تسجيل الدخولAston terdiam sejenak. Ia sangat memperhatikan dari segi intonasi bicara, tekanan pada setiap kata yang terlontar. Ucapan pria misterius itu membuatnya mencengkram setir kuat, menatap tajam ke depan, hingga rahang keras itu menggeretak dengan sendiri. "BEDEBAH!!! Jika kamu memang pria, tunjukan siapa dirimu yang sebenarnya. Jangan hanya berani bersembunyi dibalik handphone saja!" Sentak Aston menggebu. Hahaha... Suara pria di sebrang tadi pecah oleh tawa beratnya. "Aku selalu muncul, Aston. Bagaimana kamu masih tidak mengenaliku, sementara aku selalu ada dimana-mana." "Tidak usah berbelit-belit! Orang pengecut seperti kamu hanya berani bersembunyi dibawah ketiak. Tapi aku tidak akan tinggal diam saja. Aku akan terus cari siapa pun kamu sampai ke ujung dunia sekalipun!" Tekan Aston kembali. "Hahaha... Aston, Aston! Kamu memang pria yang bodoh! Kamu hanya membesarkan egomu tanpa bisa berpikir secara rasiona
Aston sudah sangat antusias menatap Bi Umi. Sementara dari belakang, belum sepenuhnya tiba di gerbang - Bi Ida datang dengan lipatan dahi tipis. Melihat Aston tiba-tiba membuat wanita 40 tahun itu membekap mulutnya. Ia berhenti di tengah halaman, spontan menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan dan bergegas masuk. "Gawat ini, jangan sampai Bu Lusy sama Den Mike tahu. Aku harus memberitahu Non Alena." Di dalam, keluarg besar itu baru saja bangkit dari duduknya setelah selesai sarapan bersama. Alena belum sepenuhnya pergi, begitu Mama Lusy dan sang putra yang terkejut dengan kedatangan Bi Ida secara tergesa. Semuanya saling mengernyitkan dahi kecuali Mike. Pria itu mulai meninggalkan meja makan sembari menatap gawainya menuju lantai dua. "Kenapa, Da?" Tegur Mama Lusy. "Em ini, Bu...." Bi Ida menatap Nona mudanya - mengkode sekilas, tapi Alena hanya mengendikan bahu dengan lemparan mata penuh
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya, Aston! Intinya hanya satu... Saya hanya ingin melihat hidupku... HANFUR!" Tut! Setelah panggilan terputus secara sepihak oleh sosok misterius tadi. Jantung Aston masih bergemuruh hebat. Ia mencoba kembali menghubungi nomor pria tadi, tapi panggilan itu sudah di luar jangkauan. Hal itu semakin membuat kemarahannya membuncah. Arghhh... Bedebah!!! Teriaknya sambil membanting gawainya dibataa jok samping. Sebelum bertemu Alena ia harus semaksimal mungkin menetralkan emosinya terlebih dulu. Setelah menarik napas dan sedikit tenang, ia mulai melajukan kembali mobilnya. Dua pria dibalik pakaian hitam, segala bentuk penyerangan, suntikan bius, hingga berakhirlah dirinya di atas ranjang dengan Rania. Semua itu berputar seperti kaset rusak yang hampir memutuskan saraf motoriknya. Beberapa kali itu ia memukul kuat setirnya, melampiaskan emosional yang hampir melumpuhkan hatinya.
Tidak hanya Rania yang merasa frustasi dengan kejadian malam itu. Aston yang masih berusaha tenang, berpikir secara nalar, siapa orang yang sudah menjebaknya sebegitu kotor, memastikan dirinya jatuh sejatuh-jatuhhnya, dan membuat hubungannya dengan Alena retak sampai tak terkira. Aston bangkit, ia mencari ponselnya di atas nakas, namun ponselnya itu tidak ada disana. Tapi disana Aston menemukan selembar kertas, dan di atasnya tedapat sebuah kunci mobil yang tak lain kunci miliknya sendiri. Dahi padat itu mengrnyit, sampai membuat kedua alisnya menjuling penuh tanya. Begitu kertas tadi sudah ia gapai, Aston berdiri menjauh ke arah dinding kaca membentang. Pandangannya menghujam kertas tadi yang terdapat sebuah kalimat 'LOSER' di tengah-tengah kertas. Wajah Aston berubah bias, menggeretak, bahkan kini kertas tadi sudah teremat kuat dalam genggamannya. "BRENGSEK!" Aston membant
Jeritan itu membuat Alena menarik rambutnya sendiri. Bahu tegapnya luruh, pandangannya jatuh menghujam lantai marmer, pantulan air matanya membuat ruangan itu semakin terasa hening tanpa suara. Drttt Gawai dalam tas itu bergetar. Alena mengusap air matanya, merogoh gawainya tadi. Dalam layar yang tertera, nama 'Tama' muncul tanpa dirinya inginkan. Entah apa yang pria itu mau, hingga harus menggangguku aktivitas malamnya. "Ada apa?" Ia tak ingin bebrasa basi. "Alena, saya cuma mau tanya... Apa Mas Aston malam ini sama kamu? Ini sudah hampir tengah malam tapi dia belum ada pulang," tanyanya. Suara Tama terdengar menahan resah, setibanya ia pulang dinas siang tadi, rumah sudah sepi. Bi Arum hanya bilang, jika Aston tengah keluar makan malam dengan mantan Istrinya. "Kamu salah jika mengira Kak Aston bersamaku. Lebih baik tanyakan dia pada mantan kekasihn
Alena mengangkat kepalanya, Danu pun reflek menoleh ke arah samping. Disana, Mike mulai berjalan mendekat, dahinya mengernyit tipis, masalah apa lagi yang membuat Alena menangis terisak. Kilatan mata Mike penuh tanda tanya besar. Danu bangkit, sudut matanya mengajak Mike berbicara menyingkir sejenak. "Kenapa malah di Hotel? Mana Aston? Apa yang terjadi?" Mike menatap temannya itu dengan antusias. Sebagai sang Kakak, ia sangat menyayangkan lagi-lagi melihat wajah sembab Alena kesekian kalinya. Danu tidak ingin memperkeruh keadaan, ataupun menambah rasa benci Mike ke Aston semakin parah. Sebagai seorang pemimpin, ia ingin bersikap profesional. Ia juga belum mendengar penjelasan dari mulut Aston: apa yang terjadi sebenarnya. Ia tepuk bahu Mike sejenak. "Ada kesalahpahaman saja. Selesai meeting, aku melihat mobil Aston terparkir di sebrang mobilku. Aku tanyakan sama Alena, siapa tahu Aston memang datang ke
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah







