LOGINRoberto menarik laci meja kerjanya, tersimpan sebuah foto lama berbingkai kayu. Foto itu menampilkan keluarga kecil Roberto di masa lalu—dirinya, almarhum istri pertamanya, dan seorang anak laki-laki yang kala itu masih berusia sekitar enam tahun.Dengan tangan bergetar, Roberto merengkuh foto tersebut dan meletakkannya di dada. Matanya berkaca-kaca menatap senyum mendiang istrinya.“Maafkan aku... maafkan aku karena telah merusak impian yang kita bangun bersama,” bisik Roberto lirih dengan suara serak. “Aku berjanji, aku akan mengembalikan seluruh modal dan hasil kerja keras yang pernah kau berikan... hanya kepada anak kita.”Saat Roberto hendak mengembalikan bingkai foto itu ke dalam laci, ponsel di atas mejanya mendadak berdering nyaring.Roberto melirik layar. Begitu melihat nama Raymond tertera di sana, senyum tipis sempat mengembang mengira anak laki-lakinya ingin menyapa sang ayah.Begitu tombol hijau digeser dan panggilan terhubung, suara dingin dan tajam Raymond langsung meny
Tiba di apartemen, Raymond langsung membimbing Jovita menuju tempat tidur, memastikan istrinya berbaring dengan nyaman sebelum merogoh ponsel di sakunya dan melangkah sedikit menjauh ke balkon.Raymond mengusap wajahnya yang lelah, lalu menghubungi Viola.“Vio...” ucap Raymond begitu sambungan telepon terhubung. “Malam ini papa nggak bisa pulang. Ada beberapa urusan mendadak yang harus Papa selesaikan.”Dari seberang telepon, Viola terdengar kecewa tapi bisa memaklumi. “Ya udah nggak apa-apa. Sebenarnya ada banyak hal yang sebenarnya aku mau ngobrol dengan papa sebagai persiapan bekerja di Chandra Group besok.”“Maafkan Papa, Vio... Untuk masalah yang satu ini, Papa benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Mungkin Papa baru bisa pulang ke rumah menjelang hari wisudamu nanti,” ucap Raymond penuh penyesalan.Setelah diam sejenak, Viola akhirnya menghela napas pasrah. “Oke, Pa.”Setelah sambungan telepon terputus, Jovita yang duduk di sampingnya menatap Raymond dengan raut wajah prihatin.
Raymond berlari kencang menyusuri lorong rumah sakit dengan napas memburu dan wajah panik. Begitu mendorong pintu area UGD, matanya menangkap sosok Jovita yang terbaring lemah di atas brankar, sedang diperiksa oleh Dokter Amira.Raymond bergegas mendekat, meraih tangan dingin istrinya. “Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Raymond dengan suara bergetar panik.Dokter Amira menoleh lalu memberikan senyum menenangkan. “Syukurlah, tidak ada yang serius, Pak Raymond. Sepertinya Mbak Jovita hanya mengalami syok berat yang memicu kram perut. Tapi secara keseluruhan, kondisi janin dan ibunya baik-baik saja.”Dokter Amira terdiam sejenak, tampak ragu sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada lebih serius, “Tapi... mungkin ada sesuatu yang baru saja terjadi atau mengganggu pikiran Mbak Jovita. Sebaiknya segera dibicarakan dan diselesaikan baik-baik, Pak. Stres pada trimester pertama sangat riskan, kita harus memastikan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.”Raymond mengangguk cepat d
Jovita meremas jemari di atas pangkuan, tampak bingung harus memanggil pria paruh baya di hadapannya dengan sebutan apa.Haruskah ia memanggil ‘Opa’ seperti yang biasa ia lakukan saat bersama Viola?Atau memanggil “Papa”? Jovita diselimuti ketakutan besar jika dirinya sama sekali belum diterima sebagai menantu di keluarga Chandra.Setelah membasahi bibir yang mendadak kering, Jovita akhirnya memilih opsi paling aman.“Ada... ada yang perlu dibicarakan, Pak?” panggil Jovita dengan sebutan 'Pak' pilihan kata yang terasa netral, formal, sekaligus menjaga jarak aman.Ya, kini Jovita dan Roberto kini sudah duduk berhadapan di sebuah restoran yang cukup privat di dalam mall. Dalam suasana yang canggung.Tanpa basa-basi, Roberto merogoh saku jasnya lalu meluncurkan selembar cek yang sudah tertulis angka fantastis di atas meja, tepat ke hadapan Jovita.“Tinggalkan Raymond,” ucap Roberto dingin dan penuh penekanan.Jovita tersentak kaget. Secara refleks, jemarinya langsung bergerak mengusap pe
Keluar dari gedung Vastu Chandra, Raymond melangkah menuju mobil SUV miliknya. Begitu duduk di balik kemudi, ia merogoh ponsel dan mengetik pesan untuk Jovita.@Raymond Chandra[Bagaimana baby hari ini? sudah mulai nendang belum]Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar.@Jovita Anindita[Sabar Om]Raymond terkekeh pelan membaca balasan singkat itu. Meski tahu pergerakan bayinya belum terasa, tapi dia memang sudah tidak sabar.@Raymond Chandra[Aku temui Viola dulu, jadi terlambat balik apartemen]@Jovita Anindita[Ya Om]@Raymond Chandra[Mau dibawain oleh-oleh apa nanti malam@Jovita Anindita[Terserah]Raymond menghembuskan napas kasar seraya mengusap wajahnya kasar. Kata 'terserah' dari perempuan selalu menjadi teka-teki paling rumit yang menguras otak pria mana pun, tak peduli seberapa hebat pria itu di luar sana.Sambil memutar otak memikirkan kuliner apa yang sanggup meluluhkan kata 'terserah' sang istri, Raymond menjalankan mobilnya melintasi jalanan kota menuju rumah utama.S
“Kau gila, Fel!” Mata Julian membelalak menatap perempuan di hadapannya.‘Perempuan ini iblis,’ bisik suara di dalam kepala Julian, berulang kali menegaskan rasa takut yang mendadak mencengkeram dadanya.Dulu, sosok Felisa di matanya adalah paduan sempurna dari pesona ragawi, kehangatan keibuan, dan kasih sayang yang menenangkan. Namun, ingatan itu kini berubah menjadi bayangan yang mengerikan.Tanpa beban Felisa melenyapkan bayi dalam kandungannya berulang kali, demi mempertahankan bentuk tubuh dan ambisi gaya hidupnya. Ditambah lagi, perempuan itu memanfaatkan kepolosan Viola sebagai alat mengeruk kemewahan, membuat Julian merinding.Otak Julian menjerit ketakutan, ajakan nekat yang baru lolos dari mulut Felisa bukan sekadar gertakan. Dia tahu pasti, iblis berwajah cantik di depannya ini tidak akan ragu menumpahkan darah siapa pun demi targetnya, dan giliran siapa selanjutnya jika rencana ini gagal? Bisa jadi dirinya sendiri.Felisa justru tertawa sinis melihat kepanikan di wajah Ju
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki







