ini kita berjuang dulu sama-sama, ya…’ Pantulan dirinya di cermin mengalihkan perhatian, ia mendekat dan mengamati lekuk tubuhnya, ia sadar aset dalam dirinya yang saat ini ia miliki hanyalah tonjolan di bagian depan dan belakang yang lebih besar dari ukuran normal perempuan dengan tubuh mungil sepertinya. Bisa saja ia gunakan aset dalam dirinya itu untuk menggoda pria-pria hidung belang, tetapi Belvara memikirkan masa depan sang anak. Mungkin saat ini Juna belum mengerti, tatkala para tetangga mencemooh dirinya apabila ia menjadi perempuan penggoda, namun jika Juna sudah tumbuh dewasa, Belvara akan menjadi aib yang dapat mempermalukan masa depan sang anak. Ia pun membuka ponselnya, ia melihat berita yang sedang tranding di sosial media. ‘Apa Aku jadi ani-ani aja kayak Dia ya? Tapi gimana cara dapetin gadunnya?’ Belvara mengerjap seketika, saat ia sadar apa yang ia bayangkan tak lebih dari pikiran perempuan jahanam yang merusak rumah tangga perempuan lainnya. “Mama… mama…” sura rengekan Juna yang terbangun menetralkan pikiran negatif dan kalutnya yang terlalu lelah menanggung beban hidup. Tak ada siapapun yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri. Mata anak usia dua tahun itu berbinar, ketika didapatinya sekotak biskuit, dengan langkahnya yang masih gontai, Juna meraih biskuit itu, lalu memberikannya pada Belvara. “Mama… Bu…ka.” “Anak Mama hebat, bisa ambil makanan sendiri,” puji Belvara sambil ia elus lembut kepala botak sang anak. ‘Hari ini, Aku bisa sedikit santai di rumah, gak perlu menyusuri jalanan, karena stok makan sudah ada, tapi bagaimana dengan besok?’ Belvara menatap langit siang Ibu Kota, matahari bersinar cerah, teriknya seolah dapat membakar kulit yang telanjang. ‘Agak sorean nanti, Aku akan kembali menyusuri jalanan, biar Juna gak kepanasan Aku bawa motoran.’ Belvara yang hanya lulusan SMA dan sama sekali tidak memiliki skil lain selain menjadi seorang Ibu dan tukang ojek, mau bagaimana lagi cara ia bertahan hidup di tengah Ibu Kota selain mengerahkan apapun yang ia bisa asal menghasilkan uang yang halal. Andai nasibnya lebih beruntung, mungkin ia tidak akan menjadi tukang ojek sambil membawa anaknya yang masih kecil untuk ikut berkeliling. “Nongkrong depan grand mall, siapa tahu banjir orderan, Bel.” Sesama teman ojek onlinennya mengabari melalui pesan W******p. Setelah ia selesai menyuapi Juna, dan matahari sudah mulai meredup, ia pun bersiap untuk kembali menyusuri jalanan, sebagai ojek online pengantar pesanan. Saat ini hanya pekerjaan itu yang bisa ia gandrungi, di sambi membawa Juna.Ttidak mungkin ia bekerja dengan Juna menunggu di rumah, jika dititipkan pun, itu sudah sangat terpaksa ia lakukan, tetapi jika terus menerus ia harus putar otak bagaimana cara membayar orang yang ia titipi Juna selama sehari penuh. Membawanya bekerja adalah pilihan terakhirnya. Sampai di depan mall termewah di Ibu Kota, belum pun ia mematikan kendaraannya, sebuah notifikasi masuk di ponselnya, notifikasi pesanan yang mengharuskan ia segera memasuki mall mewah itu. ‘Alhamdulillah, Nak. Ibu langsung dapet orderan.’ Ia pun menurunkan Juna, mengajaknya berjalan dengan tangan yang selalu saling bertaut. Juna selalu antusias ketika di ajak Belvara memasuki mall, ia berjalan sambil berloncat-loncat kecil, khas anak kecil saat bahagia. Masih di luar mall, ia duduk sesaat, membalas pesan dari custemernya, namun saat Belvara kembali menengadah, matanya tak sengaja mengamati seorang anak permpuan berambut panjang yang di kuncir dua sedang menjulurkan tangan di kolam air mancur halaman mall, sepertinya anak itu ingin meraih bunga yang jatuh ke kolam.Belvara sempat khawatir melihatnya, bagaimana jika anak itu tercebur ke dalam kolam, sepertinya kolam itu cukup dalam untuk anak usia lima tahun.
Dan kekhawatirannya benar terjadi, anak perempuan itu tercebur kedalam kolam, membuat Belvara tak berpikir panjang, ia berlari sambil menggndong Juna mendekati kolam, kemudian Juna ia turunkan terlebih dahulu dari pangkuannya sebelum ia turun mengangkat anak itu dan mendudukannya di tepi kolam. “Kamu gak apa-apa, Nak? Dimana orang tua kamu? Kenapa kamu sendirian?” tanya Belvara, ia mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak seraya menenangkannya, dengan mengusap lembut pipinya. anak kecil itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk Belvara. "Tenang, ya cantik, gak apa-apa, Kamu udah aman kok." Belvara pun turut mendekapnya dan mengelus lembut punggung anak perempuan itu. Dari arah lain terdengar pekikan memanggil-manggil nama 'Ayas', dua orang pria sedang berlarian panik, mengitari area halaman mall. "Nama Kamu Ayas?" tanya Belvara pada anak itu. Anak perempuan itu mengangguk pelan. Dan Belvara pun berdiri, mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar dua pria itu melihatnya bersama anak yang sedang mereka cari. Agar lebih cepat, ia pun melangkah untuk mendekat, namun baru satu langkah, pekikan dari salah satu pria itu cukup menggelegar, membuat Belvara menghentikan langkahnya, ada keraguan pada dirinya untuk menghampiri dua pria di depan sana. "Kamu saya tugaskan buat jaga anak Saya, kenapa bisa kecolongan. Dia pergi tanpa sepengetahuan Kamu!" semua pasang mata tertuju pada mereka, begitu juga Belvara, ia merasakan atmosfernya menyesakkan mendengar suara itu. "Om-om itu kayaknya lagi cari Kamu, samperin ya. Bilang sama mereka kalau kamu aman." Ayas menggeleng, ia bergelayut di lengan Belvara, seolah merasakan kenyamanan di dekatnya. Belvara menghela nafas, ada sesal yang ia rasakan setelah menolongnya. ‘Bajuku basah kuyup, orderan di batalin karena kelamaan Aku nolong anak ini, tapi kalau gak di tolong, bisa-bisa nyawanya lewat.' Gumamnya, sambil mengibas-ngibaskan ujung bajunya yang basah. Seorang pria berperawakan tinggi dengan pakaian formal berlari menghampiri Belvara dan Ayas. "Kenapa anak Saya dan Kamu basah kuyup seperti ini?" tanya pria itu. Belvara menengadah, saat mendengar suara pria yang datang menghampiri mereka, mata Belvara membola hebat ketika ia dengan jelas melihat siapa pria yang berada di hadapannya saat ini. ‘Pak Hagan?’ Mata belvara membulat, seakan lupa caranya berkedip, ketika kedua mata mereka saling menatap. Mata kecoklatan milik Hagan terlihat bercahaya di bawah sinar matahari sore itu. Belvara menarik nafas dalam-dalam sebelum ia menjawab. "I—itu tadi... " "Aku jatuh ke kolam itu." Ayas menimpali dengan cepat. "Tante ini yang nolongin Aku." kemudian menunjuk Belvara. Kedua alis Hagan bertaut, menatap lekat pada Belvara yang basah kuyup. “Kamu…?” Hagan berpikir sejenak, sepertinya ia tidak asing dengan perempuan di hadapannya. "Benar, Anda yang nolong anak Saya?” Suara itu serak dan berat, tubuh tinggi menjulang berdiri tepat di hadapan Belvara, menutupi cahaya matahari sore yang jatuh di wajahnya. Belvara tertunduk, sorot mata Hagan yang seolah mengintimidasinya membuat tak berkutik. “Saya lihat anak Bapak mau ngambil bunga di kolam, terus jatuh, saya refleks nolong, Pak. Serius, Pak, saya cuma nolong, gak ada niatan apa-apa, Bapak bisa cek CCTV mall kalau gak percaya.” Hagan menyeringai tipis. “Pakaian Anda basah, biasanya Anda menggunakan pakaian ukuran apa? Biar asisten Saya ambilkan baju ganti.” "Hah?” Seolah Belvara memastikan. Indra pendengarannya pun mendadak tak berfungsi. Hagan menghela nafas. “Baju Anda basah karena menolong anak Saya, jadi Saya bertanggung jawab mengganti pakaian Anda.” Setiap kata yang Hagan ucapkan sungguh penuh penekanan. “Gak perlu, Pak,” ucap Ragu Belvara, sambil menarik tangan Juna mengajaknya pergi dari sana. “Saya tidak mau berhutang budi dengan siapapun, selesaikan disini juga sekarang! Silahkan pinta apapun yang anda inginkan.” ‘Gila… bener-bener nyermin Pak Hagan ini, mentang-mentang punya kuasa.’ Belvara pun kembali menghadap penuh pada Hagan. “Saya sudah nyelametin nyawa anak Bapak, masa imbalannya cuma ganti baju," ucapnya dengan lantang dan percaya diri, meski setelahnya ia baru tersadar, yang diucapkannya baru saja adalah refleks mengikuti apa kata pikirannya. ia pun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. 'Aduh salah ngomong.' Hagan mengikis jarak diantara mereka, membuat Belvara memundurkan langkahnya pelan. “Sebutkan, berapa yang Kamu inginkan? 10 juta? 20? 50?” Perempuan itu menelan ludahnya sendiri, giginya bergemeletuk di dalam rongga mulut karena menahan panik agar tak nampak di hadapan Hagan. “Kasih saya kerjaan tetap yang bisa sambil bawa anak dan juga tempat tinggal gratis.” Teramat lantang Belvara berucap, hingga menyelesaikannya dalam satu kali tarikan nafas. Hagan merotasikan bola mata, satu ujung bibirnya terangkat, diiringi tawa sarkas menyepelekan. “Skil apa yang Kamu kuasai? Banyak pekerjaan yang bisa Saya berikan, namun Saya harus memastikan pekerjaan itu jatuh pada orang yang tepat.” Dengan wajah masih tertunduk, Belvara berpikir dalam kebingungan. 'skil apa yang Aku kuasai?' Hagan berdecak kesal, terlalu lama menunggu perempuan itu menjawab, hingga ia kembali angkat suara. “Karena kamu memilih menukar pakaian dengan pekerjaan, jadi datanglah besok siang ke alamat itu, untuk mendiskusikan pekerjaan.” Hagan mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya kemudian memberikannya pada Belvara. Senang hati tangan Belvara terulur untuk meraih yang diberikan pria pemilik manik coklat dengan jambang tipis menghiasi rahang tegasnya itu. “Baik, Pak. Terima kasih.” Hagan memutar tubuhnya membelakangi Belvara yang masih berdiri seolah terpaku di sana, Hagan tak peduli setelahnya, yang penting ia sudah berusaha untuk bertanggung jawab pada yang sudah menolong putrinya. “Mama… om itu galak, Juna takut.” Rengekan Juna berhasil menyadarkan keterpakuan Belvara pada Hagan. “Oh? Iya sayang, gak perlu takut, ya. Selama masih ada Mama." Belvara melangkahkan kakinya perlahan sambil tertunduk, ia meratapi pada orderannya yang gagal ia selesaikan hari ini. 'ya udah lah, gak apa-apa, semoga benar—sebentar lagi Aku dapat pekerjaan lain, karena menolong anak Pak Hagan.' Langkahnya terhenti saat seseorang dari belakang menarik bahu Belvara. ***Belvara mendorong sekuat tenaga pria bertubuh kekar itu. Namun jabang bayi didalam perutnya seolah ikut berontak, membuat kedua tangannya mencengkram perut bulatnya, dan ia meringis nyeri. “A… aww….” Hagan mengamati raut wajah Belvara. “Kenapa, Sayang? Apa anak kita sudah waktunya lahir?” tanyanya. Sedikitpun tidak terlihat kepanikan di raut wajahnya, ia menyeringai. “Tenang.” Hagan mengelus pipi Belvara yang basah karena air mata. “Kalau Kamu tenang, anak kita tidak akan bereaksi yang bisa menyakiti Ibunya.” Belvara memukul bahu Hagan sekuat tenaganya, meski tak menimbulkan reaksi apapun pada pria itu. “Ini bukan anakmu, Mas. Ini anak Aku dan Mas Ibra.” Hagan terkekeh, dan mencengkeram leher Belvara dengan sebelah tangannya, emosinya memuncak kala mendengar pengakuan dusta Belvara. “jangan bohong! Sebelum Kamu meninggalkan Saya, kamu mengeluh sakit dan mual-mual, Saya sudah curiga kalau itu pertanda Kamu hamil.” “Mas, kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan? Kamu ngelarang A
Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin
Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan
Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra
Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang
Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin
Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasu
Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia berpikir sejenak, sudah cukup pelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri. Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah... Bapak bisa menyiapkan keperluan s
Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Si
Belvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan. Jika perempuan lain seusia Belvara sedang meni







