Share

Bab 8

Penulis: Djulitas
last update Tanggal publikasi: 2026-05-11 20:36:19

Belvara menahan nafas ketika tanpa sengaja beradu pandang, tatapan Hagan tidak sedikit pun bergeser darinya. Sorot mata pria itu terlalu tajam, terlalu serius untuk dianggap candaan.

Ia langsung membuang tatapannya, kembali mengajak Ayas bermain boneka di halaman belakang mansion itu.

“Tante peli, ini anak tante peli lucu sekali, Ayas jadi pengen, deh, punya adik.” Yang kemudian di cubit gemas pipi Juna oleh anak perempuan yang tak kalah menggemaskan itu.

Belvara tersenyum hangat, mengusap lemb
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   81. Mual hebat

    Belvara menelan ludah, menatap Ayas dengan tatapan nanar dan sedikit terkejut, nafasnya masih terengal-engal karena mual. ‘Gak! Jangan sampai Aku hamil dalam situasi seperti ini.’ Sangkalnya dalam batin, ia masih menutup mulutnya dengan telapak tangan.Hagan pun datang, dengan alisnya yang sedikit bertaut, matanya menyipit sejenak seolah sedang mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Belvara.” Sapanya ketika melihat Belvara baru saja keluar dari kamar mandi.Perempuan itu meremas pakaian tepat di bagian perutnya, dan rasa tidak enak di perut kembali ia rasakan, membuatnya segera berlari lagi ke kamar mandi.“Kenaoa?” Tanya Hagan pada sang anak.Ayas menggeleng ragu. “Apa Mama hamil?”Jantungnya berdegup lebih kencang, ia melengkah segera menyusul Belvara ke kamar mandi. “Benar yang Ayas katakan?” Belvara mengusap mulutnya dengan air di wastafel kamar mandi, sejenak ia memejamkan mata menetralkan rasa mual yang kini mulai menjalar di kepala, membuatnya semakin pusing.Hagan semakin me

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   80. Maag atau hamil?

    Ayas bersembunyi di balik tubuh Belvara, memeluk pinggangnya erat-erat, an membenamkan wajahnya di punggung perempuan itu, saat masa mengerubungi kediamannya, beberapa orang yang berdemo mencoba menerobos masuk, security berjaga ketat di sana, namun banyaknya masa tidak sebanding dengan banyaknya penjagaan security kediaman mewah itu.Hagan memijat pelipisnya berulang kali, mondar-mandir tanpa arah dan tujuan, seolah mencari cara pintas dari masalah yang saat ini ia hadapi. “Semakin hari bukan semakin redup rumor itu, kenapa malah semakin melejit!” gerutunya, rahangnya terlihat kaku dengan tangan yang mengepal di samping tubuhnya.Belvara yang berada di ruang tengah bersama Hagan juga Miranti hanya bisa diam, dan terus memeluk Ayas yang sedang ketakutan, tiap kali suara keras menggema dari luar. Rasanya hari ini, Belvara sedikit kurang sehat, apa pun yang ia lihat seperti berputar tanpa henti, kendati begitu, ia harus tetap terlihat kuat dan sehat, meski wajahnya kini lebih pucat dar

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   78. Menikung

    “Sebenarnya berawal dari apa kasus ini, Mas?” tanya Belvara, sambil mengusap helaian rambutnya kebelakang. Ibra menunduk, sesekali matanya mencuri pandang pada perempuan di hadapannya. “Engh… ya gimana Mba, kalau ternyata bukti lebih meyakinkan.” Belvara terhentak, dahinya berkerut dalam, bagaimana bisa, asistennya terdengar lebih percaya pada rumor yang beredar. “Loh, Mas Ibra kan paling dekat sama Pak Hagan, harusnya tahu dong, Mas. Gak mungkin Pak Hagan begitu, tiap malam gak ada absen Pak Hagan sama Aku kecuali ĺagi haid.” “Ngapain Mba?” Tanya Ibra sok polos, “Ya… bagaimana suami istri.” “Tiap malam?” Iba meyakinkan pertanyaannya. Belvara mengangguk yakin sambil menatap Ibra dengan wajah datar. Ibra berdecak kesal, kakinya refleks menendang udara, terkekeh sarkas, menahan gelenyar di dadanya. “Pak Hagan bakal nikah sama Bu Ayana, bagaimana sama Kamu, Mba? Cuma istri siri, bisa ditinggalkan kapan saja.” Rasa kesal atas hubungan Belvara dan Hagan, membuat Ibra berujar s

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   78. Menikung

    “Sebenarnya berawal dari apa kasus ini, Mas?” tanya Belvara, sambil mengusap helaian rambutnya kebelakang.Ibra menunduk, sesekali matanya mencuri pandang pada perempuan di hadapannya. “Engh… ya gimana Mba, kalau ternyata bukti lebih meyakinkan.”Belvara terhentak, dahinya berkerut dalam, bagaimana bisa, asistennya terdengar lebih percaya pada rumor yang beredar. “Loh, Mas Ibra kan paling dekat sama Pak Hagan, harusnya tahu dong, Mas. Gak mungkin Pak Hagan begitu, tiap malam gak ada absen Pak Hagan sama Aku kecuali ĺagi haid.” “Ngapain Mba?” Tanya Ibra sok polos, “Ya… bagaimana suami istri.” “Tiap malam?” Iba meyakinkan pertanyaannya. Belvara mengangguk yakin sambil menatap Ibra dengan wajah datar.Ibra berdecak kesal, kakinya refleks menendang udara, terkekeh sarkas, menahan gelenyar di dadanya.“Pak Hagan bakal nikah sama Bu Ayana, bagaimana sama Kamu, Mba? Cuma istri siri, bisa ditinggalkan kapan saja.” Rasa kesal atas hubungan Belvara dan Hagan, membuat Ibra berujar seenak ji

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   77. Perjodohan yang menyiksa

    Masih dengan memegangi gagang pintu, Belvara berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal agar Ayana percaya. “Maksud Non Ayas, tadi kita lagi main Mama-mamaan dan Saya Mama dari boneka yang lagi di mainin Non Ayas,” jelas Belvara berdusta.Dan Ayas pun menutup mulutnya, ia sadar sudah salah memanggil Belvara di depan Ayana.Di sana terlihat Miranti pun menghampiri Ayas, dan merangkul cucunya itu. “Ayas, Kamu boleh kok panggil tante Ayan ini Mama, karena sebentar lagi juga dia akan jadi Mama Kamu.”Ayas menatap Ayana lekat-lekat, dengan wajah datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Aku udah punya Mama, Kok Oma.”Miranti tertawa sumbang. “Kamu memang belum mengerti, Sayang.”“Udah lah, Bu. tidak perlu memaksakan Ayas, nanti pun dia akan ngerti sendiri, timpal Ayana. “Tapi, Bu, setelah Aku resmi jadi istri Mas Hagan pengasuh itu biar diberhentikan saja.”“Loh, kenapa? Dia bisa bantu urus Ayas kalau Kamu repot sama kerjaan.”“Aku kurang nyaman sama dai, Bu. yang ada nanti Ayas akan mala

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   76. Kemana Hagan?

    Pintu itu pun dibuka Ayas dan anak itu sedikit mematung di ambang pintu. “Loh, Papa gak ada?”“Mungkin Papa sudah berangkat,” jawab Belvara seraya menenangkan. “Ayo ganti baju dulu.”Pintu kamar Hagan kembali Ayas tutup perlahan, bibir anak itu sedikit meruncing. “Kok, Papa berangkatnya gak pamit dulu sama Ayas?”“Ada yang perlu segera di kejakan, mungkin.” Dalam hati Belvara pun penuh tanya, kemana sebenarnya Hagan? Apa polisi membawanya saat langit bahkan masih gelap? Seperti buronan saja. Atau sebenarnya kesalahan Hagan cukup banyak? Hingga polisi berjaga saat langit masih gelap?Setelah mengganti seragam sekolahnya yang sempat ia kenakan tadi, Ayas kembali mengenakan pakaian santai rumahan, bermain slime bersama Belvara.Meski ia sedang menemani Ayas Bermain namun pikirannya seolah terus bertanya kemana Hagan? Apa iya di kantor polisi atau ada di kantor yayasan? Hingga ia menatap kosong slime yang ia remas-remas, tak mendengarkan Ayas mengoceh.“Ma, ke kantor Papa yuk.” Ajakan A

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 37

    Belvara mengetuk pintu kamar Ayas pelan, agar ia tidak bangun mengerjap karena terkejut.“Non Ayas.” Belvara memanggilnya.Masih hening, tak ada jawaban dari dalam kamar. ‘Apa Non Ayas tidur nyenyak banget, ya? Sampai ketukan pintu gak denger?”“Non?” Ia kembali memanggil.Tubuhnya berada di depan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 36

    Hagan mematung di ambang pintu, tatapannya sedikit kabur, ia tak melihat jelas Belvara di hadapannya. “Sedang apa di sini? Apa ini sudah pagi?” tanyanya dengan suara serak.“Engh… masih tengah malam, Pak.” ia menjawab dengan terbata, ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya, tangannya bergetar merem

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 34

    Hagan mendengkus, tatapanya gelap, lebih gelap dari langit yang akan turun hujan. “Ibra, kenapa Kamu lebih dulu ke sini dari Saya?”“Karena Saya ingin segera menemui Non Ayas, Pak.”“Benar? Tidak ada niat lain?”Satu alis Ibra terangkat tipis. “Bapak ini kenapa?”Belvara hanya diam, tidak menjelask

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 33

    Sampai di kantor yayasan, Hagan kembali di suguhkan dengan data keuangan yayasan yang tak sesuai pemasukan, kendati begitu, entah kenapa baginya hari ini sedikit lebih tenang dari biasanya.Namun ketenangan itu tak berlangsung lama, ketika Ibra masuk dengan tergesa menghampiri Hagan.“Pak.”“Ya, Ib

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status