Home / Mafia / Gadis Tawanan Tuan Mafia / Bab 31. Ada yang Retak

Share

Bab 31. Ada yang Retak

Author: RKamila
last update publish date: 2026-07-01 16:11:44

"Jaxon bilang kamu tidak tidur," Kieran lanjut. Ia sedang membuka laci lalu mengeluarkan botol kecil yang berisi obat. "Minum ini supaya tidak mimpi buruk lagi, kalau kamu tidak tidur maka reaksimu lambat, aset lambat sama dengan aset mati!”

Alena hanya terdiam dan mengambil botol itu. "K– kkamu… takut aku mati?"

Kieran menatapnya. "Aku takut rugi!" jawabannya selalu sama.

Namun kali ini Alena melihat, bahwa dia tidak langsung mengalihkan matanya, ia kini melihat Alena sampai membuatnya tertund
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 214. Gudang Tua

    Rambutnya telah memutih dan wajahnya terlihat lebih kurus dibandingkan terakhir kali Alena melihatnya, Alena mengenal wajah itu."Ayah…?" suara Alena hampir tidak terdengar.Tangannya gemetar lalu disusul dengan foto berikutnya yang muncul, memperlihatkan Richard sedang duduk di kursi dengan tangan terikat dan di belakangnya, berdiri seorang pria.Alena membeku karena ia mengenal pria itu."Kieran…?""Aku melihatnya,” jawab Kieran. "D– ddiaa…?".Alena tidak sanggup melanjutkan.Kieran memperhatikan foto tersebut dengan rahang mengeras, karena pria di belakang Richard bukan lah Soren, bukan Gabriel, bukan Leonard dan bukan pula Sergei.Pria itu adalah seseorang yang selama ini tidak pernah mereka curigai sama sekali, seseorang yang pernah berada sangat dekat dengan keluarga Volkov.Ponsel kembali bergetar dan sebuah pesan baru muncul. “Datang ke pabrik lama sebelum tengah malam! Datang berdua, kalau kalian membawa orang lain maka Richard akan mati!”Alena menatap Kieran. "Aku harus seg

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 213. Penghianatan Dibalik Darah

    “Karena aku tahu apa yang harus kulakukan!” Alena menoleh kepada Kieran. Kieran memahami tatapan itu tanpa kata-kata, ia bergerak cepat, hingga satu anak buah Soren diserang dari samping. Damar dan Anton juga langsung bergerak, gudang berubah menjadi kekacauan. Teriakan dan suara langkah kaki memenuhi ruangan. Kieran menerjang ke arah William, Alena berlari bersamanya. Soren berusaha untuk mundur. Namun Sergei menghadangnya. “Tidak!” Soren menatap Sergei. “Kamu berani menghalangiku?” Sergei menjawab dingin. “Aku tidak akan membiarkan anak Richard disentuh!” Gabriel pun ikut bergerak dan untuk pertama kalinya, musuh-musuh lama itu berdiri di sisi yang sama. Alena mencapai William. “Mama!” panggil William. Alena langsung memeluk putranya. “Tidak apa-apa,” William menangis di dadanya. “Papa!” Kieran datang da ia memeluk mereka berdua. “Papa di sini,” Alena memejamkan matanya dan untuk sesaat, seluruh dunia seakan menghilang. Ia hanya mendengar tangisan Wil

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 212. Bayangan yang Kembali

    “Biarkan dia menjadi ibu bagi anaknya,”William memandang ibunya dari kejauhan.“Biarkan dia mencintai dan dicintai,” suara Sergei menjadi lebih pelan. “Karena satu-satunya hal yang gagal kulindungi dalam hidupku adalah keluargaku,”Gudang itu sunyi, bahkan sangat sunyi dan Alena menangis bukan karena takut. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami ayahnya.Richard tidak menyembunyikan semua ini demi kekuasaan, tapi Richard hanya ingin putrinya hidup bahagia.Kieran memeluk Alena.Alena bersandar di dada suaminya. "Kieran…?""Ya,” jawab Kieran. "Aku ingin pulang,” pinta Alena. Kieran mengusap rambutnya.."Kita akan segera pulang,”"Tidak ada Volkov?” tanya Alena. "Ya,” jawab Kieran. "Tidak ada perang?” tanya Alena kembali. "Ya, sayang,” jawab Kieran. "Hanya kita dan William?” tanya Alena. Kieran tersenyum kecil. "Hanya kita,”Namun Sergei menggeleng pelan. "Sayangnya…,”Semua menoleh.Sergei memandang Alena. "Kalian tidak bisa pulang!”Tatapan Kieran langsung

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 211. Pewaris yang Hilang

    Gabriel menggeleng. “Tidak semudah itu,” “Kalau kamu menyentuh William…,” kata Kieran. “Dia tidak akan kusentuh!” Gabriel langsung memotong dan menunjuk William. “Karena anak itu bukan tujuanku!” Alena mengerutkan keningnya. “Lalu apa tujuanmu sebenarnya?” Gabriel menatapnya. “Kamu!” Alena melangkah maju. “Aku sudah di sini!” “Belum!” Gabriel tersenyum. “Aku ingin sesuatu yang lebih!” “Apa?” tanya Alena. “Nama Volkov,” jawab Gabriel. Alena terdiam. Gabriel kembali melanjutkan. “Di depan semua orang,” “Kamu ingin aku mengakui diriku sebagai Volkov?” tanya Alena. “Bukan sekadar mengakui!” Gabriel mendekat. “Aku ingin kamu mengambil kembali jaringan itu!” Alena menatapnya tajam. “Untuk apa?” “Karena orang yang sebenarnya berada di belakang R-09 membutuhkan pewaris,” kata Gabriel. Alena merasakan jantungnya berdegup keras. “S– ssiapa?” Gabriel tersenyum. “Sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya,” Tiba-tiba pintu besar gudang terbuka, ada seseorang

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 210. Tempat Pertama Kita Bertemu

    Hujan turun semakin deras, Alena berdiri di depan pintu ruangan rahasia, menatap Kieran yang baru saja menerima ancaman tentang William.Tangannya dingin, tapi kali ini bukan karena ketakutan melainkan karena amarah.“Tempat pertama kita bertemu…?” gumam Alena.Kieran mengangguk dan menatapnya. “Gudang lama,”Alena mengangguk.Tempat itu adalah tempat yang menyimpan awal dari segala sesuatu, tempat Kieran dulu muncul sebagai lelaki yang dingin, berbahaya, dan sulit ditebak.Tempat Alena pertama kali melihat sisi lain dirinya dan sekarang, William dibawa ke sana.“Kita berangkat sekarang,” kata Kieran.Eleanor segera menghentikannya. “Tidak!”Kieran menoleh. “Eleanor?”“Kalian tidak boleh datang dengan cara yang mereka inginkan!” kata Eleanor. Alena menatap ibunya. “Mereka membawa William, Ma,”“Aku tahu,” jawab Eleanor m“Bagaimana Mama bisa menyuruhku untuk diam?” pekik Alena. “Aku tidak menyuruhmu diam,” Eleanor menggenggam bahu putrinya. “Aku hanya menyuruhmu untuk berpikir!”Ale

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 209. Guardian Terakhir

    Damar membantu menahan pintu.Samuel yang memeriksa Leonard. “Dia masih sadar!”Kieran langsung menatap Anton. “Apa ada jalan keluar?”“Ada!” jawab Anton. “Bawa kami sekarang!” pinta Kieran. Lalu Anton membuka panel kecil yang ada di dinding, ternyata di baliknya terdapat sebuah lorong sempit. “Kita lewat sini... cepat!”Mereka segera bergerak, Kieran berjalan di belakang Alena. Tangannya tidak pernah melepaskan tangan istrinya.Di tengah lorong yang gelap itu, Alena berbisik. “Kieran?”“Ya?” jawab Kieran. “Kalau ternyata Anton berbohong… bagaimana?” tanya Alena. “Kita akan menghadapinya!” kaya Kieran. “Kalau semua orang juga berbohong?” tanya Alena. Kieran menatapnya. “Aku tidak akan meninggalkan mu,”Alena menelan air matanya. “Bagaimana kamu bisa sangat yakin?”“Karena aku tidak perlu menyembunyikan apa pun darimu!” Kieran berhenti sebentar. "Kalau aku salah, aku akan mengatakannya!”Alena tersenyum tipis. “Dan kalau aku takut?”Kieran menggenggam tangannya. “Aku akan tetap a

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 6. Bukti Pertama

    “A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 5. Malam Pertama di Penthouse

    “Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 2. Percobaan Kabur

    “Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 1. Transaksi Berhasil

    "Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status