“Benar-benar ceroboh!”Alih-alih menunjukkan rasa khawatir dengan lembut, tangan Raiden justru beberapa kali menoyor kepala adiknya tanpa ampun. Nada suaranya terdengar penuh kekesalan sejak tadi malam.Ruang rawat rumah sakit itu langsung dipenuhi suara protes Tian.“Aduh, sakit kak!” gerutunya sambil memegangi kepala.Namun Raiden sama sekali tidak merasa iba.Bagaimana ia bisa tenang?Semalam, saat pikirannya sedang kacau membahas masa depan bersama Hagia di dermaga, ponselnya tiba-tiba bergetar keras. Bukan suara Tian yang terdengar di seberang sana, melainkan pihak rumah sakit.Adiknya mengalami kecelakaan.Dan yang lebih membuat Raiden emosi, Tian menabrak seorang kakek pedagang kaki lima hingga gerobaknya rusak berantakan.Sampai sekarang pun Raiden masih belum mengerti bagaimana Tian bisa melakukan hal sebodoh itu.“Musibah itu tidak ada yang pernah tahu kak...” Tian menggerutu pelan.“Kau selalu menyalahkanku.”“Karena kau ceroboh!” bentak Raiden tanpa menahan emosi.“Dan asa
Read more