“Besok jangan telat lagi ya, Jo,” ujar Aris, nada suaranya tegas mengingatkan.Di kubikel kerja, Aris melipat gulungan cetak biru di atas meja lalu menatap Jovita dengan raut wajah serius, terlihat professional dan mengayomi sebagai mentor.“Tidak ada gunanya kamu bela-belain lembur sampai malam kalau paginya diawali dengan tidak disiplin. Di Vastu Chandra, manajemen waktu itu nomor satu.”Jovita menunduk dalam, meremas jemarinya yang mendadak dingin.“Iya, Mas. Maaf, saya akan berusaha nggak ulangi lagi.”Dalam hati, Jovita merutuk habis-habisan. Ia menyalahkan Raymond yang telah mengurungnya di kamar hotel hingga tak bisa memanfaatkan waktu pagi ini.Tapi, saat ingatan tentang bagaimana pria matang itu menyentuhnya dan bagaimana ia meringkuk di dada bidang Raymond melintas di benaknya, Jovita tidak bisa berbohong. Sepasang pipinya seketika merona merah, memancarkan semburat hangat yang untungnya tertutup oleh helai rambutnya yang menjuntai.Aris yang tidak menyadari pergolakan batin
Read more