"Sean, beri salam dulu pada Kakek, Nak." Suara Alina terdengar amat lembut, berusaha mengikis ketakutan yang mendadak menyelimuti tubuh mungil di sampingnya. Dengan jemari yang masih bergetar, Sean perlahan maju satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan pria paruh baya bertongkat kayu mahoni itu. "S-Selamat pagi... Kakek..." cicit Sean teramat lirih. Richard Dirgantara menatap cucu tunggalnya sejenak. Sorot matanya yang tadinya amat dingin perlahan melunak tipis. Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Sean dengan gerakan kaku namun sarat akan rasa sayang yang terpendam. "Selamat pagi, Cucuku. Masuklah ke dalam kelas sekarang, belajar yang rajin," ujar Richard dengan suara berat dan berwibawa. "Iya, Kakek..." sahut Sean cepat. Bocah itu melirik Alina sekilas, mendapatkan anggukan menenangkan dari pengasuhnya, lalu melangkah setengah berlari menuju pintu area sekolah. Setelah sosok mungil Sean menghilang di balik koridor, Richard me
最後更新 : 2026-08-08 閱讀更多