Share

Bab 2

Author: Djulitas
last update publish date: 2026-05-01 22:52:30

Puncak acaranya ketika sang donatur secara langsung memberikan santunan itu, mata mereka beradu sepersekian detik di sana, nafas Belvara seolah tercekat, seakan lupa bagaimana caranya bernafas ketika berhadapan langsung dengan Hagan, ia terlalu fokus memandang pahatan visual yang Hagan miliki.

Bola mata kecoklatan milik Hagan berhasil mengunci fokusnya, juga aroma parfum maskulinnya menyeruak menusuk indra penciuman Belvara, hingga ia terus menarik nafas, seolah ingin menghabiskan udara yang ada disana.

Dan Belvara sidikit mendengar bisikan Hagan pada panitia santunan yang turut berjalan mengekorinya.

“Kalau sudah sebesar ini, sudah tidak termasuk anak yatim, Pak. Dia sudah termasuk dewasa.” bisik Hagan terdengar lirih.

“Dia bukan anak yatim, Pak. Tapi janda,” jelas seorang panitia.

Mendengar bisikan itu, ia sadar, itu ditujukan untuk dirinya, Belvara menundukkan kepalanya semakin menunduk, bukan salah tingkah, melainkan ada sedikit rasa malu menghampirinya, hingga ia berpikir apa ada yang salah dengan dirinya?.

Tubuh Belvara yang kecil mungil, sama sekali tidak terlihat bahwa ia seorang Ibu beranak satu, tubuhnya sama sekali tak berubah meski sudah melahirkan. Ia memiliki tubuh yang kecil mungil, namun ia memiliki sesuatu yang sangat menonjol, andai ia tidak berpakaian longgar dengan jilbab yang menutupi dadanya, yang selalu menjadi pusat perhatian ketika ia berpapasan dengan pria-pria mata keranjang.

Acara santunan itu telah usai, Belvara kembali ke rumah kontrakannya dengan perasaan senang, hari ini sudah ada stok makanan dan beras, juga uang yang bisa ia pergunakan untuk kebutuhan lainnya.

Ia mengelus lembut kepala Juna yang beruntungnya masih tertidur pulas saat ia tinggal. ‘Nak, Mama janji, akan membuat hidupmu jauh lebih baik, saat ini kita berjuang dulu sama-sama, ya…’

Pantulan dirinya di cermin mengalihkan perhatian, ia mendekat dan mengamati lekuk tubuhnya, ia sadar aset dalam dirinya yang saat ini ia miliki hanyalah tonjolan di bagian depan dan belakang yang lebih besar dari ukuran normal perempuan dengan tubuh mungil sepertinya.

Bisa saja ia gunakan aset dalam dirinya itu untuk menggoda pria-pria hidung belang, tetapi Belvara memikirkan masa depan sang anak. Mungkin saat ini Juna belum mengerti, tatkala para tetangga mencemooh dirinya apabila ia menjadi perempuan penggoda, namun jika Juna sudah tumbuh dewasa, Belvara akan menjadi aib yang dapat mempermalukan masa depan Juna.

Ia pun membuka ponselnya, ia melihat berita yang sedang tranding di sosial media. ‘Apa Aku jadi ani-ani aja kayak Dia ya? Tapi gimana cara dapetin gadunnya?’ Belvara mengerjap seketika, saat ia sadar apa yang ia bayangkan tak lebih dari pikiran perempuan jahanam yang merusak rumah tangga perempuan lainnya.

“Mama… mama…” sura rengekan Juna yang terbangun menetralkan pikiran negatif dan kalut karena terlalu lelah menanggung beban hidup sendiri. Tak ada siapapun yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri.

Mata anak usia dua tahun itu berbinar, ketika didapatinya sekotak biskuit, dengan langkahnya yang masih gontai, Juna meraih biskuit itu, lalu memberikannya pada Belvara. “Mama… Bu…ka.”

“Anak Mama hebat, bisa ambil makanan sendiri,” puji Belvara sambil ia elus lembut kepala botak sang anak.

‘Hari ini, Aku bisa sedikit santai di rumah, tidak perlu menyusuri jalanan, karena stok makan sudah ada, tapi bagaimana dengan besok?’

Belvara menatap langit siang Ibu Kota, matahari bersinar cerah, teriknya seolah dapat membakar kulit yang telanjang.

‘Agak sorean nanti, Aku akan kembali menyusuri jalanan, biar Juna gak kepanasan Aku bawa motoran.’

Belvara yang hanya lulusan SMA dan sama sekali tidak memiliki skil lain selain menjadi seorang Ibu dan tukang ojek, mau bagaimana lagi cara ia bertahan hidup selain mengerahkan apapun yang ia bisa asal menghasilkan uang yang halal.

Andai nasibnya lebih beruntung, mungkin ia tidak akan menjadi tukang ojek sambil membawa anaknya yang masih kecil untuk ikut berkeliling.

“Nongkrong depan grand mall, siapa tahu banjir orderan, Bel.”

Sesama teman ojek onlinennya mengabari melalui pesan W******p.

Setelah ia selesai menyuapi Juna, dan matahari sudah mulai meredup, ia pun bersiap untuk kembali menyusuri jalanan, sebagai ojek online pengantar pesanan. Saat ini hanya pekerjaan itu yang bisa ia gandrungi, karena harus di sambi membawa Juna, tidak mungkin Belvara bekerja dengan Juna menunggu di rumah, jika dititipkan pun, itu sudah sangat terpaksa ia lakukan, tetapi jika terus menerus ia harus putar otak bagaimana cara membayar orang yang ia titipi Juna selama sehari penuh. Membawanya bekerja adalah pilihan terakhirnya.

Sampai di depan mall termewah di Ibu Kota, belum pun ia mematikan kendaraannya, sebuah notifikasi masuk di ponselnya, notifikasi pesanan yang mengharuskan ia segera memasuki mall mewah itu.

‘Alhamdulillah, Nak. Ibu langsung dapet orderan.’ Ia pun menurunkan Juna, mengajaknya berjalan dengan tangan yang selalu saling bertaut.

Juna selalu antusias ketika di ajak Belvara masuk mall, ia berjalan sambil berloncat-loncat kecil, khas anak kecil saat bahagia.

Masih di luar mall, ia duduk sesaat, namun mata Belvara mengamati seorang anak permpuan berambut panjang yang di kuncir dua sedang menjulurkan tangan di kolam air mancur halaman mall, sepertinya anak itu ingin meraih bunga yang jatuh ke kolam. Belvara sempat khawatir melihatnya, bagaimana jika anak itu tercebur ke dalam kolam, sepertinya kolam itu cukup dalam untuk anak usia lima tahun.

Dan kekhawatirannya benar terjadi, anak perempuan itu tercebur kedalam kolam, membuat Belvara tak berpikir panjang, ia berlari sambil menggndong Juna mendekati kolam, kemudian Juna ia turunkan terlebih dahulu dari pangkuannya sebelum ia turun mengangkat anak itu dan mendudukannya di tepi kolam.

“Kamu gak apa-apa, Nak? Dimana orang tua kamu? Kenapa kamu sendirian?” tanya Belvara, ia mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak seraya menenangkannya, dengan mengusap lembut pipinya.

anak kecil itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk Belvara.

"Tenang, ya cantik, gak apa-apa, Kamu udah aman kok." Belvara pun turut mendekapnya dan mengelus lembut punggung anak perempuan itu.

Dari arah lain terdengar pekikan memanggil-manggil nama 'Ayas', dua orang pria sedang berlarian panik, mengitari area halaman mall.

"Nama Kamu Ayas?" tanya Belvara pada anak itu.

Anak perempuan itu mengangguk pelan. Dan Belvara pun berdiri, mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar dua pria itu melihatnya bersama anak yang sedang mereka cari.

Agar lebih cepat, ia pun melangkah mendekatinya, namun baru satu langkah, pekikan dari salah satu pria itu cukup menggelegar, membuat Belvara menghentikan langkahnya, ada keraguan pada dirinya untuk menghampiri dua pria itu.

"Kamu saya tugaskan buat jaga anak Saya, kenapa bisa kecolongan pergi tanpa sepengetahuan Kamu!"

semua pasang mata tertuju pada mereka, begitu juga Belvara, ia merasakan atmosfernya menyesakkan mendengar suara itu.

"Om-om itu kayaknya lagi cari Kamu, samperin ya. Bilang sama mereka kalau kamu aman."

Ayas menggeleng, ia bergelayut di lengan Belvara, seolah merasakan kenyamanan di dekatnya.

Belvara menghela nafas, ada sesal yang ia rasakan setelah menolongnya. ‘Bajuku basah kuyup, orderan di batalin karena kelamaan Aku nolong anak ini, tapi kalau gak di tolong, bisa-bisa nyawanya lewat.' Gumamnya, sambil mengibas-ngibaskan ujung bajunya yang basah.

Seorang pria berperawakan tinggi dengan pakaian formal berlari menghampiri Belvara dan Ayas. "Kenapa anak Saya dan Kamu basah kuyup seperti ini?" tanya pria itu.

Belvara menengadah, saat mendengar suara pria yang datang menghampiri mereka, mata Belvara membola hebat ketika ia dengan jelas melihat siapa pria yang berada di hadapannya saat ini.

‘Pak Hagan?’ Mata belvara membulat, seakan lupa caranya berkedip, ketika kedua mata mereka saling menatap. Mata kecoklatan milik Hagan terlihat bercahaya di bawah sinar matahari sore itu.

Belvara menarik nafas dalam-dalam sebelum ia menjawab. "I—itu tadi... "

"Aku jatuh ke kolam itu." Ayas menimpali dengan cepat. "Tante ini yang nolongin Aku." dan menunjuk Belvara.

Kedua alis Hagan bertaut, menatap lekat pada Belvara yang basah kuyup. “Kamu…?” Hagan berpikir sejenak, ia rasa tidak asing dengan perempuan di hadapannya.

"Benar, Anda yang nolong anak Saya?” Suara itu serak dan berat, tubuh tinggi menjulang berdiri tepat di hadapan Belvara, menutupi cahaya matahari sore yang jatuh di wajahnya.

Belvara tertunduk, sorot mata Hagan yang seolah mengintimidasinya membuat tak berkutik. “Saya lihat anak Bapak mau ngambil bunga di kolam, terus jatuh, saya refleks nolong, Pak. Serius, Pak, saya cuma nolong, gak ada niatan apa-apa, Bapak bisa cek CCTV mall kalau gak percaya.”

Hagan menyeringai tipis. “Pakaian Anda basah, biasanya Anda menggunakan pakaian ukuran apa? Biar asisten Saya ambilkan baju ganti.”

"Hah?” Seolah Belvara memastikan. Indra pendengarannya pun mendadak tak berfungsi.

Hagan menghela nafas. “Baju Anda basah karena menolong anak Saya, jadi Saya bertanggung jawab mengganti pakaian Anda.” Setiap kata yang Hagan ucapkan sungguh penuh penekanan.

“Gak perlu, Pak,” ucap Ragu Belvara, sambil menarik tangan Juna mengajaknya pergi dari sana.

“Saya tidak mau berhutang budi dengan siapapun, selesaikan disini juga sekarang! Silahkan pinta apapun yang anda inginkan.”

‘Gila… bener-bener nyermin Pak Hagan ini, mentang-mentang punya kuasa.’

Belvara pun kembali menghadap penuh pada Hagan. “Saya sudah nyelametin nyawa anak Bapak, masa imbalannya cuma ganti baju," ucapnya dengan lantang dan percaya diri, meski setelahnya ia baru tersadar, yang diucapkannya baru saja adalah refleks mengikiti apa kata pikirannya.

Hagan mengikis jarak diantara mereka, membuat Belvara memundurkan langkahnya pelan. “Sebutkan, berapa yang Kamu inginkan? 10 juta? 20? 50?”

Perempuan itu menelan ludahnya sendiri, giginya bergemeletuk di dalam rongga mulut karena menahan panik agar tak nampak di hadapan Hagan.

“Kasih saya kerjaan tetap yang bisa sambil bawa anak dan juga tempat tinggal gratis.” Teramat lantang Belvara berucap, hingga menyelesaikannya dalam satu kali tarikan nafas.

Hagan merotasikan bola mata, satu ujung bibirnya terangkat, diiringi tawa sarkas menyepelekan. “Skil apa yang Kamu kuasai? Banyak pekerjaan yang bisa Saya berikan, namun Saya harus memastikan pekerjaan itu jatuh pada orang yang tepat.”

Dengan wajah masih tertunduk, Belvara berpikir dalam kebingungan. 'skil apa yang Aku kuasai?'

Hagan berdecak kesal, terlalu lama menunggu perempuan itu menjawab, hingga ia kembali angkat suara. “Karena kamu memilih menukar pakaian dengan pekerjaan, jadi datanglah besok siang ke alamat itu, untuk mendiskusikan pekerjaan.” Hagan mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya kemudian memberikannya pada Belvara.

Senang hati tangan Belvara terulur untuk meraih yang diberikan pria pemilik manik coklat dengan jambang tipis menghiasi rahang tegasnya. “Baik, Pak. Terima kasih.”

Hagan memutar tubuhnya membelakangi Belvara yang masih berdiri seolah terpaku di sana, Hagan tak peduli setelahnya, yang penting ia sudah berusaha untuk bertanggung jawab pada yang sudah menolong putrinya.

“Mama… om itu galak, Juna takut.” Rengekan Juna berhasil menyadarkan keterpakuan Belvara pada Hagan.

“Oh? Iya sayang, gak perlu takut, ya. Selama masih ada Mama."

Belvara melangkahkan kakinya perlahan sambil tertunduk, ia meratapi pada orderannya yang gagal ia selesaikan hari ini. 'ya udah lah, gak apa-apa, semoga benar—sebentar lagi Aku dapat pekerjaan lain, karena menolong anak Pak Hagan.'

Langkahnya terhenti saat seseorang dari belakang menarik bahu Belvara.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 8

    Belvara menahan nafas ketika tanpa sengaja beradu pandang, tatapan Hagan tidak sedikit pun bergeser darinya. Sorot mata pria itu terlalu tajam, terlalu serius untuk dianggap candaan.Ia langsung membuang tatapannya, kembali mengajak Ayas bermain boneka di halaman belakang mansion itu.“Tante peli, ini anak tante peli lucu sekali, Ayas jadi pengen, deh, punya adik.” Yang kemudian di cubit gemas pipi Juna oleh anak perempuan yang tak kalah menggemaskan itu.Belvara tersenyum hangat, mengusap lembut kepala Ayas.Miranti melangkahkan kakinya perlahan, menatap Belvara penuh selidik sebelum ia menyapanya. “Siapa namamu?” Belvara menoleh cepat dan sedikit terperanjat, kemudian ia menundukan kepala tanda hormat. “Saya Belvara Nyonya.”Perempuan paruh baya itu merotasikan Bola mata, dengan kedua tangan terlipat di dada, “Ini tante pelinya Ayas, Omah.” Ayas turut menimpali, seolah bangga memperkenalkan Belvara pada Neneknya.Miranti melempar senyum untuk Ayas, tetapi lain hal pada Belvara.“B

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 7

    Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak.“Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya.Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara.Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya.Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.”“Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu.Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan me

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun. Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak. ‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya. ‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’ Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang. Membuat semua perempuan yang sempat ia

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasuhnya sendiri kewalahan mengurus Ayas yang kerap tantrum, dan Hagan selalu menyalahkan sang pengasuh ketika didapati Ayas menangis, membuat setiap pengasuh Ayas mengundurkan diri walau diiming-imingi gaji fantastis. Sekilas Hagan berpikir bagaimana jika menjadikan Belvara sebagai pengasuh Ayas? Namun kembali ia urungkan ketika mengamati Belvara yang menurutnya aneh, ia takut cara berucaonya yang lancang itu menular pada Ayas yang sejak kecil sudah ditanamkan manner yang baik. “Papa… kenapa melamun?”. Suara lembut Ayas memecah lamunannya. Ia menatap sang anak lalu tersenyum. “Teman kamu sudah banyak di sekolah, Nak.” “Aku mau punya temen buat di rumah juga!” Ayas merengek manja pada

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia pun berpikir sejenak, sudah cukup oelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri.Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah Bapak bisa menyiapkan keperluan sendiri? karena setahu Aku—Pak Hagan ini seorang Duda," cukup lantang Belvara berucap, dengan tatapan nanar, tanpa merasa salah. Kedua bola mata Hagan membola dengan cepat, rahangnya turut mengeras, bagaimana bisa perempuan yang tak dikenalinya dengan lancang menyebutnya Duda, sebuah kata yang hagan benci mendengarnya. "Ibra! bawa keluar perempuan itu!" pekiknya, suara hagan cukup menggelegar di ruangannya. Juna yang sejak pertama bertemu Hagan di mall sudah merasa takut, kini anak kecil itu harus kembali melihat dan mendengar pria yang ditakutinya mengeluarkan intonasi tinggi, membuat Juna menangis kencang dengan sendirinya, Hingga Belvara pun gelagaoan untuk menenangkan sang anak. “

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 3

    Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Silahkan di ganti pakaiannya, karena tidak baik jika pakaian yang Mbak kenakan kering di badan." Perempuan itu mematung, yang ia tahu, tadi ia sudah menolak untuk berganti pakaian ketika Hagan menawarkan. lalu kenapa pria ini datang memberinya pakaian baru? Belum sempat Belvara bertanya lebih jauh padanya, pria itu sudah pergi, berjalan membelakangi Belvara. *** Plang nama yang bertuliskan Yayasan Kinantan itu terpampang megah di pinggir jalan utama Ibu Kota, gedung berwarna putih yang dihiasi ornamen klasik dengan pilar-pilar tinggi yang berdiri kokoh seperti penjaga waktu. Siapa yang tidak tertarik untuk bekerja di bawah naungan Yayasan Kinantan yang sudah berdiri puluhan tahun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status