Share

Bab 9

Author: Djulitas
last update publish date: 2026-05-12 09:00:46

Ibra keluar dari ruang kerja Hagan, didapati pula Belvara menggendong Juna yang tertidur menuruni tangga mension yang berbalut lantai marmer.

Ibra menoleh, suara sandal Belvara cukup nyaring beradu dengan setiap undakan tangga.

“Mba.” Sapa Ibra.

Belvara tersenyum dan mengangguk, buru-buru menghampiri Ibra.

“Pelan-pelan, Mba, Saya lihatnya takut jatuh.” Ia mengambil alih Juna dari gendongan Belvara.

“Di mana Pak Hagan? Aku mau pamit pulang, Non Ayas abis belajar langsung tidur.”

Yang sedang dib
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 10

    Ketika penghuni kediaman itu masih terlelap tidur, langit di luar pun masih gelap, Belvara sudah bangun lebih dulu, ia sadar hadirnya disini pun tak diinginkan, dengan begitu ia harus sadar diri. Ia bereskan semua pekerjaan rumah, hingga tak ada lagi tumpukan cucian piring kotor di wastafel, dan semua pekerjaan rumah lainnya, sudah selesai Belvara kerjakan. “Loh, kamu ngapain?” tanya Ibu dengan alisnya yang sedikit bertaut. “Maaf, Ibu, bukan makaud lancang, Aku cuma—.” Kalimat belvara terjeda, ibu lebih dulu menyergahnya. “Jangan lakukan lagi! Kamu tamu disini, dan ini semua bukan tugasmu. Berperilakulah selayaknya tamu, ya.” ujar Amilah, dengan intonasi rendah dan ekspresi wajah yang datar, membuat Belvara sedikit bingung, apa sebenarnya Ibu Ibra benar-benar tak menyukainya? Belvara bukan ingin menarik perhatian, melainkan hanya sebagai balas budi karena sudah diperkenankan menginap di kediamannya walau semalam. “Kembali saja tidur, langit masih gelap, sebelum Kamu kembal

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 9

    Ibra keluar dari ruang kerja Hagan, didapati pula Belvara menggendong Juna yang tertidur menuruni tangga mension yang berbalut lantai marmer.Ibra menoleh, suara sandal Belvara cukup nyaring beradu dengan setiap undakan tangga. “Mba.” Sapa Ibra.Belvara tersenyum dan mengangguk, buru-buru menghampiri Ibra.“Pelan-pelan, Mba, Saya lihatnya takut jatuh.” Ia mengambil alih Juna dari gendongan Belvara.“Di mana Pak Hagan? Aku mau pamit pulang, Non Ayas abis belajar langsung tidur.”Yang sedang dibicarakan pun keluar dari teritorinya. Tubuh besar menjulang tinggi bak titan itu melangkah menghampiri Belvara dan Ibra, dengan dahinya yang sedikit mengernyit.Hagan berdecak kasar, tatapan menjijikan itu ia layangkan. “Kalian seperti pasangan suami istri yang baru memiliki anak.” seolah pemandangan itu mengganggunya.Ibra tersenyum. “Saya cuma membantunya, Pak, kebetulan tadi Mba Belvara mau menemui Bapak buat pamit,” timpal Ibra sedikit malu-malu. Tetap menggendong Juna dengan mengelus lembut

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 8

    Belvara menahan nafas ketika tanpa sengaja beradu pandang, tatapan Hagan tidak sedikit pun bergeser darinya. Sorot mata pria itu terlalu tajam, terlalu serius untuk dianggap candaan.Ia langsung membuang tatapannya, kembali mengajak Ayas bermain boneka di halaman belakang mansion itu.“Tante peli, ini anak tante peli lucu sekali, Ayas jadi pengen, deh, punya adik.” Yang kemudian di cubit gemas pipi Juna oleh anak perempuan yang tak kalah menggemaskan itu.Belvara tersenyum hangat, mengusap lembut kepala Ayas.Miranti melangkahkan kakinya perlahan, menatap Belvara penuh selidik sebelum ia menyapanya. “Siapa namamu?” Belvara menoleh cepat dan sedikit terperanjat, kemudian ia menundukan kepala tanda hormat. “Saya Belvara Nyonya.”Perempuan paruh baya itu merotasikan Bola mata, dengan kedua tangan terlipat di dada, “Ini tante pelinya Ayas, Omah.” Ayas turut menimpali, seolah bangga memperkenalkan Belvara pada Neneknya.Miranti melempar senyum untuk Ayas, tetapi lain hal pada Belvara.“B

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 7

    Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak.“Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya.Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara.Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya.Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.”“Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu.Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan me

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun. Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak. ‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya. ‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’ Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang. Membuat semua perempuan yang sempat ia

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasuhnya sendiri kewalahan mengurus Ayas yang kerap tantrum, dan Hagan selalu menyalahkan sang pengasuh ketika didapati Ayas menangis, membuat setiap pengasuh Ayas mengundurkan diri walau diiming-imingi gaji fantastis. Sekilas Hagan berpikir bagaimana jika menjadikan Belvara sebagai pengasuh Ayas? Namun kembali ia urungkan ketika mengamati Belvara yang menurutnya aneh, ia takut cara berucaonya yang lancang itu menular pada Ayas yang sejak kecil sudah ditanamkan manner yang baik. “Papa… kenapa melamun?”. Suara lembut Ayas memecah lamunannya. Ia menatap sang anak lalu tersenyum. “Teman kamu sudah banyak di sekolah, Nak.” “Aku mau punya temen buat di rumah juga!” Ayas merengek manja pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status