"A-apa? Ti-tidak, Varel! Kami tidak mau taruhan!" jawab gadis-gadis itu terbata-bata. Memilih jalan aman, mereka pun buru-buru bergegas pergi, menjauh dari Varel yang menatap mereka dengan tatapan meremehkan.Varel kembali melanjutkan langkahnya. Ia menuju ke kelas yang sama dengan Zayn, walau pemuda itu tampaknya memilih mengantar Azalea lebih dahulu ke kelasnya."Zayn, aku bisa masuk sendiri. Kamu pergilah ke kelasmu," ujar Azalea canggung. Sepanjang koridor tadi mereka terus menjadi pusat perhatian, dan itu jelas karena keberadaan Zayn. Pemuda itu memang ibarat magnet yang tak pernah gagal menarik perhatian sekelilingnya.Namun, Zayn tak menghiraukan ucapan Azalea. Ia baru menghentikan langkah ketika mereka sudah tiba tepat di depan pintu kelas Azalea."Masuklah," ucap Zayn, menyunggingkan senyum tipis, senyum langka yang hampir tak pernah ia perlihatkan pada orang lain.Azalea mengangguk. Ia membalasnya dengan senyuman tak kalah manis, lalu buru-buru melangkah masuk agar Z
اقرأ المزيد