LOGINBi Siti terduduk lemas di tepi ranjang kamarnya. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, sementara dadanya terasa sesak oleh himpitan rasa kecewa yang luar biasa berat.Air mata menetes membasahi pipinya yang mulai dihiasi keriput. Ia merasa seluruh wejangan dan peringatan yang ia sampaikan selama ini diabaikan begitu saja, bahkan seperti dianggap lelucon oleh Jovita.“Jojo...” Suara Bi Siti gemetar menahan tangis yang pecah.“Bibi sudah menganggap kamu seperti anak Bibi sendiri, tapi kenapa kamu malah berbuat seperti ini?”Bi Siti mengusap air matanya kasar, dadanya kian bergemuruh hebat.“Tuan Raymond juga... Bibi begitu menghormati Tuan. Tuan orang berpendidikan, orang terpandang... Tapi tega-teganya kalian berbuat tidak senonoh seperti itu?” Perempuan parih baya itu merasa kepercayaannya diinjak-injak begitu tega.“Duh Gusti... Selama ini Bibi malah ikut menyembunyikan mereka tanpa sadar. Bibi tidak tahu mereka ini statusnya apa, cuma kumpul kebo atau bagaimana... Kenapa Bibi harus
“Vio... Papa menghubungi kamu akhir-akhir ini?” Felisa mencoba memancing informasi tentang mantan suaminya.Di balik meja makan granit yang megah, Felisa duduk berhadapan dengan putri tunggalnya, sambil memoles mentega ke atas rotinya. Dia melirik Viola yang sibuk mengaduk serealnya.Felisa sebenarnya sudah tidak betah berlama-lama berada di rumah Raymond. Terlalu melelahkan baginya untuk terus bersandiwara pura-pura menjadi ibu yang penuh kasih di hadapan Viola.Di rumah mewah ini, Felisa hanya bisa menumpang makan dan tidur, sementara kebutuhan finansial pribadinya yang lain sama sekali tak terpenuhi.Sebagai wanita yang terbiasa hidup mewah, Felisa harus memutar otak mencari uang. Di dekat putrinya, ia tak bisa berkomunikasi dengan leluasa setiap kali ada ‘pelanggan’ atau klien yang menghubunginya. Ia tetap harus menjaga citra sebagai ibu yang baik di mata Viola.“Iya, Ma.” Viola mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuknya. “Papa lagi di Singapura ada urusan bisnis
“Kamu suka?”Di atas ranjang yang masih berantakan, Raymond menopang tubunya dengan satu tangan, menatap wajah Jovita yang merona hangat di sampingnya. Pria itu menyunggingkan senyum lembut yang hanya dia berikan untuk orang yang dia sayang.Jovita tidak segera menjawab, masih tertegun. Matanya menatap kotak perhiasan kecil berbahan beludru hitam yang kini terbuka di atas pangkuannya. Di dalamnya, sebuah cincin berlian berkilau begitu indah menagkap pendar cahaya lampu kamar.“Bagus sekali, Om...” Akhirnya Jovita bersuara, lirih hampir berbisik karena terpukau. “Pasti mahal banget, ya?”Raymond terkekeh pelan. “Sangat pantas untukmu.”Dengan gerakan perlahan dan lembut, Raymond mengambil cincin itu dari kotaknya, lalu menyusupkan lingkarannya ke jari manis tangan kanan Jovita. Cincin itu terpasang sangat pas, seolah memang diciptakan khusus untuk jemari lentik sang istri.Raymond mengangkat tangan Jovita, lalu melabuhkan sebuah kecupan hangat dan lama di punggung tangannya.Jovita men
Raymond terlihat segar dengan kaus kasual dan celana santai, melangkah turun menuju area dapur. Suara langkah kakinya menyapa Bi Siti yang sedang sibuk merapikan meja dapur.“Bi, sarapan sudah siap?”Bi Siti yang sedang membelakangi meja langsung tersentak kaget. Perempuan paruh baya itu membalikkan badan dengan mata membelalak, memegang dadanya yang terkejut.“Eh, Tuan Raymond!” Bi Siti tampak heran, karena dia tidak mengetahui kedatangan Raymond. “Kapan Tuan datang? Perasaan sampai malam belum ada.”“Tadi malam, Bi,” jawab Raymond santai sambil menarik salah satu kursi di meja makan.Bi Siti mengerutkan kening, mencoba mengeledah ingatannya.“Lho, kok Jojo nggak ada ngabari Bibi ya kalau Tuan sudah pulang? Mana ini sudah mau siang, malah belum turun-turun juga...”Raymond berdehem pelan untuk menutupi senyum tipis yang nyaris terukir di bibirnya.“Mungkin capek, Bi. Tadi malam dia lembur mengerjakan tugas sampai larut sekali,” ujar Raymond membela istri kecilnya dengan nada tenang d
Dengan perlahan, Raymond melepaskan ikatan tubuhnya dari sang istri. Jovita sempat melenguh pelan karena rasa kehilangan kehangatan, namun dengan sigap Raymond segera menariknya kembali ke dalam dekapan. Pria itu membalikkan tubuhnya sehingga kepala Jovita bersandar nyaman di atas dada bidangnya.Mereka berbaring dalam keheningan yang intim dan menenangkan selama beberapa saat. Raymond mengusap punggung mulus Jovita dengan gerakan melingkar yang lembut, sesekali mendaratkan kecupan hangat di pelipis, pipi, dan bibir istrinya. Jovita merasa begitu aman, hangat, dan terlindungi berada di dalam pelukan kokoh tersebut.Namun, usapan lembut itu perlahan mengalami perubahan. Jemari Raymond yang semula membelai punggung turun menuju pinggul Jovita, meremasnya halus. Jovita dapat merasakan gelombang hasrat suaminya yang kembali menyala dan mengeras di bawah perutnya.“Om...” gumam Jovita setengah protes, setengah menggoda.“Kalau dekat kamu otomatis begini,” bisik Raymond serak di telinganya.
Dengan napas yang mulai memburu, Raymond mengangkat tubuh Jovita dengan sangat mudah. Kedua tangan besarnya menopang tubuh istrinya yang ramping, sementara kaki Jovita refleks melingkar di pinggang tegas Raymond.Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang liar dan intens, lidah saling menari, mengecap, dan menuntut lebih.Jovita mengerang pelan di dalam pagutan Raymond, tangannya mencengkeram bahu pria itu seolah takut terjatuh, meski ia tahu Raymond tak akan melepaskannya.Tanpa memutus ciuman, Raymond melangkah menuju ranjang king-size di kamar mereka. Dengan lembut, ia merebahkan tubuh Jovita.Tubuh mereka tak pernah terpisah, Raymond langsung menindih, bibirnya masih melumat bibir Jovita yang sudah membengkak karena ciuman panas tadi.Tangan Raymond mulai bergerak. Dari pinggang, naik ke punggung, lalu merayap ke depan. Ia meremas dada Jovita dengan penuh nafsu, jempolnya menyapu puncak yang sudah mengeras. Jovita menggeliat, napasnya tersengal.“Om... ah...”“Kamu milikku malam ini,”
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







