Teilen

209. Jaga Jarak

last update Veröffentlichungsdatum: 19.10.2026 15:13:46
“Lo nggak salah lihat kan? Jenan mana mungkin kenal Rani.”

Itu komentar Jeevi setelah dia mendengar cerita Brina. Sedikit tidak percaya, tapi Brina juga bukan orang yang suka mengada-ngada.

“Mata gue masih awas. Objeknya lumayan menarik makanya gue bisa ingat jelas.”

Jeevi menyeruput kopinya dengan pikiran berkecamuk, bingung, dan bertanya-tanya. Terbersit keinginan untuk segera menghubungi Jenan, tapi ragu.

“Lo juga ngeselin!” seru Brina tiba-tiba, membuat tatap menerawang Jeevi jatuh padany
Yuli F. Riyadi

Gaes, Belum aku edit, tulis on the spot. Nanti aku edit lagi kalo ada waktu longgar hari ini.

| 12
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (5)
goodnovel comment avatar
Anies
makasih kak Yuli.. fix ini sih pak Ibram ada sesuatu deh ke Jepi
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Terima kasih kakakuuuh...
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Tengkyuuuh say
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Hello, Husband!   210. Dosbim Paling Sadis

    Selama beberapa detik Ibram memandang Jeevi. Wajah mahasiswanya itu mirip saat enam tahun lalu. Ketika kasus Danendra Priyadi sedang heboh-hebohnya. Jika mahasiswa lain, mungkin dirinya akan melempar sesuatu saat mengajar dan mendapati mahasiswanya melamun, atau minimal menegur secara langsung. Tapi ini Jeevi, Ibram tidak akan membiarkan kejadian dulu terulang lagi. Setidaknya, dia harus bisa melihat Jeevi menyelesaikan kuliah. “Ada yang mengganggu pikiran kamu?” tanya Pak Ibram. Jeevi menggeleng. Masalahnya saat ini tidak ada hubungannya dengan kuliah. “Tidak ada, Pak. Cuma saya lagi tidak enak badan.” Tidak langsung menjawab, pria manis itu menatap Jeevi lamat-lamat. “Ini tidak akan ganggu kuliah kamu kan?” Saat Jeevi menggeleng, Ibram menghela napas. “Saya harap kuliah kamu yang sekarang bisa sampai akhir, Jeevi. Kamu sangat berpotensi. Apapun masalah kamu yang ganggu kuliah, kamu bisa mendiskusikannya dengan saya. Jangan bikin saya menyesal kedua kali karena tidak bisa memper

  • Hello, Husband!   209. Jaga Jarak

    “Lo nggak salah lihat kan? Jenan mana mungkin kenal Rani.” Itu komentar Jeevi setelah dia mendengar cerita Brina. Sedikit tidak percaya, tapi Brina juga bukan orang yang suka mengada-ngada. “Mata gue masih awas. Objeknya lumayan menarik makanya gue bisa ingat jelas.”Jeevi menyeruput kopinya dengan pikiran berkecamuk, bingung, dan bertanya-tanya. Terbersit keinginan untuk segera menghubungi Jenan, tapi ragu. “Lo juga ngeselin!” seru Brina tiba-tiba, membuat tatap menerawang Jeevi jatuh padanya. “Gue kenapa?”“Kenapa lo nggak bilang kalau keguguran itu bukan kecelakaan biasa? Rafli bilang si pembokat ini yang nuker obat lo.”Kembali Jeevi meletakkan cangkir. “Gue juga mikir keguguran itu karena kelalaian gue. Kandungan gue juga lemah, Bri. Dari awal udah sering flek. Jadi, gue pikir emang ya udah takdir. Tapi ternyata, yaah mau gimana lagi. Gue udah ikhlas kok. Jadi gue pikir nggak ada yang perlu diceritakan lagi.” Brina segera berpindah tempat duduk ke samping Jeevi. Memeluk bahu

  • Hello, Husband!   208. Intro

    “Najis banget, jadi lo nyuruh gue ke sini cuma buat dengerin kalian berdua pacaran?”“Ya ampun, Bocah. Itu namanya intro. Kali aja lo bisa ambil hikmah.”“Hikmah apaan paling ujung-ujungnya lo kimpoy, ucluk, ngew—”“Hus!” Brina melirik kiri-kanan, seolah mengamati keadaan sebelum tawanya pecah. Dia menoyor pelan kepala Jeevi. “Filter omongan lo, Bego. Kita lagi di tempat umum.”“Ya abis lo ngeselin. To the point aja.” “Bentar dulu dong ah.” Brina menarik napas panjang beberapa kali. Kemudian lanjut cerita.**Selama sekitar sepuluh menit Brina merasakan pijatan tangan Rafli di bahunya. Nyaman dan memiliki efek menggetarkan. Tangan pria memang lebih kuat dan mantap. Keduanya berada dalam satu bathtub. Dengan posisi Brina agak ke tengah, memberi ruang untuk Rafli duduk di belakang. “Mau tambahan lagi?” tanya Rafli mendekat tepat ke samping telinga Brina. “Rugi kalau nggak nambah.”“Oke, tapi ini beda treatment ya.”Meski mengernyit, Brina hanya mengangguk. Apapun asal badannya tidak

  • Hello, Husband!   207. Mau Coba?

    Hanya ada beberapa pengunjung saat Jeevi memasuki kafe yang berada di lantai lobi gedung perkantoran Sagara Grup. Alih-alih langsung ke kampus, Jeevi mampir ke kafe tempat biasa dirinya bertemu Brina. Setelah memesan menu latte dan beberapa pastry, Jeevi memilih tempat duduk di sudut kafe yang agak jauh dari area meja bar. Dia akan menunggu Brina di sana yang sudah membuatnya sampai ke sini. Jeevi menengok pergelangan tangan. Masih ada satu jam sebelum kelas dimulai. Brina menelepon tepat ketika Jeevi berhasil mengumpulkan semua nyawanya setelah bangun tidur. “Kita harus ketemu. Ada hal yang mau gue omongin ke lo. Penting.”“Nggak bisa ngomong sekarang aja, Bri?” “Nggak bisa. Gue nggak mau lo overthinking terus pingsan. Laki lo pasti udah cabut kan?”“Kok lo tau?”“Taulah. Soalnya Rafli juga buru-buru cabut abis dapat kabar itu.”Deg! Jantung Jeevi seolah berhenti berdetak. Ini pasti kabar tentang Rani. “Oke kita ketemu di mana?”“Kafe biasa aja. Jangan jauh-jauh ntar gue repot. G

  • Hello, Husband!   206. Tangki Cinta

    Dalam tidur Jeevi tersenyum geli. Dia tahu saat ini suaminya sedang misuh-misuh sambil mengenakan kimononya. “Aku nggak keberatan kalau kamu mau telanjang, Mas,” ujar wanita itu dengan mata setengah terbuka, lalu terkekeh kecil. “Tapi di depanku aja.” Wima mendengus seraya mengikat kimono setelah mengenakan celana panjang. “Jika yang di luar Rafli, aku pastikan bakal potong gajinya kalau nggak bawa kabar penting.” “Jangan jadi bos kejam seperti Om Luke.” Wima menghela napas panjang sebelum keluar kamar. “Kamu lanjut tidur saja,” ujarnya lantas bergegas turun lantaran orang di luar masih saja menekan bel. Wima sempat melihat orang di balik pintu itu melalui layar. Ternyata benar Rafli. Dia menggeram jengkel seraya bergegas menuju pintu. “Kamu tahu saya baru tidur pukul tiga pagi?” tegur Wima saat dirinya membuka pintu dan langsung berhadapan dengan asistennya itu. Tidak ada raut bersalah, yang Wima lihat Rafli justru memasang wajah tegang. “Maafkan saya, Pak Wima. Tapi in

  • Hello, Husband!   205. Abi-Ummi

    “Kalau ini besar pasti lucu.”“Ngeledek.”“Serius, Sayang. Kamu cantik, imut, ditambah perutnya besar, pasti makin—”“Kayak badut,” potong Jeevi cepat. Membuat Wima kontan tertawa. “Nggak. Kamu tetap cantik. Apalagi kalau lagi hamil anakku.” Pandangan Wima kembali turun ke perut Jeevi yang terbuka. Tangannya mengelus pelan. “Isi lagi ya. Biar Abi ada temennya.”“Hah?! Apa tadi?” “Apa?”“Kamu tadi sebut diri kamu apa?”“Uhm, abi?” Seketika tawa Jeevi pecah. Dia ngakak sambil guling-guling di atas kasur. Membuat Wima mengernyit heran. “Emang salah?”Jeevi berhenti tertawa sejenak. “Kalau kamu abi, aku ummi dong!” “Boleh.”Jeevi kembali ngakak brutal, kali ini sambil nungging-nungging. Membuat Wima ngeri sendiri. “Sayang, jangan aneh-aneh deh.”“Kamu yang aneh, Mas!” Jeevi mengusap sudut matanya yang basah. Perutnya sakit karena tertawa. “Muka kita.” Dia menuding dirinya dan suaminya. “Nggak cocok banget dipanggil abi-ummi.”“Siapa bilang? Cocok aja kok.”“Umumnya orang Indo pada um

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status