MasukSecara terang-terangan, di depan Aston, Alena seakan mengupas wajah Liana. Dokter cantik itu mengepalkan tangan erat, rasanya tak terima Alena menghinanya sebegitu rendah. Dada Liana sudah berdetak kuat, napasnya memburu ingin membalas, tapi ia juga tak ingin menunjukan sikap arogannya kepada Aston.Tiba-tiba saja Alena mundur perlahan hingga tubuhnya menghantam tubuh keras sang suami sambil memegang pelipisnya. Sontak saja Aston langsung panik, perhatiannya untuk sang Istri membuat Liana berada di tampar berkali-kali."Sayang, kamu nggak papa?""Em, sepertinya sedikit pusing, Kak," adu Alena begitu lembut. Kedua tangannya memegang dada besar Aston sambil melirik Liana yang sudah kebakaran jenggot."Kita pulang saja," putus Aston. Alena mengangguk patuh, tiba-tiba saja Aston menggendong tubuh Istrinya, berjalan dengan sikap acuh melewati Liana begitu saja.Hah!"Lihat saja, Alena. Kamu boleh menang untuk saat ini. Tapi kita lihat
"Dokter Aston... Kebetulan sekali anda datang. Anda pasti tidak asing lagi 'kan dengan Dokter Liana? Kebetulan surat pengajuan pindah praktiknya telah di setujui pihak rumah sakit," kata Direktur sambil mengembangkan senyum terbaik.Aston membeku. Pikirannya bergolak. Bagaimana bisa Liana sampai di tugaskan di rumah sakit yang sama dengannya lagi? Sedangkan, kepulangannya saja ia tak tahu. Namun demi tugas, Aston harus bersilap profesional.Sementara Alena masih mengapit lengan suaminya dengan tenang. Aston menatapnya sekilas lalu kembali menatap sang Direktur rumah sakit. "Oh, kami hanya mengenal sebatas rekan kerja di rumah sakit, Pak Dirga."Liana tersenyum lembut juga ikut menimpali ucapan Aston. "Terimakasih atas kepercayaan rumah sakit kepada saya, Pak Dirga. Mungkin untuk masalah lebih lanjut, saya akan menanyakannya kepada Dokter Aston, karena memang beliau Dokter lama disini.""Wah, sangat bagus, Dokter Liana. Terimakasih banyak sudah bek
Alena tak mempedulikan, ia memilih menatap Danu dengan serius. "Pak Danu, saya datang kesini karena mau mengundurkan diri sebagai brand anda. Saya meminta maaf sebesar-besarnya, karena tidak bisa melanjutkan kerja sama ini. Saya juga meminta maaf jika selama saya menjadi mode banyak salah kata dan sikap."Danu hanya mampu melipat kedua bibirnya dalam. Ia tahu betul apa yang membuat Alena membuat keputusan resign lebih cepat. Sementara Leon sudah mengepalkan tangan. Ia yakin, pasti keputusan Alena karena ulah dari Aston. Pasti Aston yang telah mengancam Alena."Baik, Alena....""Tidak bisa begitu, Alena!" potong Leon. Suasana semakin memanas, apalagi Aston sudah menatapnya tajam dengan rahang menggeretak. "Jika kamu resign begitu saja, maka perusahaan akan rugi! Sementara untuk iklan, Perusahaan sudah mengeluarkan puluhan milyar untuk kolaborasi."Danu mencengkram pundak Leon, namun dihempas begitu saja. Alena maju dengan wajah tidak terima. Tatap
Alena hendak merundukan bedannya, namuan Aston menahan lengan sang Istri. Kepalanya bergeleng kecil, serta tatapan matanya meminta sang Istri untuk tetap pada tempatnya."Sayang... Tidak semua hal harus kita toleransi hanya dengan kalimat 'sesama manusia'. Anak ini memiliki orang tua, dan saya tidak ingin membuka celah bagi orang luar masuk begitu saja dalam ruamh tangga kita. Apalagi sikap Ibunya tadi sudah keterlaluan." Aston sangat tegas, karena berawalan masalah kecil seperti ini yang bisa membawa kehancuran rumah tangganya. Dan Aston rasa, semua yang terjadi sangat janggal.Alena cukup menatap anak kecil tadi sekilas, sementara Aston merunduk, melepaskan tangan anak kecil itu lalu segera menarik Istrinya melanjutkan jalan mereka."Papa... Hua...." Anak kecil bernama Billy tadi menangis.Wanita yang mengaku sebagai teman Aston tadi menghampiri putranya. "Hai, Billy... Sudah jangan nangis. Akting kita gagal."Bocah tadi hanya mengerjab
Pagi itu juga, Aston mengajak Alena untuk mendatangi kantor sipil untuk mengurus peresmian pernikahan mereka. Keduanya membara perlengkapan surat, dan akan di proses dalam waktu dua hari kerja. Setelah urusan mereka selesai, Aston mengajak Istrinya ke pusat perbelanjaan, karena memang sudah lama sekali Aston tidak me time berdua dengan sang Istri.Mobil Aston baru tiba. Ia turun lebih dulu, membukakan pintu sang Istri, dan Alena turun dengan begitu elegantnya. Dalam balutan dress pendek bewarna biru langit, sangat serasi dengan kemeja pendek Aston bewarna yang sama. Aston mengenakan bawahan celana putih matching dengan sepatunya.Alena yang biasanya keluar menggunakan masker dan kacamata karena menghindari fansnya, kini berani keluar dengan penampilan elegant dan wajah cerah. Namun tak banyak pula orang-orang yang membicarakan hubungan mereka. Karena para khalayak cukup tahu jika Aston adalah Kakaknya Tama.Di saat Aston menggandeng Alena untuk di ajaknya
Suasana rumah mendadak pecah oleh senyum bahagia seorang ibu yang sudah bertemu putranya kembali dalam keadaan sehat. Semuanya duduk di ruang tamu, sedikit membuka cerita untuk membahas masalah peresmian pernikahan Aston dan Alena.Bu Syanas duduk di samping Tama, menatap Aston yang duduk bersama sang istri dengan serius. "Oh ya, Aston... Apa kamu sudah punya rencana untuk meresmikan pernikahan kalian?"Aston saling tatap Alena sejenak. Aston membiarkan sang Istri menjawab terlebih dulu. "Dalam waktu dekat ini, Bu. Tapi sepertinya, setelah Alena bicarakan sama Kak Aston, lebih baik pernikahan kita di resmikan ke kantor Pengadilan Agama saja. Mengingat banyak orang yang tidak menyukai hubungan kita, jadi Alena dan Kak Aston mencegah hal yang tidak di inginkan.""Nah... Aku setuju sama Mas Aston dan Alena, Ma," sahut Tama sambil menatap Bu Syanas. "Kemaren aku datangi kantor Bajingan itu. Muak banget melihat kegilaannya." Tama dengan serius menatap Alena dan
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se







