로그인Ia menyusup ke balik tirai dan merapatkan tubuhnya, memojokkan Azalea hingga punggung gadis itu membentur dinding kaca. "Z-Zayn... aku terjepit!" pekik Azalea pelan seraya menyibak sedikit kain tirai, ia mendelik menatap wajah nakal Zayn yang sengaja mengurungnya di sana. Bukannya menjauh, Zayn justru makin menghimpit tubuh Azalea. Kurungan tirai tebal itu membuat jarak di antara mereka terkikis habis, menyisakan kehangatan yang mendebarkan. Azalea bisa merasakan embusan napas Zayn menyapu permukaan kulit lehernya. Punggungnya yang menempel pada dinginnya dinding kaca terasa kontras dengan panas tubuh pemuda di hadapannya. "Zayn, geli..." bisik Azalea lirih, berusaha menahan napas. "Nanti Tante Marta curiga!" "Biar saja," sahut Zayn santai. Suaranya memberat, berbisik tepat di samping telinga Azalea. "Salah sendiri... kenapa bersembunyi di tempat sesempit ini?" Jemari Zayn terangkat, mengusap pelan pipi Azalea yang kini memerah, lalu bergerak turun mengelus dagu gadis itu h
"Ayah melakukan hal ekstrem ini, apa sudah memikirkan konsekuensinya? Bagaimana kalau Zayn sampai tahu?" Saat ada kesempatan, Marta tak segan mengajak ayahnya bicara empat mata. Bagaimanapun juga, hal ini terus membayangi pikirannya sejak kemarin. "Aku tidak habis pikir. Ayah bahkan melakukannya tanpa pertimbangan dariku atau Zayn." Marta tak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena baru mengetahui hal ini belakangan, sementara sang ayah justru melakukannya dengan bantuan Marvel. Adinata berdeham pelan. "Sudah sejak lama Ayah memikirkan ini, Marta. Hanya ini satu-satunya cara agar Ayah tenang dan tidak perlu risau lagi soal garis keturunan keluarga Adinata. Kamu pasti paham, kan?" Wajah Adinata tampak makin tegang. Ada alasan pelik yang sulit dijelaskan di balik tindakan nekat itu, tetapi yang pasti, semuanya ia lakukan demi kelangsungan nama besar keluarga Adinata. Marta menghela napas panjang. "Baiklah... Sebenarnya aku mengerti jalan pikiran Ayah. Karena sekarang
"A-apa? Ti-tidak, Varel! Kami tidak mau taruhan!" jawab gadis-gadis itu terbata-bata. Memilih jalan aman, mereka pun buru-buru bergegas pergi, menjauh dari Varel yang menatap mereka dengan tatapan meremehkan.Varel kembali melanjutkan langkahnya. Ia menuju ke kelas yang sama dengan Zayn, walau pemuda itu tampaknya memilih mengantar Azalea lebih dahulu ke kelasnya."Zayn, aku bisa masuk sendiri. Kamu pergilah ke kelasmu," ujar Azalea canggung. Sepanjang koridor tadi mereka terus menjadi pusat perhatian, dan itu jelas karena keberadaan Zayn. Pemuda itu memang ibarat magnet yang tak pernah gagal menarik perhatian sekelilingnya.Namun, Zayn tak menghiraukan ucapan Azalea. Ia baru menghentikan langkah ketika mereka sudah tiba tepat di depan pintu kelas Azalea."Masuklah," ucap Zayn, menyunggingkan senyum tipis, senyum langka yang hampir tak pernah ia perlihatkan pada orang lain.Azalea mengangguk. Ia membalasnya dengan senyuman tak kalah manis, lalu buru-buru melangkah masuk agar Z
Azalea membulatkan matanya. Tindakan Zayn yang begitu tiba-tiba sungguh di luar dugaannya."Z-Zayn, kamu tidak boleh begitu! Kalau mau susu bilang saja, nanti aku buatkan," ucap Azalea terbata-bata. Ia berusaha menahan debar dada yang kian liar seraya memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata Zayn lebih lama."Kenapa tidak boleh? Kalau aku tetap mau, bagaimana?" Zayn makin terang-terangan menunjuk tepi gelas bekas kecupan bibir mereka. "Lagipula, ini namanya ciuman tidak langsung."Azalea yang polos kebingungan, tak tahu apakah Zayn sedang bicara serius atau sekadar meledeknya."Kenapa kamu melakukan itu?" lirih Azalea makin salah tingkah. Bagaimanapun, suasana romantis dan intim seperti ini terasa sangat canggung baginya yang bahkan tidak pernah berpacaran.Otaknya mendadak buntu, tak sanggup merangkai kata selain pertanyaan polos itu."Karena kita tidak bisa melakukannya secara langsung. Atau... kamu mau mencobanya sekarang?" tanya Zayn dengan kerlingan nakal penuh tantanga
Zayn tidak langsung menjawab. Ia menutup bagasi mobilnya terlebih dahulu sebelum berpaling menatap Marta dengan raut tenang."Ia akan tinggal di tempat yang aman," jawab Zayn singkat. "Kakek pasti sudah menunggumu di dalam, Tante. Sebaiknya Tante masuk dan istirahat."Marta menatap keponakannya itu beberapa saat, lalu matanya beralih melirik Azalea yang duduk terdiam di dalam mobil melalui kaca jendela. Ada guratan penyesalan dan lelah di wajah Marta, tetapi gengsinya tak membiarkan wanita itu bertanya lebih jauh."Jaga dia baik-baik," gumam Marta pelan, hampir tak terdengar. "Pria seperti Marvel... jika sudah tersudut, ia bisa nekat melakukan apa saja.""Aku tahu," sahut Zayn datar.Tanpa menunggu tanggapan lagi dari tantenya, Zayn memutar langkah dan kembali ke kursi kemudi. Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka berdua dari suasana tegang yang baru saja berlalu.Mobil perlahan melaju meninggalkan kediaman Adinata. Di dalam kabin yang hening, Zayn melirik Azalea dari s
Kedatangan Zayn dan Azalea seolah menjadi angin segar bagi Martha. Wanita itu sudah berada di titik puncak muak dan lelah dengan suaminya. Ia hanya ingin berpisah dan pergi sejauh mungkin.Sekarang segalanya sudah hancur. Rahasia besar yang selama ini setengah mati ia tutupi pun akhirnya terbongkar. Martha meratapi nasibnya, ia merasa tak ubahnya wanita bodoh dan mandul yang mau-maunya diperdaya oleh pria brengsek seperti Marvel."Jangan ikut campur kamu, Zayn!" bentak Marvel murka.Melihat biang masalah berdiri di hadapannya, Marvel tak lagi mampu menahan emosi. Rasanya ia ingin menghabisi Zayn saat itu juga. Pemuda itulah yang sudah lancang membantu Azalea hingga merusak seluruh hidupnya. Bahkan sekarang, Alya mendekam di dalam sel tahanan akibat laporan balik yang diajukan Azalea."Zayn, untung kamu datang..." Martha tak sanggup menyembunyikan rasa leganya. Jika tadi tidak ada Zayn, ia yakin Marvel sudah menyeret dan menyekapnya, atau bahkan membunuhnya. Pria gila itu kerap ke
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A







