Setelah makan malam selesai aku dan Seno kembali ke kamar yang sama, pada titik ini aku harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalku untuk menahan rasa risih dan muak yang bergolak dalam dada.Seno berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang terbuat dari sutra, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, lalu melangkah santai menuju aku yang sedang duduk di tepi ranjang.Dia duduk tepat di sebelahku.“Kamu pasti kangen mau nyentuh aku, kan?” godanya yang terdengar menyebalkan di telingaku. Itu bahkan bukan pertanyaan, tapi lebih seperti pernyataan yang sudah dia yakini sebagai kebenaran mutlak.“I-iya, Mas,” jawabku terpaksa.Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Seno meraih tanganku dan mengarahkannya masuk ke dalam kerah piyamanya yang sengaja tidak di kancing, menempelkan telapak tanganku ke dadanya.“Selama ini kamu pasti pengen banget nyentuh dadaku yang berotot ini,” katanya bangga, mengangkat dagunya pongah seperti sedang memamerkan sesuatu yang luar biasa.Aku m
Last Updated : 2026-08-10 Read more