로그인Malam itu, Jakarta diguyur hujan gerimis yang membuat aroma aspal basah menguar tajam. Galang Baraka memacu mobilnya membelah kemacetan menuju sebuah kawasan kumuh di pinggiran Jakarta Utara, sebuah area yang sangat kontras dengan kemegahan Istana tempat ia berdiri seharian tadi. Di saku jasnya, terselip secarik kertas berisi alamat dari Aditya, sebuah titik terang yang ia dapatkan setelah hampir kehilangan jejak di siang hari.Galang memarkirkan mobilnya di mulut gang sempit. Ia melangkah keluar, masih mengenakan kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya dan celana kain hitam yang disetrika rapi. Sepatu pantofelnya yang mengkilap kini terpaksa menginjak genangan air kotor. Paras tampannya yang berwibawa menarik perhatian para penghuni gang, namun tatapan dingin dan garis rahangnya yang tegas membuat tak ada satu pun yang berani menyapa.Ia berhenti di depan sebuah gubuk kayu dengan atap seng berkarat. Di sana, seorang pria paruh baya sedang duduk di atas kursi p
Siang itu, aspal di kawasan silang Monas seolah mendidih. Udara Jakarta yang lembap dan polutif tidak menyurutkan ketatnya penjagaan. Hari ini adalah agenda krusial, kunjungan kenegaraan tamu dari Timur Tengah yang melibatkan konvoi panjang dan berjalan kaki di area terbuka. Sebagai ring satu, Galang Baraka berada di titik paling krusial-tepat dua langkah di belakang bahu kanan objek pengamanan.Setelan jas hitamnya menyerap panas matahari dengan rakus, namun Galang tidak bergeming. Kacamata hitam taktisnya terus memindai kerumunan massa yang dibatasi pagar betis petugas kepolisian. Di balik kacamata itu, mata elangnya bekerja tanpa henti, membedakan antara sorak-sorai warga yang antusias dengan gerak-gerik yang menyimpan ancaman.Namun, di tengah kesunyian fokusnya, sebuah guncangan hebat menghantam batinnya.Saat iring-iringan melambat di dekat gerbang masuk, mata Galang menangkap sesuatu di kejauhan, sekitar lima puluh meter di luar garis barikade. Di bawah rimbunnya pohon tanju
Cahaya matahari yang semakin terang menerobos celah tirai akhirnya berhasil menembus pertahanan tidur Galang Baraka. Kelopak matanya bergetar sesaat sebelum terbuka sempurna. Selama beberapa detik, otak pintarnya melakukan kalibrasi cepat, ia tidak berada di asrama, tidak di pos penjagaan, melainkan di kamar rawat Salwa.Namun, yang membuat jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba bukanlah alarm tugas, melainkan kesadaran bahwa ia tidak lagi sendirian di ruangan itu.Galang tersentak duduk dengan gerakan refleks seorang prajurit. Ia langsung menurunkan kakinya ke lantai, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Di hadapannya, Paman dan Bibi Salwa sedang duduk tenang sambil berbincang lirih dengan Salwa.Wajah Galang yang biasanya dingin dan tanpa ekspresi itu seketika berubah. Ada semburat merah di tulang pipinya yang tinggi. Garis rahangnya yang tegas tampak mengeras karena rasa malu yang luar biasa. Ia, seorang Paspampres yang dilatih untuk memil
Lampu-lampu koridor RS Medika mulai meredup saat jarum jam menunjukkan pukul enam pagi. Di dalam kamar rawat, suasana begitu sunyi, hanya menyisakan suara halus dari mesin pendingin ruangan dan deru napas yang teratur. Galang Baraka, sang pengawal presiden yang biasanya berdiri tegak lurus bagai pilar beton, kini tampak begitu kontras. Ia sedang meringkuk di atas ranjang tambahan yang sempit di samping tempat tidur Salwa.Tubuhnya yang semampai dan atletis tampak terlalu besar untuk ranjang lipat tersebut. Kakinya yang panjang terpaksa ditekuk, dan ia masih mengenakan kemeja dinas putih yang sudah nampak sangat kusut, jauh dari citra perfeksionis yang biasa ia tampilkan di depan Istana. Galang terlelap dalam posisi miring menghadap ranjang Salwa, seolah dalam tidurnya pun, insting pengawalannya tidak pernah mati; ia tetap menjaga "objek vital" hatinya bahkan di bawah alam sadar.Pintu kamar terbuka dengan sangat perlahan. Dua sosok paruh baya masuk dengan langkah yang diredam. Merek
Matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta, menciptakan bayangan panjang yang seolah mengejek kegelisahan di hati Galang. Operasi pengawalan tamu negara baru saja dinyatakan selesai dengan status hijau, aman terkendali. Namun, bagi Galang Baraka, misi pribadinya justru baru saja memasuki zona merah.Galang berdiri di koridor markas yang mulai sepi, masih dengan setelan jas hitamnya yang rapi meski peluh sempat membasahi kemeja dalamnya. Ia menatap layar ponselnya, menunggu kabar dari Aditya. Harapan yang tadi pagi membumbung tinggi kini terasa seperti beban berat yang menggantung di dadanya.Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Aditya. Galang segera mengangkatnya, menjauh dari kerumunan anggota Paspampres lain yang sedang bersiap pulang."Bagaimana, Dit? Sudah positif?" suara Galang rendah, namun ada nada desakan yang tak bisa ia sembunyikan.Di ujung telepon, Aditya menghela napas panjang, sebuah pertanda yang langsung membuat rahang Galang menge
Langkah kaki Galang Baraka menggema di koridor markas komando Paspampres dengan ritme yang cepat dan tegas. Pagi ini, Jakarta masih berselimut kabut tipis, namun di kepala Galang, segala sesuatunya tampak sangat benderang. Ia tidak bisa membiarkan Salwa terus tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu yang nyaris merenggut nyawanya di aspal jalanan. Bagi Galang, membiarkan orang yang ia cintai merasa tidak aman, secara fisik maupun batin, adalah sebuah kegagalan dalam tugasnya sebagai pelindung.Sebelum apel pagi dimulai, Galang menyimpang dari jalurnya menuju ruang divisi intelijen dan pemantauan. Ia mencari seseorang yang sudah lama menjadi rekan strategisnya, seorang pria bernama Aditya, yang memiliki kemampuan luar biasa dalam melacak data digital dan jaringan informasi di seluruh penjuru kota.Aditya sedang menyesap kopi hitam di depan jajaran monitor ketika Galang masuk. Melihat sosok Galang yang tampak lebih tegang dari biasanya, Aditya segera menurunkan kakinya dari meja."Bar







