Aurelia mencubit pelan pinggang Nagendra. “Jangan gitu.”Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil bersama. Tawa itu pelan, lelah, tapi tulus. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke kamar, suasana terasa sedikit lebih ringan.Nagendra menarik selimut yang tersampir di pojok ranjang, menutupi tubuh mereka berdua. Aurelia menempel lebih dekat, kaki saling berjalin. Kelelahan akhirnya datang menghampiri.“Tidur,” bisik Nagendra. “Gue jagain.”Aurelia mengangguk, memejamkan mata. “Kamu juga tidur.”“Iya. Bentar lagi.”Tapi Nagendra tidak langsung tidur. Ia tetap terjaga beberapa saat, menatap wajah Aurelia yang sudah terlelap di dadanya. Jemarinya mengusap rambut gadis itu pelan.Di dalam dadanya, rasa bersalah masih ada. Janji yang dilanggar masih terasa berat. Tapi di samping rasa itu, ada kelegaan yang nyata dan sesuatu yang lebih hangat, yang belum berani ia sebutkan namanya.Perlahan, matanya ikut terpejam.Malam terus berjalan. Di luar kamar, mansion Himawan tenang. Di ruang ba
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-06 Mehr lesen