เข้าสู่ระบบ“Miri? Kenapa sembunyi? Ayo sini!” panggil Chef Dom di antara kerumunan anak buahnya.
Sang pemilik nama pura-pura tak mendengar dan memilih sembunyi. Miri mengecilkan diri di antara tubuh koleganya yang lebih tinggi. Namun, tak ada yang luput dari mata si kepala koki.
“Aku melihatmu, Nona Calon Pengantin! Berhenti sembunyi di balik mixer. Ayo, kita raya
“Dua set A, satu set B, Grandma’s Sbrisolona, dan canolli!” seru Chef Dom dari meja depan.“Si, va bene!” balas para koki bersahutan.Para koki di dapur Nero&Bianco dengan gesit bergerak, berkonsentrasi penuh di stasiun kerja masing-masing. Setiap tangan bekerja di antara panasnya kompor. Meja kerja berlapis metal sibuk menata salad di piring, memadukan bahan demi menyajikan menu terbaik.Teriakan dan perintah saling bersahut-sahutan. Denting panci dan wajan menyambar kompor, sutilnya beradu dan mengaduk.“Next order! Dua set A, prawn scampi dan tiga ‘Cupido’! Ayo, semangat! Malam ini baru saja dimulai!” lanjut Chef Dom berapi-api.Setiap kepala mencoba untuk tetap fokus, mengerjakan setiap pesanan satu per satu. Kualitas rasa dan tampilan dipastikan tak menurun, Chef Dom me
“Di malam setelah kamu mengundangku ke dapur, lalu aku hendak mengantarmu pulang. Kamu dengar, kan, apa yang aku bilang?” ulang Arman.Miri meremas ujung kemejanya.Pertanyaan itu terlontar juga. Bila Miri pura-pura tidak tahu, ia akan menyakiti Arman dua kali. Bila ia mengiyakan, Miri tak tahu harus menjawab apa.“Aku … mau minta maaf,” sambung Arman kemudian.Miri tertegun, tak terpikirkan respon itu akan keluar dari Arman. Dari seberang telepon, suara yang biasanya terdengar ceria dan penuh percaya diri, kini lirih seperti gemerisik daun. Berayun lembut, tapi tak kehilangan pegangannya.“Minta maaf? Kenapa?” ulang Miri.“Karena … aku sangat egois. Aku cuma memikirkan perasaanku sendiri, padahal kamu baru aja melewati banyak hal. Seharusnya aku bis
“Nih, ngobrol langsung aja sama orangnya,” ucap Kemal santai.“Kemal! Kamu gila, ya?! Aku nggak mau ngomong sama dia!” seru Miri dengan mata melotot.Giginya rapat, menahan diri agar teriakannya tak lepas bebas mengganggu pengunjung lain. Di sisi Kemal, Jihan melemparkan pandangan bak menonton pertandingan tenis.Kemal terus mengulurkan ponselnya ke arah Miri, yang menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Nada monoton khas panggilan masuk berhenti berdering. Sayup-sayup, Miri mendengar suara Arman menjawab panggilan itu.“Halo?” ucapnya.Semua orang di meja diam.Kemal menarik ponselnya kembali, menempelkan gawai ke sisi wajahnya.“Halo, Man. Sori ganggu malem-malem. Miri mau ngomong,” ucapnya singkat, lalu kembali menyodorkan ponsel itu ke Miri.Sahabatnya mendecakkan lidah, tak punya kuasa untuk melawan. Dengan berat hati, Miri pun menerima ponsel Kemal.“Halo? Kenapa, Miri? Kamu di mana?” tanya Arman, suaranya terdengar panik.“Hei, Arman. Aku lagi di luar, makan-makan bareng Jihan dan K
“Kalian udah siap? Yuk, berangkat!” ajak Jihan, meminjamkan satu helmnya pada Miri.“Kamu biar dibonceng Jihan aja. Rumah kalian juga searah,” Kemal mengingatkan, menarik resleting jaketnya hingga menutupi leher.Seperti usul Jihan, Miri dan Kemal ikut berkumpul di pintu belakang restoran selepas jam kerja. Lampu jalanan kota menyoroti sepanjang jalan, menemani perjalanan mereka yang mulai lengang. Sampai di lokasi, hampir saja mereka tidak mendapat meja.Kemal memesankan makanan, tiga porsi nasi goreng kambing berukuran besar—yang jika masih sisa, dengan senang hati mereka bawa pulang untuk dimakan lagi besok. Sambil menunggu pesanan, ketiganya menikmati jeruk panas.“Hangatnya … di umur segini, kenapa, ya, kita lebih suka yang sederhana? Waktu masih muda, kayaknya kita masih kuat nyobain minuman manis dengan nama teraneh di menu,” ujar Jihan, setelah menyesap minumannya.“Karena umur segini, lutut dan punggung udah mulai pegal linu. Kena gula dan minyak dikit, besok pagi langsung pe
“Wah, selamat, ya, Sayang! Mama tahu kamu pasti bisa!” seru Bu Sara di telepon.Ia berseru riang, turut merayakan keberhasilan Miri. Di seberang telepon, sang putri pun tak ada dapat berhenti tersenyum. Di sela waktu istirahatnya, Miri menelepon Bu Sara. Ia duduk di teras depan pintu dapur, sambil menikmati sebungkus roti lapis.“Makasih, Ma,” balas Miri riang.“Berarti, menu buatan Kamal nggak lolos?” tanya Bu Sara.Miri bergumam, mengingat wajah santai Kemal yang menerima kegagalannya. Padahal menu kue jeruk buatannya juga menjadi favorit Chef Dom. Kurangnya nuansa liburan dan tema keluarga membuat si kepala koki mempertimbangkan kembali.“Iya, Ma. Tapi dia terlihat santai aja. Kayaknya dia juga nggak akan sempat merasa sedih karena bakal sibuk sepanjang malam Natal,” ungkap Miri.Bu Sara memaklumi.“Berarti … kalau Mama reservasi tempat, bisa nyicipin dessert buatanmu, dong?” tanya Bu Sara antusias.“Iya, Ma. Nanti aku cek di meja resepsionis supaya kalian dapat meja yang istimewa.
“Terima kasih udah nganterin aku, Arman. Kamu hati-hati pulangnya,” ucap Miri, melonggarkan sabuk pengaman.“Semoga sukses untuk kompetisi menunya, Miri,” balas Arman, menyunggingkan senyum.Miri membuka pintu mobil, melangkah keluar. Ia berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan ke arah Arman. Laju mobil perlahan meningkat, meninggalkan Miri berdiri di pintu depan area gedung apartemennya seorang diri.Ketika mobil itu telah jauh, Miri berjalan cepat. Setengah berlari, ia menuju unit apartemennya. Miri mengatur napas saat menaiki tangga, tak ada tanda-tanda langkahnya melambat. Tangannya gemetar saat menekan kode pintu.“Ayo, Miri,” gumamnya pada diri sendiri.Pintunya melagu. Miri me
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







