“Dylan, makasih ya udah mau datang,” ucap Viola lembut, nadanya sengaja dilembutkan, mengemis perhatian. “Aku beneran nggak nyangka kamu bakal langsung ke sini.”Viola memajukan tubuhnya sedikit, mencoba bersandar pada bantal yang ditumpuk, berharap pemuda itu akan duduk di tepi ranjangnya dan menggenggam tangannya dengan mesra.Dylan yang berdiri satu meter di samping brankar hanya tersenyum tipis, senyum formal yang terasa berjarak. Bukannya mendekat atau menanyakan bagaimana kondisi tubuh Viola pasca insiden mengerikan itu, Dylan justru melirik jam tangan digital di pergelangan kirinya.“Ternyata kondisimu tidak semenakutkan seperti yang dikabarkan.” Suara Dylan datar, tanpa kepedulianPemuda itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang kosong, seolah mencari sesuatu yang sudah tidak ada di sana.“Oh ya, tadi Om Ray bilang... bibimu mau datang, kan? Kira-kira jam berapa sampai?”Pertanyaan itu seketika membuat senyum di bibir Viola membeku. Ia menelan ludah, berusaha m
Read more