"Tante Alina, kenapa kepalanya diusap-usap terus dari tadi?" Alina tersentak kecil, memelankan gerakannya yang sedang menata kotak bekal plastik bernuansa biru di atas meja makan. Ia mengulas senyum manis, berusaha menutupi gurat lelah dan mata sembabnya yang sempat tertangkap oleh netra polos bocah laki-laki di hadapannya. "Ah... tidak apa-apa, Sean," tutur Alina lembut, mengacak pelan rambut Sean yang sudah terikat rapi dengan seragam sekolahnya. "Tante Alina hanya sedikit pusing saja pagi ini. Tapi Tante sudah buatkan bekal makanan kesukaan Sean, lho." "Wah, beneran?" Mata Sean berbinar gembira, menyambar kotak bekalnya dengan penuh antusias. Namun, lirikan matanya mendadak berpindah pada kotak bekal lain yang berukuran lebih besar di sampingnya. "Kalau yang hitam itu buat siapa, Tante?" "Itu... untuk Papa," bisik Alina pelan. Suaranya mendadak mencicit canggung. Langkah kaki tegap yang berderap dari arah tangga membuat suasana dapur seketika membeku. Reynard berjalan mend
最後更新 : 2026-08-12 閱讀更多