"Ah, tapi kalau bapak amnesia, nanti dia malah lupa nomor rekening pribadi, gue juga yang repot," gumam Lexi lagi sambil terkekeh pelan. Dia mematikan layar ponsel bututnya, membiarkan kamarnya kembali tenggelam dalam remang cahaya lampu tidur. Membayangkan wajah Abraham yang selalu memerah menahan tensi darah tingginya, setiap kali berdebat dengannya di telepon, entah kenapa membuat rasa kantuk Lexi perlahan datang. Dia menarik selimut tipisnya sebatas dada, membiarkan tubuhnya beristirahat total malam ini. Lexi benar-benar butuh mengumpulkan tenaga penuh, tanpa tahu kalau esok hari, bukan cuma sang bapak yang harus dia hadapi, melainkan iblis betina berwajah malaikat dari keluarga Permana yang siap mencabik-cabik ketenangannya. .... Keesokan paginya, tepat pukul delapan pagi. Suasana di dalam rumah yang seharusnya tenang di hari libur, justru sudah diguncang oleh badai keributan yang memekakkan telinga. Suara dentingan sendok beradu dengan piring kaca, bersahut-bersahu
Read more