Share

Bab 58

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-06-27 18:26:15

Malam kian larut ketika mobil sedan mewah milik Gery akhirnya membelah jalanan perumahan yang sepi, lalu perlahan berhenti tepat di depan pagar rumah orang tua Ana.

Sisa-sisa debaran dari dansa di restoran tadi masih membekas samar di dada Ana, meninggalkan keheningan yang nyaman tapi sarat akan ketegangan emosional yang tak kasatmata di dalam kabin mobil. Gery mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Ana. Tatapannya tetap teduh dan penuh perlindungan.

​"Terima kasih untuk makan malamnya, A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 58

    Malam kian larut ketika mobil sedan mewah milik Gery akhirnya membelah jalanan perumahan yang sepi, lalu perlahan berhenti tepat di depan pagar rumah orang tua Ana. Sisa-sisa debaran dari dansa di restoran tadi masih membekas samar di dada Ana, meninggalkan keheningan yang nyaman tapi sarat akan ketegangan emosional yang tak kasatmata di dalam kabin mobil. Gery mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Ana. Tatapannya tetap teduh dan penuh perlindungan.​"Terima kasih untuk makan malamnya, Ana. Ini malam yang sangat berkesan bagi saya," ucap Gery, suaranya rendah, memecah kesunyian malam."Saya yang harusnya berterima kasih, Pak. Bapak sudah menyiapkan semuanya dengan sangat indah. Maaf kalau saya sempat terlihat canggung tadi," ​ucap Ana dengan tersenyum tipis, merapikan tasnya dengan sedikit gugup.​"Tidak apa-apa, saya mengerti. Sekarang, istirahatlah yang cukup. Simpan tenagamu untuk besok pagi. Saya akan menjemputmu jam tujuh tepat. Kita akan hadapi sidang pertama ini bersama-

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 57

    Malam kian merambat, membawa udara sejuk yang perlahan menyelimuti sudut kota Jakarta. Sesuai dengan kesepakatan sore tadi, Ana melangkah masuk ke dalam restoran pilihan Gery di kawasan Menteng. Restoran itu bergaya kolonial klasik dengan pilar-pilar putih yang anggun dan rimbun dedaunan di pelatarannya. Suasananya begitu sunyi dan privat, jauh dari hiruk-pikuk kota yang melelahkan.​Seorang pelayan dengan ramah mengantar Ana menuju area outdoor tersembunyi di bagian belakang. Begitu tirai beludru dibuka, langkah kaki Ana seketika terhenti. Matanya membelalak kecil, menatap lurus ke arah sebuah meja bundar di tengah taman kecil yang dikelilingi pendar lentera temaram.​Di atas meja itu, kelopak bunga mawar merah ditata rapi mengelilingi lilin-lilin aromaterapi yang menguar harum maskulin bercampur vanila. Dua set alat makan perak berkilau di bawah cahaya malam. Dan di sana, di balik meja itu, Gery sudah berdiri tegak. Pria itu telah menanggalkan jas kantornya, kini hanya mengenakan

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 56

    Seminggu berlalu sejak kejadian di bandara, tapi suasana ketegangan belum sepenuhnya mereda. Hari ini, Ana memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ditemani oleh Gery, dia mendatangi kantor Raka. ​Saat pintu ruangan kerja Raka terbuka, tampak Raka sedang duduk di balik meja besarnya dengan tumpukan berkas yang berantakan. Wajahnya yang kuyu menunjukkan kelelahan yang luar biasa, terlebih saat melihat Ana masuk bersama Gery.​"Ana? Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Raka terdengar serak, dengan nada yang sarat akan frustrasi yang dia coba tutupi.​Ana tidak langsung menjawab. Dia meletakkan sebuah map putih di atas meja tepat di hadapan Raka. "Ini adalah surat panggilan sidang perceraian kita. Aku datang untuk memastikan kamu menerimanya secara langsung, Raka," ucap Ana.​Raka menatap map itu dengan tatapan yang membakar. Tangannya mengepal kuat, urat-urat di lehernya menonjol. "Kamu pikir dengan surat ini kamu bisa menghancurkanku? Kamu sudah keterlaluan, Ana! Kamu bawa orang asin

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 55

    Di tengah gema bentakan Raka yang masih menyisakan ketegangan pekat di udara Terminal 3, Gery sama sekali tidak bergeming. Dia tidak membalas provokasi murahan itu dengan amarah ragawi yang lain. Pria itu justru menurunkan pandangannya ke arah jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya, lalu sedetik kemudian, seulas senyum tipis, senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin, terukir di sudut bibirnya.​"Saya memang orang luar dalam dokumen pernikahanmu, Raka. Tapi saya adalah orang yang memegang kendali penuh atas nasibmu malam ini," ucap Gery, suaranya mengalun sangat lambat, berat, dan dipenuhi kepastian yang mutlak.​Sebelum Raka sempat mencerna arti kalimat tersebut, dari arah koridor lobi kedatangan luar yang berbatasan dengan area parkir, sayup-sayup terdengar sebuah suara melengking kecil yang teramat akrab di telinga Ana.​"Mama... Mama...!"​Suara itu mulanya tenggelam di antara deru mesin pendingin ruangan bandara dan lalu lalang manusia, tapi bagi insting seorang

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 54

    ​"Raka! Kamu sudah gila, ya? Nia itu anak kandungmu! Dia darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kamu meninggalkannya bersama orang asing hanya untuk mengancam ibunya? Bajingan kamu, Raka! Kembalikan Nia sekarang! Di mana alamatnya? Katakan padaku!" teriak Ana, suaranya melengking tinggi, pecah oleh rasa sakit yang teramat sangat. Dia maju selangkah, menunjuk wajah suaminya dengan jari yang gemetar hebat. ​Ibu Dewi yang melihat menantunya histeris, justru melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengembalikan keangkuhannya yang sempat ciut. "Heh, Ana! Jangan berteriak seperti orang kesurupan di sini! Raka itu ayahnya, dia punya hak penuh atas Nia. Kalau kamu mau anakmu kembali dengan selamat tanpa cacat, lebih baik kamu tutup mulutmu dan dengarkan apa maunya Raka!" ucap Ibu Dewi.​Raka membasahi bibirnya yang kering. Melihat Ana yang sudah berada di titik nadir keputusasaan, rasa percaya diri pria itu perlahan bangkit kembali. Dia merasa di atas angin karena memegang kartu as terbesa

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 53

    Di tengah ketegangan yang pekat dan isak tangis yang mulai mereda di ruang tamu, suasana mendadak dipecahkan oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa tapi sarat akan ketegasan.​Tok! Tok! Tok!​Ana langsung berdiri, diikuti tatapan waspada dari Pak Anton dan Ibu Sari. Begitu pintu kayu jati itu dibuka, sosok Gery berdiri di ambang pintu. Napasnya sedikit memburu, dan sepasang matanya memancarkan kilat urgensi yang amat sangat. Ponsel pintarnya masih menyala di genggaman tangan kanan.​"Ana… Tim intelijen saya baru saja mendapatkan manifest penerbangan dan sinyal ponsel Raka yang aktif di menara pemancar sekitar Tangerang. Raka, ibunya, dan Vanya... mereka sekarang berada di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3. Mereka berniat memesan tiket penerbangan domestik darurat menuju Surabaya malam ini juga," ucap Gery, suaranya yang berat mengalun cepat namun tetap terkendali.​Mendengar kata bandara, darah Ana rasanya langsung berdesir hebat. Rasa panik yang sempat padam kini membakar seluru

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 11

    Di dalam kamar yang terkunci, suara tangis Nia perlahan mereda menjadi sesenggukan kecil. Ana mengusap punggung putrinya dengan tangan yang masih bergetar. Ana melihat sekeliling kamar yang selama ini dia sebut rumah, sekarang tidak ada lagi tempat bagi harga dirinya di sini."Nia sayang, tunggu M

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 10

    Suasana di meja makan yang tadinya sunyi mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang dingin.Ibu Dewi dengan kelicikan yang dibungkus rapi dalam nada bicara keibuan, sengaja tidak membiarkan topik itu menguap. Dia tahu bahwa kelemahan terbesar Ana adalah putrinya, dan dia tidak ragu untuk mengg

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 7

    Malam kian larut saat mobil Ana perlahan memasuki pelataran rumah. Dia duduk diam di balik kemudi selama beberapa menit, membiarkan mesin mobil tetap menyala.Dia menatap map hitam di kursi penumpang, selembar kertas bertanda tangan yang telah menukar ketenangan jiwanya.​Dia menyentuh wajahnya di

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 6

    "Pak Gery, saya melakukan ini karena saya percaya bahwa Mas Raka adalah pria yang berdedikasi, dan saya percaya bahwa kerja sama ini bukan hanya soal keuntungan materi, tapi soal kepercayaan dua belah pihak." Jawab Ana dengan suaranya lembut namun memiliki ketegasan yang tertahan.Gery terdiam, jem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status