Se connecterSelamat Membaca 🫰🫰
Azalea menyambut uluran tangan Zayn, merasakan hangat jemari pemuda itu saat menuntunnya keluar dari bus. Begitu melangkah turun, embusan angin laut yang segar langsung menyapa wajah mereka. Di dermaga, kapal pesiar berukuran sedang milik keluarga Adinata sudah berlabuh anggun. Varan, Varel, dan Haikal tampak menunggu tak jauh dari dermaga utama. Kedatangan kapal megah itu disambut sorak-sorai antusias dari teman-teman sekelas Azalea yang tak sabar ingin segera memulai liburan. Sebelum rombongan benar-benar naik ke atas kapal, sebuah mobil mewah berhenti di ujung dermaga. Naura turun diantar sopirnya dan berjalan cepat setengah berlari menghampiri mereka. "Zayn!" Suara melengking itu memecah riuh angin dermaga. Zayn refleks melepas genggaman tangannya pada Azalea saat Naura menghambur memeluknya. "Tunggu aku!" panggil Naura manja. Momen itu terekam jelas oleh semua siswa di sana. Teman-teman Azalea yang semula mengira hubungan Zayn dan Azalea makin dekat, kini kemba
"Tanda hitam itu tahi lalat hidup. Kata dokter, kalau dibiarkan tanda itu akan terus membesar," Lanjut Zayn cepat. "Jadi dengan pertimbangan medis, Kakek membawaku ke rumah sakit untuk membuangnya. Fasilitas dan peralatan di rumah sakit itu sangat bagus, sebab itu bisa hilang tanpa bekas."Azalea terpaku, napasnya tertahan di dada. Seluruh teka-teki yang selama ini membingungkan akhirnya terpasang sempurna."Tapi... Naura..." Zayn menggantung kalimatnya, suaranya mendadak ragu. "Naura punya bekas luka di kening kirinya. Dia mengaku kalau dialah anak kecil yang menolongku."Azalea meyakinkan Zayn, suaranya terdengar begitu tenang namun penuh penekanan. "Sekarang kamu bisa selidiki lebih dalam dan ingat-ingat lagi di mana kamu mengalami kecelakaan itu. Jika nanti semua fakta yang kamu dapatkan sesuai dengan ceritaku tadi, berarti Naura sepenuhnya berbohong."Zayn meremas jemarinya sendiri. Pikirannya mendadak kacau. Dulu, ia bukan hanya percaya karena klaim sepihak Naura dan beka
Zayn tidak menjawab. Pemuda itu hanya mengusap lembut bekas luka di kening Azalea dengan ibu jarinya, membiarkan gadis itu berceloteh. Ia bersiap mendengarkan."Saat kecil dulu, aku tinggal bersama Bibi di Kota Gala," mulainya pelan. "Kota kecil yang sumber kehidupannya dari laut. Sebagian besar mata pencaharian mereka nelayan, dan banyak juga yang menjadi pengelola pariwisata."Azalea menatap lurus ke langit-langit ruangan, mencoba memanggil kembali potongan ingatan itu."Kota kecil itu sering disinggahi turis, letaknya berada di pinggiran pulau yang jalannya sedikit berliku. Sebelum sampai ke titik pantai, kita harus melewati perbukitan lebih dulu."Azalea menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. "Suatu hari, aku bersama teman-temanku berjalan-jalan pagi. Sangat pagi, bahkan udara masih begitu dingin dan berkabut. Ketika kami berlari-lari kecil di jalan yang menanjak, tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras. Suara itu berasal dari sebuah mobil yang mengalami kece
Di apartemen, Zayn duduk santai di sofa. Mata tajamnya terus mengawasi gerak-gerik Azalea yang sejak tadi sibuk sendiri. Ia tahu betul gadis itu hanya pura-pura berbenah dan mencari-cari kesibukan semata-mata demi menghindari interaksi dengannya.Azalea kini berdiri di depan bak cuci piring. Hanya ada satu gelas kotor di sana, tetapi ia membilasnya berulang kali, sengaja mengulur waktu sepanjang yang ia bisa.Suara langkah kaki mendekat. Sebelum Azalea sempat berbalik, Zayn sudah berdiri tepat di belakangnya. Tanpa aba-aba, sepasang lengan kekar pemuda itu melingkar erat di pinggang Azalea, memeluknya dari belakang hingga punggung gadis itu menempel rapat di dadanya.Azalea membeku, tangannya yang basah terhenti di atas kran air."Masih marah?" berbisik Zayn tepat di samping telinganya. Suaranya terdengar rendah, lembut, dan sarat akan ketulusan yang tak biasa. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?"Azalea menahan napas. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibi
Azalea yakin Naura hanya mengarang cerita. Gestur serta nada bicara Naura yang terlalu ngotot saat mengaku mengalami semua peristiwa itu terasa sangat janggal di matanya.Saat jam pulang sekolah, Zayn mendadak menghadang langkah Azalea dan memaksa ingin mengantarnya pulang. Namun, Azalea sengaja bersikap dingin dan tak acuh. Tak masalah jika Zayn berpikir ia sedang merajuk; saat ini Azalea hanya sedang malas berurusan dengannya."Lea, aku antar sampai panti," ujar Zayn sambil memajukan sebelah kakinya untuk menghalangi jalan.Azalea tak peduli. Ia menghindar lalu melewatinya begitu saja. "Tidak perlu.""Lea, aku tahu kamu masih marah—" Zayn bergerak cepat meraih pergelangan tangan Azalea.Dengan hentakan kuat, Azalea menepis genggaman itu hingga terlepas. "Jangan sentuh aku."Azalea terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Sikap acuh itu akhirnya memancing emosi Zayn. Hilang kesabaran, pemuda itu menyusul setengah berlari, menyambar tubuh Azalea, lalu membopongnya di atas bahu
Azalea kembali ke kelasnya, ia tidak menangis, hanya duduk diam sembari menenangkan diri. Namun sialnya karena ia sekelas dengan Naura, mau tak mau ia harus kembali melihat wajah memuakan itu. Naura sering kali mencuri pandang pada Azalea, memberi senyum penuh ejekkan namun Azalea memilih memalingkan wajahnya. Sepanjang pelajaran, Azalea tidak bisa fokus. Beruntung bel pulang berbunyi. Ia bisa menghela napas lega, mengemasi barang-barangnya dan bersiap pulang. "Lea." Azalea kembali menahan napas saat mendengar suara Naura lagi. Padahal ia berniat ingin menjauh. Naura sudah berdiri di samping meja Azalea dan bersedekap. "Tadi waktu kamu pergi, Zayn tetep nggak hukum aku tuh. Dia cuma bilang lain kali jangan keterlaluan, kasian kamu. Itu saja." Azalea pura-pura tak acuh. "Oh ya, Zayn juga bilang. Sekali pun kalian dekat, Zayn akan tetap memihakku. Karena apa pun alasannya Zayn dekat denganmu pada akhirnya, aku adalah salah satu wanita pilihan keluarga Adinata," ucap Naura perc
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet







